{"id":318477,"date":"2025-02-21T11:05:57","date_gmt":"2025-02-21T04:05:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=318477"},"modified":"2025-02-21T11:05:57","modified_gmt":"2025-02-21T04:05:57","slug":"film-horor-pendakian-gunung-bikin-ilmu-pendakian-gunung-nggak-ada-gunanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-horor-pendakian-gunung-bikin-ilmu-pendakian-gunung-nggak-ada-gunanya\/","title":{"rendered":"Film Horor Pendakian Gunung Bikin Ilmu Pendakian Gunung Seakan Nggak Ada Gunanya"},"content":{"rendered":"<p><em>Film horor pendakian gunung seakan-akan meludahi semua ilmu safety pendakian gunung yang ada, sebab semua direduksi jadi &#8220;melanggar pantangan&#8221; semata<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">El Capitan. Tebing karst paling terkenal di Taman Nasional Yosemite. Banyak orang pasti familiar dengan bentuknya karena pernah menjadi default wallpaper desktop Macintosh. Musim panas 2017, di kaki tebing itu berdiri Alex Honnold. Seorang pemanjat yang oleh sebagian besar orang dianggap gila karena ingin memanjat tebing setinggi 900 meter itu tanpa pengaman apa pun. Sedikit aja ada kesalahan hingga terjatuh artinya sama dengan mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyertainya adalah pasutri Jimmy Chin dan Elizabeth Chai, sepasang sutradara tersohor dalam dunia petualangan. Jimmy telah memasang banyak kamera di berbagai sudut tebing agar dapat merekam tarian mematikan Honnold tanpa membuatnya gugup. Mereka paham betul, bisa saja kamera mereka merekam momen kematian pemanjat elit tersebut. Namun ajal belum menjemput Honnold hari itu. Setelah pemanjatan nyaris 4 jam, dia berhasil menjadi satu-satunya orang yang mencapai puncak El Capitan tanpa pengaman dan Jimmy beserta timnya sukses mengabadikan pencapaian yang langka itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dokumentasi itu kemudian diolah menjadi sebuah film berjudul \u201cFree Solo\u201d yang membahas arti kehidupan dan kematian. Pada<\/span><a href=\"https:\/\/www.televisionacademy.com\/shows\/free-solo#:~:text=7%20Emmys%20%C2%B7%20Outstanding%20Directing%20For%20A,Nonfiction%20Program%20%2D%202019%20%C2%B7%20Outstanding%20Sound\"><span style=\"font-weight: 400;\"> Emmy Awards<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> 2019, film itu menang dalam 7 kategori. Prestasi yang belum pernah diperoleh sama film pemanjatan mana pun sebelumnya. Dan tentu, nggak akan pernah diperoleh sama film pendakian yang jual mistisme belaka bikinan berbagai production house Indonesia belakangan ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gempuran film horor pendakian gunung dua tahun terakhir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku nggak perlu sebut merek. Kalian tahu film horor apa aja yang aku maksud. Selama dua tahun ini paling nggak ada 4 film horor tentang pendakian gunung dan itu semua nyinggung mistisme. Seakan nggak ada hal menarik lain yang bisa dibahas dari sebuah petualangan. Malu nggak sih, sama Sherina.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa sih mem-branding diri kalau film mereka mengandung pesan moral yaitu nggak boleh menyepelekan aturan setempat atau nggak boleh ke gunung tanpa persiapan. Tapi itu semua ketutupan sama gambar jurik jumbo di posternya. Alias, tetap aja jualanan utamanya adalah setan-setanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serius deh, semua film horor yang aku maksud punya plot yang sama. Pokoknya suatu gunung angker ini punya pantangannya tersendiri dan kalau ngelanggar pantangan bakal bikin setannya marah lalu pendakinya jadi kena sial. Hentikanlah pembodohan ini. Maksudku, sejak kapan dah setan punya emosi?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Mistisme adalah kearifan lokal, bukan bahan komersial belaka<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku nggak bermaksud mengolok-olok mitos dan kepercayaan lokal lho. Sama sekali nggak ada niat begitu. Jadi konsepnya tuh (sebenernya) gini: yang dijaga adalah perasaan masyarakat lokalnya, persetan dengan perasaan dedemitnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para pendaki dengan karakter paling skeptis pun mesti mengikuti aturan warga setempat. Bahkan, sampai ikut ritual adat sebelum masuk hutan jika memang diharuskan. Percaya atau nggak itu terserah. Tapi sebagai pendatang, tentu ada adab yang wajib kita jaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengangkat topik kepercayaan lokal yang menyerempet mistisme ke layar hiburan juga bukan sesuatu yang salah. Terutama jika dilakukan dengan cara-cara yang baik. Aku cuma bermasalah sama film yang ngebawa narasi bahwa pendakian gunung itu horor. Soalnya di dalamnya pasti ada doktrin bahwa kecelakaan di gunung itu karena campur tangan dedemit. Lah, kok manusianya lepas tangan, sih?<\/span><\/p>\n<h2><b>Kematian pendaki bermula dari kurangnya persiapan, nggak ada urusan sama setan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski pendaki harus tetap menghargai mistisme lokal, tapi bukan berarti perhatiannya jadi fokus ke situ aja. Jangan sampai pendaki-pendaki pemula malah lebih ngapalin pantangan daripada mempelajari jalur. Ujung-ujungnya rawan tersesat dan kalau itu beneran terjadi, malah nyalahin jurik daripada introspeksi diri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Norman Edwin mencatat bahwa pada tahun 1970-an, penyebab utama petaka di gunung adalah tersasar dan si pendaki kurang persiapan. Kalau saja salah satunya dicoret, maka kemungkinan selamat masih besar. Contohnya, anggota pencinta alam tulen pun masih sangat mungkin tersasar. Tapi karena paham ilmunya, dia pasti menggunakan pakaian yang sesuai dengan medan dan di ranselnya pasti selalu ada bekal yang cukup serta perlengkapan bermalam yang layak. Simpelnya, 3 pokok kebutuhan dasarnya sebagai manusia tetap terpenuhi sehingga dia bisa mikir buat cari jalan keluar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lima puluh tahun berlalu namun statistik<\/span><a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/IndonesianMountainGuideAssociation\/posts\/statistik-kecelakaan-penyebab-kematian-di-gunung-mulai-dari-tahun-2013-sampai-20\/2075899589207075\/\"><span style=\"font-weight: 400;\"> APGI<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> masih menyampaikan hal yang serupa: penyebab tertinggi kematian di gunung adalah hipotermia dan tersasar. Lagi-lagi tersasar. Bayangkan jika doktrin penyebab tersasar adalah karena bisikan setan itu dilestarikan sama film horor pendakian gunung. Aku rasa 50 tahun mendatang statistiknya nggak akan jauh berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kurang-kurangin lah film horor pendakian gunung ini<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebab tersasar ya karena pendaki nggak paham jalur. Atau lebih tepatnya, kelewat angkuh untuk nggak mempersiapkan diri agar kenal dengan jalur. Opsi lain adalah karena pendaki memaksakan diri padahal kelelahan sehingga dia nggak bisa melihat medan dengan jelas. Intinya, kalau kita melepaskan bayang-bayang mistisme dari pendakian gunung, kita akan lebih efisien dalam mendeteksi penyebab yang logis sebagai upaya mencegah celaka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya nggak bisa tuh dalam perencanaan resiko pendakian, tertulis \u201cgangguan dedemit di 1400 mdpl\u201d dan mitigasinya adalah \u201csebut namaku 3 kali, Bento Bento Bento, ASIK!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak lucu kan? Maka dari itu, kurang-kurangin lah film horor pendakian gunung ini. Musnahkan, kalau bisa. Terlalu counter narrative dari edukasi yang diberikan kelompok-kelompok pencinta alam dan pemandu petualangan soalnya. Film pendakian non-mistis akan laku juga kok, jika digarap dengan bagus. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">5 Cm <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Petualangan Sherina<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jadi buktinya. Jadi, tolong putar otak dikit lagi ya wahai para filmmaker Indonesia! Kepadamu keselamatan pendaki bangsa ini kutitipkan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Karina Londy<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyoal-larisnya-konten-horor-pendakian-gunung-dan-nyinyiran-pada-konten-romantismenya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menyoal Larisnya Konten Horor Pendakian Gunung dan Nyinyiran pada Konten Romantismenya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film horor pendakian gunung seakan-akan meludahi semua ilmu safety pendakian gunung yang ada, semua direduksi jadi masalah mistis semata.<\/p>\n","protected":false},"author":2852,"featured_media":318537,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[1053,27570,22505],"class_list":["post-318477","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-film-horor","tag-ilmu-pendakian-gunung","tag-pendakian-gunung"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/318477","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2852"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=318477"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/318477\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/318537"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=318477"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=318477"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=318477"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}