{"id":317153,"date":"2025-02-14T11:00:11","date_gmt":"2025-02-14T04:00:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=317153"},"modified":"2025-02-14T10:52:44","modified_gmt":"2025-02-14T03:52:44","slug":"alasan-atm-20-ribu-di-jogja-tidak-boleh-lenyap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-atm-20-ribu-di-jogja-tidak-boleh-lenyap\/","title":{"rendered":"Alasan ATM 20 Ribu di Jogja Tidak Boleh Lenyap"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja menyimpan banyak kenangan. Bukan hanya karena nuansanya yang romantis dan menu angkringannya yang sedap, Jogja juga memiliki memori soal ekonomi warganya. Bukan, saya bukan mau membahas soal UMR Jogja yang senantiasa rendah itu. Saya mau membicarakan soal legenda ATM 20 ribuan yang menjadi kenangan masa muda para alumni sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuai namanya, ATM 20 ribuan ini memungkinkan nasabah bank untuk tarik tunai uang dengan pecahan Rp20.000. Saat ini kebanyakan ATM dari berbagai banyak menyediakan uang tunai pecahan Rp50.000 dan Rp100.000.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/ekonomi\/lokasi-atm-20-ribu-di-jogja-yang-masih-tersisa\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">ATM 20 ribuan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> masih tersisa beberapa saja di Jogja. ATM yang dimiliki oleh Bank BNI sejauh ini masih ada di Jalan Persatuan UGM, BNI Titik Nol Kilometer, dan BNI UPN Veteran. Ada juga ATM 20 ribu dari Bank Mandiri di\u00a0 Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Persatuan UGM.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan total ATM 20 ribu yang hanya berjumlah lima buah ini tentunya sangat terbatas. Bayangkan orang-orang yang bukan domisili Kota Jogja dan Kabupaten Sleman harus jauh-jauh ke lima ATM tersebut kala akhir bulan. Seharusnya lebih banyak lagi jumlah ATM 20 ribu yang disediakan oleh bank. Alasan-alasannya antara lain seperti ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jogja adalah Kota Pelajar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Titel \u201cKota Pelajar\u201d yang dimiliki oleh Jogja yang sudah terkenal itu ikut mencerminkan kondisi perekonomiannya. Mengingat di Jogja banyak banget pelajar, baik itu siswa maupun mahasiswa, otomatis mereka juga punya kecenderungan memiliki saldo rekening yang tipis. Khususnya bagi pelajar dari rantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saldo rekening yang minim itu harus dihemat-hemat untuk bisa hidup selama sebulan. Di awal bulan memang bisa foya-foya, tapi begitu masuk akhir bulan, para pelajar ini bakal berteman dekat dengan ATM 20 ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak bisa dimungkiri bahwa ATM 20 ribu memang menjadi penyelamat di akhir bulan. Berkat ATM ini, siapa saja bisa tarik tunai uang dalam nominal kecil alias bisa diambil seperlunya saja. ATM ini membuat pengelolaan uang jadi lebih mudah karena sekali ambil nggak harus langsung banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ATM 20 ribu juga membantu pelajar di akhir bulan untuk benar-benar \u201cmemeras habis\u201d saldonya. Semisal saldo di rekening tinggal Rp40.000, dengan ATM 20 ribu, saldo tersebut masih bisa diambil jika nggak ada kebijakan saldo mengendap. Kalau tarik tunai di ATM yang\u00a0 mengeluarkan pecahan Rp50.000 atau Rp100.000 kan mustahil ya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih mudah untuk dipakai jajan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembayaran dengan sistem nontunai atau cashless sekarang makin menjamur. Tapi, Jogja masih banyak warung dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/umkm-ladang-cuan-ketika-ekonomi-indonesia-terpuruk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMKM<\/a> yang hanya menerima pembayaran secara tunai. Semisal ada banyak ATM 20 ribu yang menjamur di berbagai sudut di Jogja, pasti siapa saja jadi lebih mudah untuk transaksi di warung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, sebagian besar dari kita kadang belanja di warung karena keadaan darurat. Dengan kata lain, belanjaan yang kita beli nominalnya nggak banyak. ATM 20 ribu bakal membantu banget ketika kita ingin jajan dengan total tagihan belanjaan yang kecil. Sementara, ATM 50 ribu atau 100 ribu, uang yang kita ambil nominalnya masih besar. Jika kita belanja dengan harga total di bawah Rp100.000, uang dengan nominal besar ini bakal menyusahkan kedua belah pihak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uang Rp100.000 itu menyusahkan pedagang atau penjaga warungnya karena mereka harus cari kembalian. Lantas kita sebagai pembeli akan merasa nggak enak karena nggak punya uang pas. Tapi, kalau kita menambah barang belanjaan, justru kita sendiri yang akan susah karena gagal berhemat.<\/span><\/p>\n<h2><b>ATM 20 ribu membuat Jogja semakin berhati nyaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah membaca bahwa ada<\/span><a href=\"https:\/\/x.com\/spiceindonesia1\/status\/1230037103192313856\"> <span style=\"font-weight: 400;\">warganet di X<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang pesimistik terhadap ATM 20 ribuan. Katanya, membayar barang atau jasa dengan pecahan Rp20.000 nggak akan membuat harga barang jadi lebih murah. Memang benar apa yang dia katakan. Berapapun uang yang kita tarik, harga barang akan tetap sama, bahkan nggak menutup kemungkinan malah naik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, uang dengan pecahan kecil justru membuat kita lebih nyaman berbelanja. Walau uang Rp20.000 sudah nggak ada dirinya, ia tetap mampu membuat kita jajan tanpa rasa bersalah. Berbelanja dengan pecahan Rp20.000 rasanya jauh lebih fleksibel dibandingkan belanja dengan uang Rp100.000, apalagi kalau dibeli tidak terlalu mahal. Rasanya sayang aja gitu keluar uang dengan nominal besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tarik tunai dari ATM 20 ribu juga membantu kita untuk mengalihkan uang-uang ini ke pos-pos pengeluaran tertentu dengan lebih mudah. Intinya sih ATM 20 ribu penting untuk psikologi warga Jogja yang sudah terlalu pusing dengan UMR rendah, kejahatan jalanan, dan keruwetan lalu lintas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Noor Annisa Falachul Firdausi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gen-z-nggak-ke-atm-tapi-langsung-tarik-tunai-sama-teman-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gen Z Nggak ke ATM, tapi Langsung Tarik Tunai sama Teman Sendiri<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa alasan ATM 20 ribu Jogja tidak boleh lenyap. Salah satunya, cocok dengan kantong warganya yang kebanyakan masih pelajar.<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":317165,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[4362,27488,27490,27491,115],"class_list":["post-317153","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-atm","tag-atm-20-ribu","tag-atm-20-ribu-jogja","tag-atm-jogja","tag-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/317153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=317153"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/317153\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/317165"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=317153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=317153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=317153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}