{"id":322234,"date":"2025-03-11T02:30:04","date_gmt":"2025-03-10T19:30:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=322234"},"modified":"2025-03-10T17:30:19","modified_gmt":"2025-03-10T10:30:19","slug":"menganggap-sarjana-angkuh-karena-pilih-pilih-kerjaan-itu-terlalu-dangkal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menganggap-sarjana-angkuh-karena-pilih-pilih-kerjaan-itu-terlalu-dangkal\/","title":{"rendered":"Menganggap Sarjana Angkuh karena Pilih-pilih Kerjaan Itu Terlalu Dangkal, Cobalah Lihat Dulu Sistem yang Membentuk Mereka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehidupan setelah kuliah S1 itu menyeramkan. Selain susah mencari pekerjaan, para sarjana juga jarang mendapat respons baik ketika mengeluh. Seperti belakangan ini, timeline media sosial X (Twitter) saya santer membahas sarjana, yang katanya teramat angkuh dalam memilih pekerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian mungkin sebagian besar sudah familier dengan bahasan itu. Lulusan sarjana dicap merasa elit, seolah-olah tidak level jika harus melakoni pekerjaan kasar. Mereka dianggap lebih memilih jadi sarjana busung lapar, daripada bekerja di luar standar sosial atau gelar yang mereka sandang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus terang saja, sebagai lulusan sarjana, bagi saya pendapat tersebut ada benarnya, juga ada salahnya. Benar, bahwa banyak sarjana menganggap dirinya kaum elit. Tetapi juga salah, bahkan cenderung victim blaming, jika yang dikritik atas fenomena ini hanya sarjana. Kenapa demikian?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Terjebak mimpi perguruan tinggi dan ekspektasi sosial<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita jujur dulu. Kira-kira, apa salah satu mimpi yang sering dijual perguruan tinggi kepada masyarakat, khususnya mahasiswa S1?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa pikir panjang, kita pasti menjawab: peluang karier yang berkualitas. Jelas itu. Mimpi itu sudah menjadi semacam asosiasi dari tujuan keberadaan perguruan tinggi. Bahkan, beberapa pasal dalam<\/span><a href=\"https:\/\/diktis.kemenag.go.id\/prodi\/dokumen\/UU-Nomor-12-Tahun-2012-ttg-Pendidikan-Tinggi.pdf\"> <span style=\"font-weight: 400;\">UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pun mengamini hal itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, wajar jika lulusan sarjana seakan pilih-pilih pekerjaan. Karena sejak awal, mereka memang sudah didoktrin bahwa hidup setelah lulus akan bisa bahagia. Mereka mendambakan bekerja di depan laptop, memakai lanyard, duduk di ruangan ber-AC, dan seterusnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan mimpi ini bukan hanya menjadi ekspektasi individu, tetapi juga sosial, khususnya orang tua dan tetangga. Lulusan sarjana dianggap harus bekerja A, B, C, D, sebagaimana yang terjadi pada sebagian sarjana sebelum mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebut \u201csebagian\u201d tentu karena nggak semuanya sarjana bisa kerja sesuai ekspektasi sosial. Ada banyak faktor lain yang mendukungnya. Seperti dinamika industri, kondisi pasar kerja, keterampilan yang diajarkan di kampus, orang dalam, dsb.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah kenapa mereka seolah pilih-pilih kerjaan. Mereka mau keluar dari ekspektasi sosial itu ya berat, butuh mental yang kuat. Mau menjelaskan ke orang tua dan tetangganya pun kewalahan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pilih-pilih pekerjaan itu naluri manusia, bukan hanya sarjana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula\u2014kalau mau jujur-jujuran lagi\u2014pilih-pilih pekerjaan itu ya bagian dari naluri manusia, bukan hanya sarjana. Kita semua pasti ingin hidup bahagia, aman, dan nyaman. Ketika kita mau ke rumah makan pun pasti mempertimbangkan dulu. Entah itu reputasinya, menunya, atau kebersihan tempatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mencari pekerjaan pun saya pikir demikian. Para sarjana sebenarnya tak lebih dari mengaktifkan nalurinya. Mereka memikirkan dulu, kira-kira apakah pekerjaannya sesuai kemampuan, apakah gajinya sesuai tanggung jawab, atau\u00a0 lingkungannya sehat atau tidak. Itu wajar sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya nggak tahu mereka yang sering menghujat lulusan sarjana pilih-pilih pekerjaan ini hidup di Indonesia atau nggak. Kalau beneran hidup di sini, harusnya mereka paham lah kalau kebanyakan loker yang ada itu nggak ngotak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang beban kerjanya seperti Avatar, tapi gajinya kalah dengan tukang parkir liar. Ada yang katanya kerja fleksibel, tapi nyatanya dipaksa overwork. Bahkan ada pula yang syaratnya absurd, seperti disuruh tahan ijazah. Dan nahasnya lagi, kementerian terkait seperti tutup mata dengan hal beginian.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mending senggol pemerintah daripada hanya menghujat sarjana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudahlah, berhenti bersikap sok bijak tanpa bernalar. Mending senggol pemerintah daripada hanya menghujat sarjana. Karena ya, mereka yang sejatinya membuat sarjana merasa pantas pilih-pilih kerjaan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti saya jelaskan di awal. Mimpinya tentang pendidikan tinggi itu mulia, membuka peluang mahasiswa mendapat karier yang berkualitas. Tapi, coba lihat sistem yang dibuat, apakah sudah relevan dengan industri sekarang?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setahu saya, sistem (kebanyakan) kampus masih kuno. Kurikulumnya pun masih hanya berpusat pada teori. Belum ada semacam pelatihan keterampilan praktis seperti yang ada di course online atau bootcamp. Misalnya soal business intelligence, machine learning, digital marketing, dan keterampilan digital lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu, saya tahu keterampilan praktis itu ranah vokasi, sedangkan sarjana lebih ke aspek keilmuan. Tapi jika pendidikan sarjana ingin lebih dihargai di industri, sistemnya jelas perlu diubah. Sebab, industri kini tak lagi peduli lulusan vokasi atau akademik. Mereka hanya bertanya, \u201cKamu bisa apa?\u201d atau \u201cKamu punya sertifikasi skill apa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saran saya berhentilah cuma menghujat sarjana. Toh mereka itu tetap manusia, yang kalau lapar jelas akan cari makan. Nggak usah lebay seolah-olah sarjana lebih memilih kelaparan daripada dapat kerjaan kasar. Perlahan mereka juga akan menurunkan ekspektasi kok, entah karena tekanan atau sudah muak dengan keadaan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/nyatanya-sarjana-memang-lebih-unggul-dan-lebih-untung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Perdebatan Sarjana vs SMA di Dunia Kerja Harus Disudahi, Nyatanya Sarjana Memang Lebih Unggul dan Lebih Untung<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya nggak tahu mereka yang sering menghujat lulusan sarjana pilih-pilih pekerjaan ini hidup di Indonesia atau nggak.<\/p>\n","protected":false},"author":2221,"featured_media":287568,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[3658,5453,27781,2064],"class_list":["post-322234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-ekspektasi","tag-lapangan-pekerjaan","tag-pilih-pilih-kerjaan","tag-sarjana"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/322234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=322234"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/322234\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/287568"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=322234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=322234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=322234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}