{"id":321743,"date":"2025-03-06T10:49:29","date_gmt":"2025-03-06T03:49:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=321743"},"modified":"2025-03-07T09:57:31","modified_gmt":"2025-03-07T02:57:31","slug":"dosa-terbesar-plat-ab-di-jalanan-jogja-tidak-punya-empati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-terbesar-plat-ab-di-jalanan-jogja-tidak-punya-empati\/","title":{"rendered":"Dosa Terbesar Plat AB di Jalanan Jogja: Tidak Punya Empati!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah banyak artikel di Terminal Mojok yang mengupas, menyatakan, bahkan menegaskan bahwa pengendara plat AB itu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-jalanan-jogja-pengendara-plat-ab-lebih-arogan-dan-meresahkan-dari-plat-k\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sangat meresahkan<\/a>. Nah, di sini, saya ingin menambahkan satu dosa mereka di jalanan Jogja. Iya, di jalanan yang seharusnya menjadi \u201crumah sendiri\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa plat AB yang saya maksud adalah tidak mau mengalah. Kalau mau pakai bahasa keren, sebut saja, kurang punya empati kepada sesama pengendara dan pengguna jalan. Izinkan saya menjelaskan satu per satu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Plat AB susah memberi jalan ke siapa saja yang mau menyeberang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari ini saya sering menemukan konten pengguna jalan. Mayoritas dari mereka berasal dari luar Jogja. Mereka mengaku bahwa di Jogja, pengendara plat AB susah bener ngasih kesempatan untuk menyeberang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu yang sering menyuarakan keluhan itu adalah orang Jakarta. Atau, pengendara plat B yang sudah lama berjibaku di ibu kota. Saya, yang sempat harus bolak-balik Jakarta, mengamini kegelisahan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering heran sendiri dengan sikap pengendara plat AB yang nggak mau memberi kesempatan siapa saja untuk menyeberang. Mau pejalan kaki maupun sesama pengendara, kena semua. Saya sering menyaksikan fenomena ini di Jalan Godean, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-gejayan-semakin-brengsek-karena-ulah-pemerintah-jogja-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Gejayan<\/a>, dan Jalan Kaliurang. Dan saya yakin, terjadi di hampir semua jalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika akan ada yang menyeberang, pengendara plat AB seperti berusaha untuk mencegah hal itu terjadi. Berhenti barang 3 atau 4 detik itu berat sekali. Bahkan ketika yang mau nyebrang sudah menyeberang sampai setengah jalan. Banyak pengendara plat Jogja ini menerobos celah yang ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, banyak penyeberang yang kaget. Ada juga yang sampai harus mundur selangkah karena sisan jalan untuk nyebrang, ditutup pengendara. Bayangin aja, yang kaget dan mundur itu disambar pengendara lain yang nggak punya empati. Seram.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang Jakarta lebih punya empati<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang bilang kalau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/plat-nomor-b-aa-ad-h-dan-k-yang-dibenci\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang Jakarta<\/a> itu lebih dingin dan cuek ketimbang orang Jogja. Namun, anggapan itu seperti nggak berlaku di jalanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jakarta, kalau mau menyeberang jalan, tinggal nyebrang saja dan mengangkat tangan. Pengendara pasti mau berhenti dan memberi kesempatan. Mau motor atau mobil, mereka malah lebih punya empati ketimbang banyak pengendara plat AB.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa mau mengalah itu malah terlihat dari orang-orang ibu kota yang katanya keras dan individual. Mungkin, saking kerasnya kehidupan di Jakarta, mereka malah makin punya empati kepada sesama. Khususnya di jalanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, nggak semua begitu. Namun, saya menemukan banyak pengakuan yang sama dari beberapa teman yang hidup dan bekerja di sana. Sebuah \u201cteguran\u201d kepada orang Jogja, yang katanya halus dan punya kepedulian tinggi kepada sesama.<\/span><\/p>\n<h2><b>Konsep \u201cmengalah\u201d orang Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Supaya tulisan ini lebih ada bobotnya, saya menanyai 2 orang terkait fenomena ini. Keduanya tidak punya teori yang kuat untuk membaca kenapa pengendara plat AB tidak mau mengalah kepada orang yang mau menyeberang. Namun, kami bisa agak bersepakat bahwa ini mungkin ada kaitannya dengan konsep \u201cmengalah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukankah kalau mau mengalah pengendara di Jogja akan memberi kesempatan kepada yang mau menyeberang jalan? Mengalah di sini bukan merujuk ke sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kita sama-sama tahu bahwa kalau di jalan, mereka yang mau lurus, biasanya diutamakan. Makanya, yang membawa kendaraan, mungkin, berpikir bahwa mereka harus didahulukan. Kalau mau menyeberang, ya nunggu jalanan sepi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, yang menyeberang, khususnya pejalan kaki, juga menyimpan anggapan bahwa yang bawa kendaraan kudu mengalah. Mau gimana, yang jalan kaki biasanya dimenangkan. Semakin besar kendaraan, kalau terjadi kecelakaan, biasanya lebih mudah disalahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah dosa plat AB di jalanan Jogja. Kenapa saya bisa menjelaskan hal ini? Karena sayalah pengendara plat AB itu, yang kadang masih lupa harus ada tenggang rasa di jalanan. Jangan tiru saya, plis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/plat-ab-plat-nomor-paling-meresahkan-di-jogja-bukan-plat-b\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bukan Plat B, Plat AB Adalah Plat Nomor Paling Meresahkan di Jalanan Jogja<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah membaca artikel ini, kamu akan tahu bahwa plat AB Jogja punya dosa paling besar, yaitu tidak punya empati. Bikin resah pengguna jalan.<\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":321747,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[23938,16714,18409,115,25780,21565],"class_list":["post-321743","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan-gejayan","tag-jalan-godean","tag-jalan-kaliurang","tag-jogja","tag-plat-ab","tag-plat-b"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/321743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=321743"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/321743\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/321747"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=321743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=321743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=321743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}