{"id":316532,"date":"2025-02-10T09:00:03","date_gmt":"2025-02-10T02:00:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=316532"},"modified":"2025-02-12T08:42:27","modified_gmt":"2025-02-12T01:42:27","slug":"andai-abah-dan-emak-hidup-serial-upin-ipin-jadi-biasa-aja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/andai-abah-dan-emak-hidup-serial-upin-ipin-jadi-biasa-aja\/","title":{"rendered":"Seandainya Abah dan Emak Masih Hidup, Serial Upin Ipin Malah Jadi Membosankan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin terdengar kejam, tapi serial <em>Upin Ipin<\/em> nggak akan menarik untuk ditonton kalau Abah dan Emak masih hidup. Penonton setia tayangan anak-anak asal Malaysia ini pasti tahu kalau orang tua Kak Ros, Upin, dan Ipin sudah tiada. Abah dan Emak diceritakan meninggal dunia saat si kembar masih bayi. Itu mengapa Kak Ros, Upin, dan Ipin diasuh dan tinggal bersama Opah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampung-durian-runtuh-kampung-ramah-anak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kampung Durian Runtuh<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alur cerita tersebut memang memilukan, tapi justru itulah roh dari serial anak-anak ini. Penonton yang kebanyakan anak-anak (walau tidak menutup kemungkinan banyak orang dewasa juga menontonnya) jadi belajar ada banyak bentuk keluar di sekitarnya. Keluarga tidak melulu ayah, ibu, dan anak. Di luar sana ada juga anak-anak yang seperti Upin dan Ipin, anak-anak yang tidak tinggal bersama orang tuanya. Namun, anak-anak ini tetap mendapat cinta yang penuh dari anggota keluarga lain, seperti Upin dan Ipin mendapat cinta dari Opah dan Kak Ros.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, ketiadaan karakter Abah dan Emak sebenarnya ada faktor ketidaksengajaan. Kabarnya, tim produksi <em>Upin Ipin<\/em> pada saat itu tidak sempat membuat karakter orang tua si kembar karena dikejar deadline tayang. Akhirnya, dibuatlah Abah dan Emak sudah meninggal dunia. Namun, berkat itulah alur cerita acara TV anak-anak ini jadi lebih berwarna dan unik. Saya nggak membayangkan betapa membosankannya alur cerita <em>Upin Ipin<\/em> kalau kedua karakter Abah dan Emak digambarkan masih hidup.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kak Ros tidak lagi marah-marah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal pertama yang terlintas di benak saya andai Abah dan Emak Upin Ipin masih hidup adalah perubahan karakter pada diri <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kak-ros-di-serial-upin-ipin-mending-sama-badrol-timbang-abang-iz\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kak Ros<\/a>. Saya membayangkan dia akan jauh lebih tenang dan bahagia. Ketenangan itu berasal dari lenyapnya beban di pundak Kak Ros karena tidak perlu lagi memikul tanggung jawab sebagai pengganti orang tua adik-adiknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, adegan Kak Ros marah-marah ke duo botak yang kadang digambarkan bak monster yang mengeluarkan api itu tidak akan lagi kita temukan. Kak Ros sebagai anak pertama akan fokus dengan sekolah, lalu les Kumon, dan mampir ke Gacoan bersama dengan teman-temannya sepulang sekolah. Apa itu buru-buru pulang sekolah karena harus beres-beres rumah dan menyiapkan makan malam? Nggak perlu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal adegan marah-marah itu menarik bagi penonton. Apalagi kalau duo botak yang iseng itu memang sengaja membuat kakaknya marah. Kadang penonton ikut cekikikan melihat aksi balas dendam adik ke kakaknya itu.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/andai-abah-dan-emak-hidup-serial-upin-ipin-jadi-biasa-aja\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Tak ada episode Sepeda Baru dari Tok Dalang karena Abah mampu beli yang baru&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Tak ada episode<\/b><b><i> Sepeda Baru dari Tok Dalan<\/i><\/b><b>g karena Abah mampu beli yang baru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila Abah dan Emak masih hidup, saya yakin semua kebutuhan Upin dan Ipin akan terpenuhi. Mereka tidak akan banyak bergantung pada Tok Dalang. Padahal banyak sekali episode di mana Tok Dalang membantu Upin Ipin, mulai dari memberi mainan hingga mengajarkan berbagai skill bertahan hidup. Bukan tidak mungkin si kembar akan lebih berjarak dengan Tok Dalang, waktu tayang kakek yang satu ini juga akan ikut menipis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya\u00a0 yakin episode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sepeda Baru dari Tok Dalang <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tidak akan pernah ada kalau Abah masih hidup. Padahal, episode ini menjadi salah satu favorit karena menyentuh di hati. Ceritanya, Upin dan Ipin sedih karena mereka tidak punya sepeda. Tok Dalang yang baik hati rela mengubah sepeda lama miliknya menjadi sepeda baru untuk Upin dan Ipin gunakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai Abah masih hidup, anaknya pasti akan dibelikan sepeda baru, bahkan mungkin model terbaru yang bisa bersaing dengan milik <a href=\"https:\/\/upinipin.fandom.com\/id\/wiki\/Ehsan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ehsan<\/a>. Abah lebih dari mampu untuk membeli itu, lha wong tentara, og! Bukan tidak mungkin pula, si kembar botak yang ceng-cengin teman-temannya yang tidak punya sepeda. Nanti kalau ada teman yang ngamuk gara-gara diceng-cengin, Upin Ipin bakal mengeluarkan jurus andalan anak tentara, \u201cAwas kamu, ya. Tak bilangin abahku nanti. Abahku tentara. Punya pistol!\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Menu makanan lebih bervariasi, nggak ayam lagi ayam lagi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang pernah diceritakan, semasa hidupnya Emak Upin dan Ipin berprofesi sebagai perawat. Nah, seandainya Emak masih hidup, saya yakin menu makanan di rumah akan lebih bervariasi, nggak ayam lagi ayam lagi. Sebagai seorang perawat, Emak\u00a0 sadar betul betapa pentingnya makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak. Itu mengapa, dia tidak akan membiarkan anak-anaknya hanya makan ayam goreng saja. Pastilah ada menu sayur serta buah yang menyertai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasti tidak mudah membujuk agar Upin Ipin mau makan sayur. Nah, bermacam-macam cara digunakan Emak agar mereka mau makan sayur. Bukan tidak mungkin, nantinya akan dijadikan episode tersendiri. Bila perlu, satu musim full isinya tips and trik bikin anak mau makan sayur ala emak Upin Ipin! Nah, loh. Masih mau nonton nggak kalau seperti itu?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Baju Upin Ipin akan lebih layak, minimal kaus berlengan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian coba perhatikan baik-baik, cara berpakaian dua bocah kembar ini, berbeda dengan teman-temannya yang lain. Saat teman-teman Upin Ipin tampil rapi dengan kaus berlengan pendek, cucu kesayangan Opah terlihat mengenakan singlet warna biru dan kuning saja. Kalau kata orang Tegal: Lekton, singkatan dari kelek katon alias ketiak kelihatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kaos singlet memang praktis, bisa jadi itu sebabnya Upin dan Ipin selalu mengenakannya. Mau bagaimana lagi? Opahnya sibuk bekerja di kebun karet milik <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ah-tong-upin-ipin-tokoh-paling-berpengaruh-di-durian-runtuh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ah Tong<\/a>. Sementara Kak Ros lebih sibuk lagi. Kehidupannya sehari-hari berputar pada sekolah, mengurus rumah, dan membuat pesanan nasi lemak untuk dijual. Mana sempat dia memikirkan outfit adik-adiknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seandainya Abah dan Emak masih hidup, saya yakin si kembar pasti berpenampilan lebih baik. Minimal, dua bocil itu akan menggunakan kaus yang ada lengannya. Soalnya, Emak akan bilang gini, \u201cPakai baju yang bener. Abahmu tentara, emakmu perawat masa anaknya nggak terawat?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Kemungkinan lain yang paling parah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemungkinan lain yang bisa terjadi andai Abah dan Emak Upin Ipin masih hidup, mereka tidak akan tinggal di Kampung Durian Runtuh. Mereka akan jadi keluarga yang tinggal di kota besar, mengikuti tempat dinas orang tua. Karena orang tuanya sibuk, Upin dan Ipin tumbuh tak ubahnya seperti anak-anak masa kini. Setiap hari hanya HP-nan dan HP-nan terus. Entah main FF, entah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mau-diakui-atau-tidak-pemain-mobile-legends-indonesia-memang-toxic\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mobile Legend<\/a>, entah bikin video JJ.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah begitu, masih menarikkah serial Upin dan Ipin versi Abah dan Emak masih hidup untuk ditonton? Rasa-rasanya kok serial ini jadi seperti menonton keluarga pada umumnya ya, jadi kurang variatif alur ceritanya. Mungkin terdengar jahat dan nirempati, tapi memang lebih baik karakter Abang dan Emak tidak pernah ada. Toh Upin dan Ipin tetap tumbuh sebagai anak yang ceria, baik, dan bertanggung jawab.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membayangkan-kak-ros-menghilang-dari-kehidupan-upin-ipin\/\"><b>Membayangkan Betapa Berantakan Hidup Upin Ipin kalau Kak Ros Menghilang dari Kehidupan Mereka<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seandainya Abah Emak Upin Ipin masih hidup, alur cerita serial TV anak-anak asal Malaysia ini jadi kurang beragam dan membosankan.  <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":316534,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[27449,27448,27450,27451,5855],"class_list":["post-316532","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-abah-emak","tag-abah-emak-upin-ipin","tag-abah-upin-ipin","tag-emak-upin-ipin","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/316532","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=316532"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/316532\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/316534"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=316532"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=316532"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=316532"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}