{"id":322291,"date":"2025-03-11T08:00:30","date_gmt":"2025-03-11T01:00:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=322291"},"modified":"2025-03-12T16:47:18","modified_gmt":"2025-03-12T09:47:18","slug":"susanti-upin-ipin-kurang-serius-merepresentasikan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susanti-upin-ipin-kurang-serius-merepresentasikan-indonesia\/","title":{"rendered":"Karakter Susanti Sebenarnya Bukti Serial \u201cUpin Ipin\u201d Kurang Serius Merepresentasikan Indonesia dalam Cerita\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sepakat kalau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">merupakan tayangan anak-anak asal Malaysia yang sangat bagus. Selalu ada pesan moral yang terselip di setiap episodenya. Belum lagi keberagaman suku, budaya, dan kondisi sosial yang berusaha ditampilkan melalui karakter-karakternya. Tidak terkecuali keberagaman asal negara yang ditunjukkan melalui karakter Susanti yang berasal dari Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diceritakan, Susanti adalah anak asal Indonesia yang pindah ke Malaysia karena mengikuti pekerjaan orang tuanya. Tidak diceritakan secara detail pekerjaan orang tuanya, tapi salah satu tulisan Mojok pernah membahasnya dengan judul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menebak-pekerjaan-orang-tua-susanti-upin-ipin-di-malaysia\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menebak Pekerjaan Orang <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">T<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">ua Susanti \u201cUpin Ipin\u201d di Malaysia<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai karakter pendukung cerita, waktu tayang Susanti tidaklah sering. Di tengah kemunculannya yang tidak seberapa itu, Susanti sebenarnya bisa jadi karakter yang unik, apalagi dengan identitas yang dibawanya sebagai orang Indonesia. Ada banyak sisi bisa dieksplor, tapi penulis cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tidak melakukannya. Mereka memilih menampilkan Susanti sebagai teman <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-mei-mei-di-serial-upin-ipin-yang-sebaiknya-nggak-ditiru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mei mei<\/a> saja. Paling mentok, Susanti tampil dengan bahasa Indonesia ketika ngobrol. Padahal bahasa Indonesia dan bahasa Melayu banyak kemiripannya, kalau penonton nggak peka, perbedaan bahasa ini tidak akan tertangkap. Pokoknya tokoh Susanti ini \u201canyep\u201d saja dan kurang terasa Indonesia-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, kalau penulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memang serius ingin merepresentasikan Indonesia dalam diri Susanti, mereka akan membuat karakter ini dengan maksimal. Mungkin secara waktu tayang sulit untuk ditambah mengingat statusnya yang hanya sebagai karakter pendukung. Namun, ada banyak cara agar waktu tayang Susanti yang sempit itu begitu berkesan dan Indonesia banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Susanti menampilkan kesenian Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis cerita bisa menambah scene di mana Susanti menampilkan kesenian khas Indonesia. Misalnya, Susanti yang menari tarian atau menyanyikan lagu daerah-daerah di Indonesia. Kesenian juga bisa merujuk pada keterampilan Susanti memainkan berbagai alat musik tradisional Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ingin lebih menarik dan mau agak repot, penulis bisa membuat cerita Upin, Ipin, dan kawan-kawannya main ke rumah Susanti. Nah, di rumah itulah nuansa Indonesia yang kental bisa ditampilkan mulai dari ornamennya, hiasan dindingnya, hingga makanan dan minuman yang disuguhkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, episode-episode akan lebih menarik jika ada pertunjukan lintas budaya dan lintas negara. Selama ini hanya kesenian Melayu, China, dan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/maaf-indonesia-india-juga-mungkin-ogah-disamain-sama-negaramu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> India<\/a> yang kerap dimunculkan. Kesenian Indonesia sangat jarang atau bahkan belum pernah masuk layar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susanti-upin-ipin-kurang-serius-merepresentasikan-indonesia\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Diselipkan makanan khas Indonesia&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Diselipkan makanan khas Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan menjadi salah satu media mengenalkan budaya yang cukup efektif. Itu mengapa kalau penulis cerita memang serius menampilkan Susanti sebagai representasi Indonesia, akan lebih baik kalau ada scene yang membahas makanan khas Indonesia. Sejauh ingatan saya, makanan khas Indonesia ini belum pernah dimunculkan dalam serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal menurut saya, tidak sulit lho membuat alur cerita untuk memunculkan makanan Indonesia dalam cerita. Misalnya saja, suatu hari Susanti membawa bekal berisi jajanan pasar atau makanan khas Indonesia ke Tadika Mesra. Bisa juga ditambahkan episode lomba memasak bersama orang tua. Susanti dan kedua orang tuanya ditampilkan memasak makanan Indonesia. Ini merupakan kesempatan bagi Susanti untuk memperkenalkan makanan khas Indonesia sekaligus memperkenalkan orang tua Susanti.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengenalkan bahasa dan logat daerah kepada penonton <em>Upin Ipin<\/em><\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tim penulis cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> riset sedikit lebih dalam, karakter Susanti akan lebih menarik kalau dibuat berasal dari luar <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a>. Ada banyak daerah lain di Indonesia selain Jakarta yang tidak kalah menarik dari sisi bahasa dan budaya. Pengisi suara nantinya bisa mengisi suara Susanti dengan logat daerah tertentu, sesekali terselip bahasa daerah justru akan menarik. Apalagi anak-anak Tadika Mesra digambarkan penuh dengan rasa penasaran, perbedaan bahasa bisa menjadi scene yang seru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa saran-saran di atas bisa memperkaya cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang sarat nilai keberagaman. Selama ini representasi orang Indonesia yang diwakili melalui Susanti masih kurang \u201cnendang\u201d. Padahal kalau mau digarap dengan serius, representasi orang Indonesia bisa ditampilkan secara lebih unik dan cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan semakin berwarna. Apa jangan-jangan representasi ini memang sengaja dibatasi ya, mengingat sejarah yang terjadi antara hubungan Malaysia dan Indonesia. Entahlah, tapi saya harap tidak demikian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-dosa-serial-upin-ipin-kepada-penonton-indonesia\/\"><b>3 Dosa Serial Upin Ipin kepada Penonton Indonesia<\/b><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Susanti &#8220;Upin Ipin&#8221; terasa kurang &#8220;nendang&#8221; sebagai karakter yang berasal dari Indonesia. Karakter ini bisa digarap dengan lebih serius.  <\/p>\n","protected":false},"author":2851,"featured_media":322343,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[31,5612,13098,14409,27507,5855],"class_list":["post-322291","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-indonesia","tag-malaysia","tag-pilihan-redaksi","tag-susanti","tag-susanti-upin-ipin","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/322291","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2851"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=322291"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/322291\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/322343"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=322291"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=322291"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=322291"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}