{"id":318910,"date":"2025-02-26T08:00:13","date_gmt":"2025-02-26T01:00:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=318910"},"modified":"2025-02-25T20:39:39","modified_gmt":"2025-02-25T13:39:39","slug":"dosa-pedagang-bubur-ayam-khas-jakarta-yang-berjualan-di-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-pedagang-bubur-ayam-khas-jakarta-yang-berjualan-di-jogja\/","title":{"rendered":"Dosa Pedagang Bubur Ayam Khas Jakarta yang Berjualan di Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bubur ayam jadi salah satu menu sarapan favorit orang Indonesia. Saking disukai oleh banyak orang, beberapa daerah memiliki ciri khas bubur ayam sendiri. Misalnya bubur ayam Jakarta, <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-cirebon-cocok-untuk-orang-orang-mager-berwisata\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cirebon<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, atau Bandung yang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara banyak jenis bubur ayam itu, saya paling suka bubur ayam Jakarta. Namun, setelah mencicipi bubur ayam khas Jakarta di berbagai daerah, favorit saya tetap bubur gerobakan yang dijual di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-orang-yang-nggak-cocok-naik-krl-jabodetabek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jabodetabek<\/a>. Itu mengapa saya hafal dan tahu betul bubur rasa ayam khas Jakarta. Isiannya beragam, terdiri dari ayam suwir, cakwe, kacang kedelai, kerupuk. Selain itu kondimennya juga beragam ada sate usus, sate telur puyuh, dan sate ati ampela.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, sewaktu tinggal di Jogja, saya begitu kaget dengan bubur ayam khas Jakarta yang dijual di sana. Sebenarnya tidak sulit menemukan penjual bubur ayam di Jogja, hampir di setiap sudut ada gerobak dengan spanduk tulisan &#8220;bubur ayam khas Jakarta&#8221;. Namun, yang sulit adalah menemukan bubur ayam khas Jakarta yang cocok di lidah saya. Bisa dibilang, bubur ayam khas Jakarta di Jogja itu tidak sesuai dengan standar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kuah kaldu bubur kurang kuning dan kurang medok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat di Jogja, saya pertama kali mencicipi bubur ayam khas Jakarta di daerah <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/lika-liku-kos-di-seturan-jogja\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seturan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang cukup terkenal dan ramai. Itu mengapa saya berekspektasi tinggi terhadap rasa makanannya. Kenyataannya mengecewakan, terutama dari sisi kaldunya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuah kaldu bubur ayam khas Jakarta di Jogja itu pucat dan kurang medok. Harusnya, kuahnya kuning kalau di Jakarta, ya lebih nendang rasanya. Konon warna kuning ini berasal dari kunyit dan rempah lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman buruk soal kuah ini tidak hanya terjadi sekali. Setelah pengalaman makan bubur di Seturan, saya sempat menjajal\u00a0 tukang bubur gerobak lainnya. Kuah kaldunya juga pucat, nggak kuning-kuning amat dan kurang gurih plus kurang medok. Padahal, salah satu kunci bubur ayam enak itu terletak di kuah kaldunya. Jadi saya jarang menyantap bubur ayam di Jogja karena perkara kuah.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Jarang ditemukan kerupuk warna-warni atau oranye<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerupuk merupakan kondimen esensial dalam dunia bubur ayam. Kurang afdal rasanya kalau nggak ada sensasi kriuk-kriuk. Bubur ayam yang saya temui di Jakarta atau daerah Jabodetabek lainnya pasti pakai kerupuk warna-warni (kerupuk bawang) atau kerupuk oranye. Kadang kerupuk itu dicampur dengan emping. Kerupuk warna-warni dan emping adalah perpaduan yang mantap, apalagi kalau dicampur aduk ke buburnya. Iya, saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perkara-bubur-diaduk-atau-tidak-saja-kita-semua-terkotak-kotak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tim bubur diaduk<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, saya belum pernah menemukan bubur ayam yang menggunakan jenis dua kerupuk tersebut di Jogja. Biasanya mereka pakai kerupuk udang yang berukuran kecil. Sebenarnya rasa kupuk tersebut enak, hanya saja kurang pas jika dipadukan dengan bubur ayam. Atau mungkin, kalian yang tinggal di Jogja tahu penjual bubur ayam di Jogja yang menggunakan kerupuk tersebut? Informasikan dong, saya mau berkunjung.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Bubur ayam khas Jakarta di Jogja Topping-nya kurang banyak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kuah kaldu, isian pada bubur ayam juga berperan penting pada kelezatan dan tekstur makanan. Itu mengapa, saya sangat puas dengan bubur ayam di Jakarta. Topping yang ditaburkan di atas bubur melimpah ruah. Ada suwiran ayam, kacang kedelai, cakwe, daun bawang, kerupuk, dan emping. Saking penuhnya, si bubur itu sendiri malah tertimbun dan tak terlihat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu sulit ditemukan di Jogja, isian bubur ayam secukupnya saja, tidak meluber. Mulai dari ayam sampai kacang kedelainya pun tidak sebanyak yang saya harapkan (kecuali punya permintaan khusus ke penjualnya ya). Untuk berbagai jenis sate, ukuran sate di Jakarta lebih besar daripada di Jogja. Kadang saya malah kenyang karena condiment-nya daripada bubur itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memaklumi, makanan favorit saya itu mungkin sudah mengalami penyesuaian resep ketika dijual di Jogja. Entah disengaja atau tidak, penyesuaian ini dilakukan demi menggaet lidah orang Jogja. Hanya saja, sebagai penggemar berat bubur ayam Jakarta, sulit bagi saya untuk menyebut bubur ayam di Jogja ini khas Jakarta. Tolong segera kabari saya kalau kalian punya rekomendasi penjual bubur ayam khas Jakarta di Jogja yang rasanya \u201cJakarta\u201d banget ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rachelia Methasary<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ciri-ciri-warung-bubur-ayam-yang-terkenal-enak\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Ciri-ciri Warung Bubur Ayam yang Terkenal Enak dan Sudah Jadi Langganan Banyak Orang<\/span><\/a><\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bubur ayam khas Jakarta yang dijual di Jogja beda dengan yang dijual di Jakarta. Kuah dan isiannya kurang, begitu pula dengan condiment-nya. <\/p>\n","protected":false},"author":2858,"featured_media":319076,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[320,10256,27626,27625,529,115],"class_list":["post-318910","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bubur","tag-bubur-ayam","tag-bubur-ayam-jakarta","tag-bubur-ayam-khas-jakarya","tag-jakarta","tag-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/318910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2858"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=318910"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/318910\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/319076"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=318910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=318910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=318910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}