{"id":319459,"date":"2025-03-01T13:30:18","date_gmt":"2025-03-01T06:30:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=319459"},"modified":"2025-03-01T13:15:22","modified_gmt":"2025-03-01T06:15:22","slug":"kuliner-daging-kerbau-kudus-cocok-di-lidah-jogja-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-daging-kerbau-kudus-cocok-di-lidah-jogja-saya\/","title":{"rendered":"Kuliner Daging Kerbau Kudus Ternyata Enak dan Cocok di Lidah Jogja Saya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lahir dan besar di Jogja membuat palet lidah saya terbiasa dengan rasa manis. Toleransi saya terhadap rasa manis bisa dibilang cukup kuat. Saya suka<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dagang-es-teh-jelas-lebih-terhormat-ketimbang-mepet-kekuasaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> es teh<\/a> yang orang-orang sebut nasgitel (panas, legi, kentel atau panas, manis, kental). Saya juga bisa lahap makan gudeg yang banyak orang bilang terlalu manis. Pokoknya, semua yang orang-orang bilang tidak enak karena terlalu manis ternyata enak-enak saja di lidah saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa ketika menjajal olahan daging kerbau di Kudus, lidah saya begitu mudah menyesuaikan diri. Orang-orang bilang rasanya terlalu manis, tapi itu cocok untuk lidah Jogja saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya, kalau tidak ke Kudus, mungkin saya tidak akan pernah mencicipi daging yang satu ini. Wajar saja, keluarga maupun lingkungan terdekat saya tidak ada yang mengonsumsinya. Bukan karena tidak doyan, tapi lebih pada kebiasaan tidak mengkonsumsi daging yang satu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Daging kerbau dan budaya Kudus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daging kerbau <\/span>banyak digunakan di berbagai macam olahan makanan di Kudus bukan tanpa sebab. Sebenarnya ada banyak versi kenapa daging kerbau bisa menjadi budaya di sini. Namun, di balik itu, ada kisah panjang yang sarat nilai toleransi.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu tulisan Terminal Mojok yang berjudul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hikayat-orang-kudus-yang-tidak-makan-sapi-dan-orang-lamongan-yang-tidak-makan-lele\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hikayat Orang Kudus yang Tidak Makan Sapi dan Orang Lamongan yang Tidak Makan Lele<\/span><\/i><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">sempat diungkapkan, asal usul daging kerbau banyak digunakan di kudus. Katanya, Sunan Kudus melarang penyembelihan sapi untuk menghormati pemeluk agama Hindu. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, agama Hindu masih jadi penduduk mayoritas di Kota Santri pada saat itu. Cerita lainnya, konon, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dahulu kala Sunan Kudus pernah merasa sangat kehausan. Lalu, seorang pendeta Hindu memberikannya susu sapi. Sebagai ungkapan terima kasih, masyarakat Kudus dilarang menyembelih sapi<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Soto Kudus daging kerbau<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kurang afdal rasanya tidak mencicipi Soto Kudus ketika mampir ke Kudus. Di mana lagi kalian bisa mencicipi soto dengan isian daging kerbau? Ini <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang bikin spesial. Tidak banyak variasi Soto yang menggunakan kerbau sebagai isiannya, kebanyakan menggunakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tipe-pembeli-daging-sapi-yang-sering-bikin-saya-emosi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">daging sapi<\/a> atau ayam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya mencicipi panganan yang satu ini, ternyata soto ini ternyata enak. Selain saya memang suka soto, perpaduan isian Soto Kudus daging kerbau cocok di lidah saya. Daging kerbau pada soto punya citarasa manis dengan serat-serat yang lebih terasa nikmat dipadukan dengan kuah soto yang segar. Belum lagi isian lain seperti nasi, kecambah, bawang goreng, tomat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat mampir ke salah satu warung soto legenda di Kudus. Di sana ada banyak sekali pilihan makanan pendamping soto. Mulai dari gorengan hingga berbagai macam sate. Namun, pilihan favorit saya adalah memadukan seporsi soto dengan rambak kulit kerbau.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Sate kerbau yang manis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain soto, saya juga mencicipi sate daging kerbau. Dari tampilannya sebenarnya sate kerbau kurang menggoda. Warna dagingnya cenderung gelap. Namun, akan beda cerita ketika kalian mencicipinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mirip dengan sate ayam, sate kerbau disirami dengan bumbu kacang dengan cita rasa manis. Jadi, ada dua sumber rasa manis dalam seporsi sate kerbau. Pertama, rasa manis dari dagingnya. Kedua, rasa manis dari bumbunya. Walau punya cita rasa manis, makanan ini tidak bikin enek. Sajian ini tetap bisa menggoyang lidah Jogja saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Nasi pindang kerbau\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak jauh, nasi pindang kerbau ternyata punya cita rasa yang manis.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, nasi pindang kerbau khas kudus adalah sajian nasi dan daging kerbau yang disirami dengan kuah pindang. Selain nasi dan daging, isi lainnya ada daun melinjo. Kuahnya mirip dengan kuah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rawon\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rawon<\/a> yang menggunakan kluwuk yang berwarna kecokelatan, tapi dari sisir rasa jauh berbeda. Rasa kuah pindang dominan manis, tapi cocok dipadukan dengan nasi, daging kerbau, dan isian lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa alasan lidah Jogja saya yang terbiasa dengan rasa manis terpuaskan ketika kulineran di Kudus. Rasa-rasanya, kalau suatu saat saya kembali ke Kudus untuk berwisata atau merantau, saya tidak akan kesulitan. Lha wong dari cita rasa makanannya saja sudah cocok.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Kenia Intan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Intan Ekapratiwi<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tulungagung-kota-yang-siap-bersaing-dengan-kudus\/\">Tulungagung, Kota yang Siap Bersaing dan Menggeser Kudus sebagai Pemilik Takhta Kota Kretek<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Olahan daging kerbau di Kudus cocok di lidah orang Jogja yang terbiasa dengan rasa manis. Misal, soto kudus, sate kerbau, dan nasi pindang.<\/p>\n","protected":false},"author":2401,"featured_media":319488,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[16055,2249,27654,27653,20091],"class_list":["post-319459","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-daging-kerbau","tag-kudus","tag-pindang-kerbau","tag-sate-kerbau","tag-soto-kudus"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/319459","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2401"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=319459"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/319459\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/319488"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=319459"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=319459"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=319459"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}