{"id":319118,"date":"2025-02-26T13:30:03","date_gmt":"2025-02-26T06:30:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=319118"},"modified":"2025-02-26T13:30:03","modified_gmt":"2025-02-26T06:30:03","slug":"tren-kaburajadulu-jelas-bukan-hal-yang-baru-bagi-kami-warga-cilacap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tren-kaburajadulu-jelas-bukan-hal-yang-baru-bagi-kami-warga-cilacap\/","title":{"rendered":"Tren #KaburAjaDulu Jelas Bukan Hal yang Baru bagi Kami Warga Cilacap yang Sedari Dulu Memang Suka \u201cKabur\u201d ke Luar Negeri"},"content":{"rendered":"<p><em>Orang Cilacap tak merespons #KaburAjaDulu dengan begitu heboh, sebab &#8220;kabur&#8221; jadi TKI sudah mendarah daging<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ini, bersamaan dengan #IndonesiaGelap, tagar #KaburAjaDulu juga menggema di seantero jagat maya Indonesia. Tak ketinggalan, berbagai media televisi nasional juga turut menyiarkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara tegas, tagar ini adalah wujud dan ekspresi masyarakat kita yang sudah muak sekali dengan tingkah para pejabat kita yang mengurus negara ini dengan semena-mena dan tidak memperhatikan hal-hal fundamental yang menjadi kebutuhan super prioritas bangsa ini (baca: pendidikan, pemerintahan yang bersih dari korupsi, lapangan kerja yang luas).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi jujur saja, bagi orang Cilacap, tagar #KaburAjaDulu ini nggak bikin kami gimana-gimana. Sebab, \u201ckabur\u201d ke luar negeri adalah hal yang lumrah bagi penduduk Kota Bercahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibilang, Cilacap memiliki sejarah panjang dalam soal ekspor tenaga kerja. Masyarakat Cilacap\u2014dan sekitarnya\u2014sejatinya sudah sangat familiar dengan fenomena kabur ke luar negeri. Tujuan adalah untuk bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, yang tentu saja tidak akan bisa mereka dapatkan kalau bekerja di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi TKI itu sudah biasa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekerja menjadi TKI di luar negeri bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Cilacap, khususnya bagi yang tinggal di pedesaan. Saking nggak asingnya\u2014termasuk bagi saya, saat kecil dulu pas main di tempat simbah atau pak lik-bu lik, mereka sering berujar-ujar pada kepada kami anak cucunya:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbesuk nek wis gede bar lulus sekolah gari maring Taiwan apa Korea, yoh! Apa arep maring Arab ben kaya bapake?\u201d.<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang artinya, \u201cBesok kalo udah gede habis tamat sekolah tinggal berangkat ke Taiwan apa Korea, ya! Apa mau ke Arab saja biar kayak bapakmu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI bapak dan ibu saya dulu merantau bareng di Arab Saudi. Jadi memang sudah mendarah daging betul jadi TKI itu. Sudah jadi mindset.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan data yang saya peroleh dari <\/span><a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2022\/03\/06\/132950926\/daftar-daerah-penyumbang-tki-terbanyak-indramayu-juaranya?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">kompas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">com<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Cilacap menjadi Kabupaten terbanyak kedua se-Indonesia setelah Indramayu, dengan jumlah TKI mencapai lebih dari 12 ribu orang yang tersebar di Hong Kong, Taiwan, Malaysia, Brunei Darussalam, Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Arab Saudi dan Italia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka tak heran jika di desa tempat saya tinggal ada banyak sekali LPK (Lembaga Pelatihan Khusus) yang membuka kursus bahasa. Mulai dari bahasa Mandarin, Jepang, hingga Korea. Juga PT-PT yang membuka pelatihan hospitality untuk bekerja di perhotelan atau kapal pesiar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Beragam profesi, paling banyak ART dan pekerja pabrik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski beragam, tapi bisa dibilang tidak cukup banyak pilihan pekerjaan yang bisa didapat oleh TKI asal Cilacap, apalagi bagi yang perempuan. Karena kalau perempuan biasanya diplotkan sebagai ART, pengasuh anak, atau pengasuh lansia. Hong Kong dan Taiwan menjadi dua negara dengan kebutuhan yang sangat besar akan hal ini, disusul Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi pilihan pekerjaan yang beragam sebenarnya hanya untuk laki-laki, meski tetap saja pekerjaan kasar. Ada yang bekerja di perkebunan, pabrik atau manufaktur, industri pertanian dan peternakan, dan lain sebagainya. Tapi ya nggak apa-apa. Toh di Indonesia sudah terbiasa. Dan yang terpenting: gajinya besar, jadi bisa buat nabung dan bikin rumah di kampung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Destinasi favorit Wong Cilacap: Korea Selatan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Korea Selatan memang memiliki daya tarik tersendiri bagi para calon TKI, terutama yang dari Cilacap. Terutama soal gajinya yang besar, konon bisa mencapai 30-40 juta. Selain itu, perbedaan zona waktu yang hanya terpaut 2 jam dari Indonesia juga menjadi poin tersendiri. Terlebih bagi yang suka K-Pop dan K-Drama. Bisa merasakan tinggal satu negara dan menghirup udara yang sama dengan Lee Do Hyun atau personel Blackpink tentu jadi kebahagiaan tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-teman saya di desa banyak sekali yang menggantungkan impiannya untuk bisa bekerja di Korea. Mereka bahkan rela menunggu bertahun-tahun dan berkali-kali mencoba agar bisa lolos seleksi dan berangkat ke sana. Begitu besarnya tekad mereka untuk dapat memperbaiki dan menaikkan taraf hidup mereka di desa.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Ilmu titen ala Cilacap<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya di desa saya itu ada fenomena unik. Lebih tepatnya, fenomena dan ilmu titen. Jadi, kalau ada rumah yang terlihat gedongan, bagus, dan baru, hampir bisa dipastikan bahwa pemiliknya pasti merantau dan bekerja di Korea Selatan. Sampai-sampai teman-teman saya yang berasal dari luar kota, kalau pas main ke tempat saya itu sering komen, \u201cWah, orang desa sini kaya-kaya, ya. Rumahnya bagus-bagus, gedong-gedong.\u201d Ya, tentu saja nggak semuanya ya. Tapi bisa saya pastikan sebagian besarnya adalah perantau di Korea.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yaa, demikianlah ulasan singkat saya soal #KaburAjaDulu dan hal-hal yang berkaitan dengan orang Cilacap. Bagi para perantau, bekerja di luar negeri bukan berarti mereka nggak cinta tanah air. Tapi lebih pada perjuangan dan pengorbanan untuk meraih penghidupan yang lebih baik nanti di rumah. Harapan mereka tentu bisa bekerja di Indonesia saja dan berada dekat dengan keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya tau sendiri, negara ini seperti masih enggan memperjuangkan penghidupan yang mentereng bagi rakyatnya. Entahlah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Fajar<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sidoarjo-surga-untuk-pebisnis-neraka-bagi-perantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sidoarjo: Surga untuk Pebisnis, Neraka bagi Perantau. Pengeluaran Selangit, Pemasukan Sulit!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Cilacap tak merespons #KaburAjaDulu dengan begitu heboh, sebab &#8220;kabur&#8221; jadi TKI sudah mendarah daging.<\/p>\n","protected":false},"author":2680,"featured_media":259167,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2855,27542,63],"class_list":["post-319118","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-cilacap","tag-kabur-aja-dulu","tag-tki"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/319118","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2680"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=319118"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/319118\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/259167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=319118"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=319118"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=319118"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}