{"id":320515,"date":"2025-03-04T09:15:41","date_gmt":"2025-03-04T02:15:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=320515"},"modified":"2025-03-07T09:52:20","modified_gmt":"2025-03-07T02:52:20","slug":"depok-tangerang-sepele-di-mata-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/depok-tangerang-sepele-di-mata-jakarta\/","title":{"rendered":"Depok dan Tangerang Dipandang Lebih Rendah Dibanding Jakarta karena Sebatas \u201cTempat Numpang\u201d Para Pekerja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Depok dan Tangerang seperti terlupakan. Khususnya jika bicara soal kota-kota di sekitar Jakarta. Kebanyakan orang akan langsung menyebut Bogor sebagai destinasi wisata alam atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bekasi-jadi-kota-sejuta-pungli-saking-banyaknya-pungli-di-sini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bekasi<\/a> sebagai bahan candaan di internet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Depok dan Tangerang sering terlupakan. Bahkan banyak orang menganggap keduanya sebagai \u201cpelengkap\u201d saja. Padahal, keduanya punya karakter, sejarah, dan daya tarik tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mari kita bahas lebih dalam persamaan, perbedaan, dan alasan keduanya sering kalah pamor dibanding tetangga-tetangganya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Depok dan Tangerang sama-sama tumbuh di pinggiran Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik Depok maupun Tangerang memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan Jakarta. Tangerang, yang berada di barat, dulunya adalah bagian dari wilayah Kesultanan Banten sebelum akhirnya masuk dalam pengaruh kolonial Belanda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota ini berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan industri. Sementara itu, Depok, yang terletak di selatan, memiliki sejarah unik sebagai kota yang didirikan oleh seorang Belanda bernama Cornelis Chastelein pada abad ke-17. Depok dulunya adalah komunitas kecil yang berkembang menjadi kota pelajar seiring dengan hadirnya Universitas Indonesia (UI).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan latar belakang sejarah yang berbeda, kedua kota ini tumbuh menjadi daerah urban yang padat penduduk, salah satunya karena urbanisasi dari Jakarta. Namun, meskipun sudah menjadi kota besar, mereka tetap sering dianggap sebagai \u201ckota satelit\u201d yang hanya berfungsi sebagai tempat tinggal bagi orang-orang yang bekerja di ibu kota.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tangerang lebih industri, Depok lebih akademik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tangerang lekat dengan statusnya sebagai \u201ckota industri\u201d karena banyaknya kawasan dan bangunan pabrik, terutama di daerah kota dan sisi selatan. Jika kamu pernah mendengar nama-nama kawasan seperti Cikupa, Balaraja, atau Jatake, semuanya adalah pusat industri yang memproduksi berbagai barang kebutuhan nasional.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, Tangerang juga menjadi rumah bagi banyak perumahan kelas menengah hingga elite seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tangerang-selatan-punya-bsd-dan-bintaro-jaya-magnet-kaum-urban\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BSD City<\/a>, Gading Serpong, dan Alam Sutera. Ini menandakan bahwa kota ini adalah destinasi favorit bagi pekerja ibu kota yang ingin tinggal di tempat yang lebih nyaman dibanding Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Depok, di sisi lain, adalah \u201ckota akademik\u201d karena keberadaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyesal-kuliah-bahasa-indonesia-di-universitas-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Indonesia<\/a> (UI). Dengan kampus yang luas dan asri, Depok jadi tempat berkumpulnya mahasiswa dari seluruh Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran UI ini juga berdampak besar pada ekosistem kota, membuatnya penuh kos-kosan, warung makan murah, serta kafe yang cocok untuk mahasiswa.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sama-sama macet, tapi pilihan transportasi berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Depok dan Tangerang sama-sama mengalami masalah kemacetan karena tingginya jumlah komuter yang bekerja di Jakarta. Namun, sistem transportasi di kedua kota ini sedikit berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Depok, KRL juga menjadi andalan utama, terutama karena jalurnya yang menuju Jakarta (Stasiun Kota atau Tanah Abang) sangat padat dengan frekuensi keberangkatan yang cukup sering. Selain itu, kota ini juga punya sistem angkot yang sangat luas dan menjangkau hampir seluruh wilayahnya. Namun, bagi sebagian orang, jumlah angkot yang terlalu banyak ini justru <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/baca\/metro\/2023\/03\/17\/angkot-depok-hanya-menunggu-bom-waktu\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">membuat lalu lintas semakin macet<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Tangerang, moda transportasi andalannya adalah KRL Commuter Line dan tol. Kota ini punya jalur KRL yang cukup luas, melayani rute dari Stasiun Tangerang ke Duri serta dari Serpong ke Tanah Abang. Selain itu, banyak warganya yang mengandalkan Tol Jakarta-Merak atau Tol JORR untuk pergi ke Jakarta dengan mobil pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulannya? Kalau kamu tinggal di Tangerang atau Depok dan bekerja di Jakarta, bersiaplah untuk menghabiskan banyak waktu di jalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mall vs kafe pinggir jalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tangerang terkenal akan pusat perbelanjaannya. BSD City dan Alam Sutera punya banyak mall besar seperti AEON Mall, Summarecon Mall Serpong, dan Living World Alam Sutera. Kehidupan di kota ini cenderung lebih \u201cmewah\u201d karena banyaknya area perumahan elite dan restoran mahal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Depok, di sisi lain, lebih terkenal dengan kafe-kafe murah dan tempat nongkrong mahasiswa. Sepanjang Jalan Margonda, kita bisa menemukan berbagai tempat makan enak dengan harga yang lebih terjangkau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kamu tipe yang suka nongkrong di kafe sambil ngobrol santai, Depok lebih cocok. Tapi kalau kamu lebih suka jalan-jalan ke mall dan menikmati fasilitas mewah, Tangerang bisa jadi pilihan yang lebih menarik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Soal pariwisata, mana yang lebih menarik?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik Depok maupun Tangerang bukanlah destinasi wisata utama. Namun, keduanya tetap punya tempat-tempat menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Depok, wisata alamnya lebih terasa karena ada kawasan seperti Setu Babakan yang merupakan pusat budaya Betawi. Ada juga Hutan Kota UI yang sering menjadi tempat jogging atau piknik santai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Tangerang, ada beberapa tempat wisata menarik seperti Tanjung Pasir, Pantai Tanjung Kait, serta berbagai spot instagramable di BSD dan Gading Serpong. Selain itu, kota ini juga punya Chinatown di kawasan Pasar Lama, yang terkenal dengan kuliner malamnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keduanya layak mendapat perhatian lebih<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun kalah populer dari Bogor atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/taman-bunga-celosia-bandungan-bikin-saya-ogah-kembali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bandung<\/a>, Depok dan Tangerang punya daya tariknya masing-masing. Tangerang dengan industrinya yang maju, perumahan elite, dan pusat perbelanjaan besar. Sementara itu Depok dengan suasana akademiknya yang kental, kuliner murah, dan komunitas anak mudanya yang kreatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, meskipun menyandang status &#8220;kota satelit,&#8221; bukan berarti Depok dan Tangerang tidak layak diperhitungkan. Mungkin sekarang saatnya kita berhenti menganggap mereka hanya sebagai tempat numpang tinggal bagi pekerja Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana menurut kamu? Lebih suka tinggal di Depok atau Tangerang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ayu Lestari Sipayung<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/depok-itu-indah-jika-bisa-menikmatinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Setelah 3 Bulan Tinggal di Depok, Saya Sadar Ternyata Depok Itu Indah Jika Bisa Menikmatinya<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Depok dan Tangerang dianggap sepele dan diremehkan. Keduanya dipandang cuma tempat numpang bagi pekerja di Jakarta. Padahal&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2723,"featured_media":320530,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[141,9819,1715,529,20525,27711,16963],"class_list":["post-320515","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-bogor","tag-depok","tag-jakarta","tag-kota-satelit","tag-satelit-jakarta","tag-tangerang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/320515","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2723"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=320515"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/320515\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/320530"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=320515"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=320515"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=320515"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}