{"id":323563,"date":"2025-03-17T12:38:48","date_gmt":"2025-03-17T05:38:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=323563"},"modified":"2025-03-17T12:38:48","modified_gmt":"2025-03-17T05:38:48","slug":"mustahil-hidup-tentram-di-lingkungan-pecinta-sound-horeg-banyuwangi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mustahil-hidup-tentram-di-lingkungan-pecinta-sound-horeg-banyuwangi\/","title":{"rendered":"Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, mengharapkan hidup tentram di lingkungan pecinta sound horeg Banyuwangi adalah kemustahilan. Sama mustahilnya seperti saya mempercayai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengungkap-asal-mula-konspirasi-adolf-hitler-mati-di-garut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hitler mati di Garut<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">SOUND HOREG adalah salah satu suara yang paling saya benci di dunia ini. Bersaing dengan suara janji-janji manis calon pejabat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, tulisan tentang sound horeg sudah berulang kali tayang di Mojok. Saya paham, mungkin kalian sedikit bosan. Namun, sebagai orang asli Banyuwangi (gudangnya sound horeg), saya berani memastikan tulisan ini menyuguhkan sudut pandang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, saya mohon pastikan bahwa di sekitar kalian tidak ada para pecinta sound horeg. Baik mas-mas Jawa yang rambutnya merah miranda atau mereka yang setiap bikin story IG selalu menjedag-jedugkan lagu. Karena kemungkinan besar, mereka yang akan saya bahas tuntas di tulisan ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sound horeg di Banyuwangi adalah bentuk perusakan pendengaran secara massal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi manusia pada umumnya, hobi adalah hal yang paling memakan waktu. Namun statement ini kurang tepat jika disandingkan pada pelaku sound horeg Banyuwangi. Karena selain memakan waktu, hobi ini juga memakan korban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk gambarannya, pendengaran manusia itu normalnya hanya tahan terhadap suara yang kerasnya mencapai 85 desibel (dB). Sementara itu, kerasnya sound horeg itu bisa mencapai <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/tren\/read\/2024\/08\/15\/074500965\/bahaya-suara-sound-horeg-capai-135-desibel-telinga-bisa-tuli-permanen?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">135 desibel (dB)<\/a>. Terlebih di Banyuwangi, para pegiat sound ini tak kenal waktu. Layaknya pengangguran yang menemukan hobi barunya sebagai semangat hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan di beberapa momen spesial seperti hari kemerdekaan dan takbiran, mereka bisa menghidupkan sound horeg selama 3 hari nonstop! Bayangkan 3 hari, rek! Modyarr! Ini jatuhnya bukan lagi festival, tapi pembudegan massal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perusakan fasilitas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin kalian juga sudah tahu bahwa pelaku sound horeg Banyuwangi seperti remaja yang kesusahan mengontrol gairahnya. Beberapa fasilitas umum dan pribadi seperti jembatan, tugu, bahkan genteng rumah warga mereka rusak demi kepuasan sesaat mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah semua kerusakannya diganti? Sayangnya, tidak semua. Ada beberapa fasilitas rumah warga yang pada akhirnya dibenahi dengan uang pribadi karena mereka nggak tahu mau minta tanggung jawab ke siapa. Atau lebih tepatnya, nggak ada yang mau bertanggung jawab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, beberapa pelaku sound horeg juga ada yang mau ganti rugi. Bukan karena rasa tanggung jawab, tapi karena rasa takut setelah diancam akan dilaporkan ke polisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana, dari sini udah mulai panas terhadap kelakuan mereka? Tenang, saya akan kasih yang ultimate.<\/span><\/p>\n<h2><b>Salah kaprah yang menjadi sebuah kebenaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parahnya, masyarakat umum meyakini kesalahan ini sehingga malah menjadi kebenaran. Sound horeg Banyuwangi seperti sudah menjadi kebutuhan pokok bagi beberapa masyarakat. Kini, kalian gak perlu susah-susah nunggu event lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sound horeg ini biasanya mereka putar setiap pagi dan menjelang Magrib. Memang ukurannya lebih kecil, tapi tingkat mengganggunya sama besarnya, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penolakan? Sudah pasti ada. Pelarangan? Juga ada. Tapi anehnya, sound horeg masih tetap ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking besarnya pengaruh sound horeg Banyuwangi, sampai-sampai seni menyakiti telinga ini bisa mempengaruhi peta politik. Hal itu terjadi di Pilbup Banyuwangi 2025. yang mana, masyarakat pro sound horeg berbondong-bondong mendukung pasangan penantang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, petahana secara terang-terangan membuat pembatasan terhadap aktivitas sound horeg. Sesuai namanya, sound ini emang bener-bener bikin horeg.<\/span><\/p>\n<h2><b>Faktor ekonomi sound horeg Banyuwangi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sektor ekonomi, sound horeg Banyuwangi juga memainkan perannya. Untuk gambarannya, setiap dinyalakan, masyarakat bisa berjoget di atasnya dengan membayar uang berkisar Rp500 hingga jutaan rupiah. Tentu ini sangat berpengaruh bagi kabupaten yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banyuwangi-tempat-pensiun-paling-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMR-nya kembang kempis<\/a> seperti Banyuwangi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sektor keamanan, juga bukan tak ada masalah. Festival horeg sendiri seringkali berakhir ricuh. Baik karena diberhentikan oleh aparat atau oleh warga sekitar yang merasa terganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, jika melihat beberapa gangguan tadi, terutama kesehatan, jangankan berharap bisa hidup tentram di lingkungan pecinta sound horeg. Jika berharap hidup sehat saja, jawabannya masih Insyaallah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rino Andreanto<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-nonton-langsung-sound-horeg-bikin-pusing-mual\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Nonton Langsung Sound Horeg: Bikin Pusing, Mual, dan Telinga Berdengung Berhari-Hari<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sangat mustahil kamu bisa hidup dengan tentram di tengah lingkungan pecintan sound horeg Banyuwangi. Telinga pecah, hidup tidak nyaman.<\/p>\n","protected":false},"author":2370,"featured_media":323727,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6216,2501,20079,27854,27855],"class_list":["post-323563","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyuwangi","tag-jawa-timur","tag-sound-horeg","tag-sound-horeg-banyuwangi","tag-sound-horeg-jawa-timur"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323563","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2370"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=323563"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323563\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/323727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=323563"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=323563"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=323563"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}