{"id":316382,"date":"2025-02-09T11:27:26","date_gmt":"2025-02-09T04:27:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=316382"},"modified":"2025-02-09T11:27:26","modified_gmt":"2025-02-09T04:27:26","slug":"curug-di-bogor-tidak-menarik-lagi-karena-pungli","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/curug-di-bogor-tidak-menarik-lagi-karena-pungli\/","title":{"rendered":"Wisata Curug Bogor Tidak Menarik Lagi Sejak Harga Tiket Mahal dan Banyak Pungli"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sekian banyak tempat wisata beserta potensinya di Bogor, sebagai warga Bogor, saya menilai banyak curug yang tersebar di Bogor sudah kurang, bahkan tidak menarik lagi untuk dikunjungi. Sudahlah kumuh dan terkesan tidak dirawat, harga tiket masuk semakin mahal, ditambah adanya pungutan liar yang tersebar di beberapa titik, menjadikan banyak curug di Bogor, sudah nggak asyik untuk dikunjungi, sekalipun diromantisisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika pemerintah lokal punya niatan menggarap warisan alam ini dengan serius dan konsisten, bukan tidak mungkin banyak curug di Bogor akan menjadi potensi wisata dengan pemasukan yang besar. Bukan asal mematok harga tiket masuk dengan mahal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, okelah, sebagian beranggapan ada permainan oknum di lapangan. Tapi, poinnya adalah, sejauh mana hal ini secara serius dimonitoring, lalu diselesaikan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Curug di Bogor tidak pernah ramah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah menjadi rahasia umum bahwa perjalanan menuju banyak curug di Bogor tidak pernah mudah ditempuh. Selain jarak yang jauh, jalanan menanjak sekaligus terjal, sempit, berbatu, masih menjadi kendala utama dari segi akses.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penderitaan belum selesai sampai di situ. Ketika pengunjung tiba, setelah mesti membayar harga tiket masuk yang saat ini sudah mencapai puluhan ribu rupiah, tiket parkir mahal (bahkan sering kali \u2018ditembak\u2019 tarifnya), ditambah lagi saat perjalanan menuju curug, tiap beberapa langkah ada saja pungli yang sudah ngetem. Bukan cuman di satu titik, tapi beberapa titik sampai tiba di tempat tujuan: curug.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, berapa banyak duit yang perlu disiapkan pengunjung hingga tiba di curug yang diinginkan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasannya beragam dan ada-ada saja. Apa pun itu, rasanya nggak masuk akal. Ya, yang namanya pungli, alasannya memang nggak pernah make sense, sih. Diada-adain dengan alasan uang keamanan, kebersihan, maintenance tempat wisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, nggak heran kalau di media sosial, perbandingan antara harga <a href=\"https:\/\/ragunanzoo.jakarta.go.id\/info-pengunjung\/tiket\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tiket masuk Ragunan<\/a>, Taman Mini, dan curug di Bogor, sempat diperdebatkan. Dan curug, menjadi satu tempat yang menjadi sorotan karena beberapa alasan yang sudah disebutkan sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, salah satu pengguna Twitter bercerita, dia pernah ke curug di Bogor dengan harga tiket masuk yang murah, tidak ada pungli, dan tarif parkir juga normal. Tapi, dia datang menjelang maghrib. Mendekati petang, menuju malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang nggak beres? Jelas. Sudah pasti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, wisata curug tidak pernah dan tidak layak dibuka sampai maghrib apalagi malam. Dari sini saja sudah salah. Ada oknum yang perlu dibereskan. Selain itu, Resiko juga terlalu besar. Belum lagi saat musim hujan. Jalanan menuju curug atau saat tiba di curug licin. Belum lagi beberapa jalan setapak di beberapa titik yang berlumut.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kalau regulasinya jelas, masalah mudah diatasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya begini. Dengan regulasi yang tepat sasaran, beberapa persoalan tersebut sebetulnya bisa diatasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalaupun memang harga tiket mahal dan output-nya terlihat jelas; tidak kumuh, bersih, adanya fasilitas yang layak serta memadai, saya pikir, pengunjung mana pun akan merasa puas. Banyak pengalaman menyenangkan yang bisa diceritakan dan diviralkan karena hal baik. Sehingga feedback yang didapat pun jelas: pendapatan meningkat dan curug menjadi potensi wisata yang tetap ramai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Realitasnya adalah sebaliknya: seperti jalan di tempat. Malah, rasanya mengalami kemunduran. Seperti diabaikan, nggak dipedulikan. Atau paling nggak, seadanya saja. Niat nggak niat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling tidak untuk saat ini, sayangnya banyak curug di Bogor bukan menjadi tempat pilihan utama rekreasi yang nyaman untuk dikunjungi. Sialnya lagi, pembenahan pun tidak kunjung dilakukan sejak dini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, akui saja bahwa warisan alam ini terkesan diabaikan. Meski beberapa tahun lalu, sempat menjadi incaran banyak pengunjung yang berasal dari dalam atau luar kota untuk melepas penat.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sepi jadi bukti<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Okelah, lonjakan harga tiket masuk ke banyaknya curug memang sudah disepakati oleh beberapa pengelola atau instansi terkait yang mengurus wisata curug di Bogor. Tapi, fakta bahwa sepinya pengunjung dan keluhan lainnya nggak bisa dibantah, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba dicek kembali praktik di lapangannya seperti apa, Pak Kepala Dinas dan tim terkait. Dimonitoring juga secara berkala, Pak. Banyak curug yang tersebar di kabupaten Bogor masih punya potensi tinggi untuk menjadi tujuan utama rekreasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa kali, Pak, salah satu warisan alam tersebut dimaksimalkan dan dibuat menyenangkan dari sisi akses jalan, fasilitas yang mumpuni, dan harga tiket yang terjangkau. Jangan lupa juga disosialisasikan, ya. Baik dari penyesuaian harga maupun lokasi wisatanya. Biar lebih menarik minat pengunjung dan menikmati keindahan curug.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Seto Wicaksono<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-orang-bandung-ciater-subang-lebih-emanrik-dari-lembang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Orang Bandung Lebih Senang Berwisata ke Ciater, Subang daripada Lembang<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari sekian banyak tempat wisata beserta potensinya di Bogor, saya menilai banyak curug di Bogor sudah tidak menarik lagi untuk dikunjungi.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":316469,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9819,27436,12737,27437],"class_list":["post-316382","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bogor","tag-curug-di-bogor","tag-pungli","tag-tarif-tiket"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/316382","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=316382"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/316382\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/316469"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=316382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=316382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=316382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}