{"id":318284,"date":"2025-02-22T11:00:08","date_gmt":"2025-02-22T04:00:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=318284"},"modified":"2025-02-22T11:00:08","modified_gmt":"2025-02-22T04:00:08","slug":"derita-tanpa-akhir-penumpang-bus-pantura-surabaya-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-tanpa-akhir-penumpang-bus-pantura-surabaya-semarang\/","title":{"rendered":"Derita Tanpa Akhir yang Dirasakan Penumpang Bus Pantura Surabaya Semarang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi itu jalanan masih lengang. Saya belum melihat ada pelajar sekolah menengah yang berseliweran mengejar jam masuk. Saya sendiri sudah sampai di <a href=\"https:\/\/travel.detik.com\/travel-news\/d-6600003\/naik-bus-ekonomi-lewati-pantura-pati-rembang-adalah-sebenar-benarnya-ujian\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perempatan Pasar Pentungan<\/a>, menanti bus Pantura Surabaya Semarang yang katanya tiap 15 menit sekali pasti lewat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHalah, omong kosong,\u201d ucap hati saya. Pagi itu, saya sudah 45 menit menunggu bus tersebut. Rasanya kesal sekali dan inilah penderitaan pertama terkait \u201cbus ajaib\u201d ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penderitaan naik bus Pantura Surabaya Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Calon penumpang akan merasakan jam ngaret. Bus Pantura Surabaya Semarang ada saja yang tidak tepat waktu. Selebihnya adalah soal untung-untungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang penumpang bisa mendapatkan bus yang bodinya masih mulus dan AC-nya nyala. Tidak jarang juga, penumpang dapat bus Pantura Surabaya Semarang dengan dinding-dinding berkarat, bangku miring sebelah, dan AC mati. Celakanya, tarif bus dengan dan tanpa AC itu sama saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah bertahun-tahun saya merasakan keresahan ini. Gimana, ya. Sejauh pengalaman saya, terkait bus ini isinya antara tidak nyaman dan terpaksa. Jatuhnya jadi menderita sekali dan ini tidak hanya tentang bus saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan rusak yang jadi penderitaan tersendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman sedih lain ketika naik bus Pantura Surabaya Semarang terjadi di jalanan. Jadi, kemacetan karena proyek tambal sulam jalur Pantura rasa-rasanya abadi. Mungkin, perbaikan di sana akan selesai ketika mau kiamat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu jalanan di Kudus selesai diperbaiki, giliran jalur Demak-Semarang ada saja yang perlu diperbaiki. Kadang-kadang becek, bahkan banjir. Alat-alat proyek seperti ekskavator, selender, dan mesin bobok penghancur jalan selalu saja menghadang di jalan. Tak jarang, bus Pantura Surabaya Semarang harus lewat Jepara demi menghindari kemacetan yang lebih parah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu perbaikan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebagai-warga-demak-saya-paling-iri-melihat-kehebatan-kabupaten-jepara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Demak<\/a> selesai, entah Batangan, Juwana, Pati, menyusul mengerjakan aspal bahkan membangun jembatan. Rasanya bikin muak karena setiap tahun kok perbaikan jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain bikin tidak nyaman, bayangin aja kamu naik bus Pantura Surabaya Semarang tanpa AC. Hawa panasnya bisa bikin emosi. Sudah begitu, bus berhenti lama di Terminal Pati untuk menunggu penumpang. Rasanya waktu berjam-jam terbuang sia-sia.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Derita di dalam bus Pantura Surabaya Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu ketika, saya pernah naik bus Pantura Surabaya Semarang kelas ekonomi tanpa AC. Dinding bus sudah reot dan berkarat. Sudah begitu bangkunya miring sebelah. Namun, saya heran, bus itu penuh penumpang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya naik, bus tancap gas dan melaju sampai Kaliori. Kecepatannya semakin naik hingga menyalip kendaraan-kendaraan besar. Bus melaju begitu kencang terkadang mengambil bahu kanan jalan arah berlawanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betapa goncangnya seisi bus reot yang melewati jalanan berlubang dengan kecepatan tinggi, bagaikan kaleng yang dikocok. Beberapa penumpang agaknya merasa khawatir, bahkan ada yang berlari ke arah belakang ketika bus hampir saja menabrak ekor truk kontainer.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri merasa tenang-tenang saja. Semakin kencang bus melaju, semakin sejuk udara yang mengalir, pun semakin cepat juga sampai tujuan. Namun sialnya, bus Pantura Surabaya Semarang ini masuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-gandul-kuliner-khas-pati-yang-kerap-dimaknai-secara-keliru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Pati<\/a>. Oh, mau ambil penumpang, pikir saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar saja, sopirnya turun dan setelah 30 menit lebih tak juga kembali ke bus. Saya perhatikan ke arah perginya, ternyata sopir itu tidur di bangku warung. Ya ampun!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja. Matahari mulai terik memancar di besi tua dengan mesin menyala. Panasnya bus Pantura Surabaya Semarang kayak neraka!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tambah lagi pengamen, pengemis, dan pedagang asongan tak kunjung habis masuk bus. Penumpang yang sudah resah mulai tak malu-malu untuk mengumpat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pilihan terbatas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah. Saya, seorang mahasiswa dengan ekonomi pas-pasan, yang kemana saja bersandar pada kendaraan umum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berharap, kelak, mereka yang baik bus atau kendaraan pribadi di jalur Pantura, bisa merasakan jalanan yang waras. Sederhana saja. Perbaikan jalan ya jangan tiap tahun, lah. Seakan-akan jalanan itu \u201cdiperbaiki\u201d bukan karena rusak, tapi memang nggak ada yang diperbaiki dengan benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kami dengan pilihan terbatas, yang bergantung kepada jalur Pantura dan bus-bus reot, jalan nggak rusak sudah jadi berkah tersendiri. Udah, itu saja. Nggak berlebihan, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Faalih<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/memori\/jalur-pantura-tumbalkan-nyawa-ribuan-pribumi\/\">Sejarah Jalur Pantura, Ada Sejak Mataram Islam yang Tumbalkan Nyawa Ribuan Pribumi di Masa Belanda<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penumpang bus Pantura Surabaya Semarang penuh dengan penderitaan. Mulai dari kondisi bus, sampai derita di jalur Pantura. Suram sekali.<\/p>\n","protected":false},"author":2868,"featured_media":318624,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[27578,27577,9816,15173,8826,5622,1245,4652,405,27579],"class_list":["post-318284","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-bus-pantura","tag-bus-pantura-surabaya-semarang","tag-demak","tag-jalur-pantura","tag-jepara","tag-pantura","tag-pati","tag-semarang","tag-surabaya","tag-terminal-pati"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/318284","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2868"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=318284"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/318284\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/318624"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=318284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=318284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=318284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}