{"id":318441,"date":"2025-02-20T11:46:54","date_gmt":"2025-02-20T04:46:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=318441"},"modified":"2026-01-02T17:07:36","modified_gmt":"2026-01-02T10:07:36","slug":"tutorial-jadi-wn-malaysia-untuk-susanti-upin-ipin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tutorial-jadi-wn-malaysia-untuk-susanti-upin-ipin\/","title":{"rendered":"Langkah-langkah yang Harus Susanti Upin Ipin Lakukan agar Bisa Jadi Warga Negara Malaysia Seutuhnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seandainya Susanti Upin Ipin paham akan gonjang-ganjing yang sedang terjadi di Indonesia, ia pasti akan mempertimbangkan untuk ganti kewarganegaraan Malaysia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah menjadi imigran sejak masih TK membuat Susanti lebih banyak memiliki pengalaman hidup di Malaysia dibandingkan tanah air kelahirannya. Indonesia terlalu kejam untuk bocah seperti Susanti ketika ia dewasa nanti. Ia sudah jauh-jauh merantau dan mendapatkan pendidikan yang baik. Kalau ia kembali ke Indonesia, yang ada ia malah akan menderita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun masih TK, masa depan Susanti harus dipikirkan masak-masak. Daripada pulang ke Indonesia lalu kepentok batas usia 25 tahun, wajib berpenampilan menarik, punya pengalaman kerja 20 tahun, dan menguasai empat elemen Avatar saat akan daftar kerja, mending sekalian saja kerja di Malaysia. Pendapatan dan kesejahteraan pekerja di Malaysia lebih terjamin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paspor Malaysia juga lebih kuat dibandingkan Indonesia. Susanti bisa membangun personal branding di Instagram dengan jalan-jalan ke negara-negara Eropa, seperti Austria, Belgia, Inggris, hingga Prancis bebas visa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, hidup di Malaysia akan jauh lebih aman dan nyaman buat Susanti Upin Ipin. Kalau Susanti dan kedua orangtuanya memutuskan untuk kembali ke Indonesia, itu sama saja membuang peluang emas. Lebih baik sekalian saja pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Malaysia<\/span><\/p>\n<h2><b>Cara yang bisa ditempuh Susanti untuk jadi WN Malaysia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya ada cara bagi Susanti Upin Ipin untuk bisa mendapatkan kewarganegaraan Malaysia. Berdasarkan laman resmi yang dimiliki dan dikelola oleh Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) Kementerian Dalam Negeri Malaysia, terdapat tiga kondisi yang membedakan proses pengajuan kewarganegaraan Malaysia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga kondisi itu di antaranya lahir di Malaysia (asas ius soli), berusia di bawah 21 tahun dan memiliki setidaknya salah satu orang tua berkewarganegaraan Malaysia, atau<\/span><a href=\"https:\/\/www.jpn.gov.my\/my\/perkhidmatan\/warganegara\/warga-19-21lebih\"> <span style=\"font-weight: 400;\">berusia di atas 21 tahun<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> bagi yang nggak memiliki orang tua berkewarganegaraan Malaysia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, berhubung kedua orang tua Susanti adalah WNI, maka Susanti masuk ke dalam kategori ketiga. Dengan kata lain, Susanti baru bisa mengajukan kewarganegaraan Malaysia nanti setelah ulang tahunnya yang ke-21 tahun.<\/span><\/p>\n<h2><b>Syarat yang harus dipenuhi oleh Susanti<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapapun boleh mengajukan permohonan kewarganegaraan Malaysia asalkan sudah<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">memenuhi syarat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Permohonan ini dilakukan kepada Jabatan Pendaftaran Negara (JPN). Saat ini Susanti memang belum bisa mendaftar menjadi warga negara Malaysia. Pun dengan kedua orangnya yang belum cukup lama tinggal di Malaysia. Tapi waktu yang dinanti-nanti itu pasti akan tiba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mumpung Susanti Upin Ipin masih punya waktu yang panjang sebelum akhirnya menjadi pemegang<\/span><a href=\"https:\/\/www.passportindex.org\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">paspor terkuat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> nomor sepuluh di dunia, Susanti harus mempersiapkan banyak hal. Satu hal yang kelihatannya mudah tapi butuh waktu panjang adalah Susanti wajib bermukim di Malaysia selama total periode tidak kurang dari 10 tahun dalam 12 tahun, termasuk 12 bulan sebelum tanggal pengajuan permohonan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negara Malaysia juga mengharuskan pelamar kewarganegaraannya untuk memiliki pengetahuan bahasa Melayu yang cukup. Saya rasa Susanti sudah lumayan fasih berbahasa Melayu. Kadang-kadang saja bahasa yang ia ucapkan sudah bercampur antara bahasa Indonesia dan Melayu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Susanti juga diwajibkan untuk memiliki rencana tinggal di Malaysia secara permanen, alias nggak akan melepaskan kewarganegaraannya lagi nantinya. Susanti pun diharuskan berperilaku baik. Soal ini mah nggak perlu diragukan lagi. Susanti termasuk anak yang nggak neko-neko di Kampung Durian Runtuh. Justru Abang Roy yang harus ditinjau lagi kewarganegaraannya karena perilakunya meresahkan warga.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Dua sponsor untuk jadi warga negara Malaysia<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain syarat-syarat seperti di atas, Susanti tinggal melengkapi dokumen dan mengisi formulir, seperti kartu identitas, akta kelahiran, paspor, dan foto. Hanya saja, Susanti juga membutuhkan sponsor dua orang warga negara Malaysia berusia 21 tahun ke atas, tidak memiliki hubungan keluarga, bukan merupakan karyawan, atau pembela atau pengacaranya. Tapi gampang lah itu. Susanti tinggal minta bantuan saja kepada Tok Dalang atau bapaknya Ehsan yang punya titel Crazy Rich Durian Runtuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nanti Susanti tinggal datang saja ke Loket Divisi Kewarganegaraan di Kantor Pusat NRD Putrajaya atau Kantor Pusat NRD Negara Bagian atau Cabang dan membawa dokumen asli beserta salinannya. Susanti juga harus membayar sebesar RM 10 untuk pendaftaran dan RM 200-300 untuk penerbitan Sertifikat Kewarganegaraan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Susanti masih harus berurusan sama Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah sehabis mendapatkan kewarganegaraan baru Susanti lantas terbebas dari Indonesia? Oh, tentu tidak. Susanti masih harus membereskan beberapa hal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mendapatkan kewarganegaraan baru, Susanti<\/span><a href=\"https:\/\/www.hukumonline.com\/klinik\/a\/cara-pindah-kewarganegaraan-lt59b2426ec0ed5\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">wajib melapor<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk mendapatkan surat keterangan kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Susanti juga perlu membuat permohonan untuk mendapatkan surat keputusan tentang kehilangan kewarganegaraan atas permohonan sendiri kepada presiden.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika permohonan diterima, nama Susanti akan ada dalam daftar nama orang yang kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia dalam Berita Negara Republik Indonesia yang diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri. Tapi, setelah itu Susanti masih harus bayar lagi sebanyak Rp500 ribu-1 juta. Semangat menabung (uang dan kesabaran), Susanti.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susanti-upin-ipin-sudah-nggak-usah-balik-ke-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Susanti, Sudah Nggak Usah Balik ke Indonesia, kalau Mau Balik, Sehabis Pemilu 2029 Aja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seandainya Susanti Upin Ipin paham akan gonjang-ganjing yang sedang terjadi di Indonesia, ia pasti akan ganti kewarganegaraan Malaysia.<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":299739,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_comment_section":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[5612,27563,14409,5855],"class_list":["post-318441","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-malaysia","tag-pindah-kewarganegaraan","tag-susanti","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/318441","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=318441"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/318441\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/299739"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=318441"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=318441"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=318441"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}