{"id":315798,"date":"2025-02-07T08:00:58","date_gmt":"2025-02-07T01:00:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=315798"},"modified":"2025-02-07T17:09:26","modified_gmt":"2025-02-07T10:09:26","slug":"5-hal-yang-lumrah-di-spanyol-tapi-nggak-wajar-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-yang-lumrah-di-spanyol-tapi-nggak-wajar-di-indonesia\/","title":{"rendered":"5 Hal yang Lumrah di Spanyol, tapi Nggak Wajar di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak pernah saya sangka membuka tahun ini dari Spanyol, negara yang berjarak lebih dari 12.000 kilometer jauhnya dari Indonesia. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kini saya tinggal di A Guarda, sebuah kota kecil di sisi utara Negara Matador, lebih tepatnya sekitar 600 kilometer dari Madrid, Ibukota Spanyol. Secara administratif, kota ini bagian dari daerah Galicia yang terkenal dengan keunikan dan keindahan alamnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila ditanya, bagaimana daerah tempat tinggal saya yang sekarang? <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/slow-living-di-jogja-itu-mudah-asalkan-kamu-kaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Slow living<\/a> mungkin kata yang sangat tepat. Di sana tidak ada kemacetan dan orang tidak serba terburu-buru. Belum lagi pantai dan gunung yang bisa dengan mudah diakses dari kota. A Guarda juga menyimpan\u00a0 perpaduan unik antara tradisi Galicia dan pengaruh Celtic yang tercermin dari peninggalan arkeologi dan musiknya. Suasana slow living semakin kental karena A Guarda hanya dihuni oleh kurang lebih 10.000 penduduk dengan mayoritas lansia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tempat tinggal saya yang sekarang jauh berbeda dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jakarta-daerah-yang-paling-enak-dikritik-ketimbang-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a>, kota terakhir yang saya tinggali sebelum hijrah ke Spanyol. Sebagai seseorang yang bertahun-tahun hidup di Ibu Kota, jelas banyak sekali kekagetan yang dirasakan. Banyak hal terasa aneh dan tidak wajar di mata saya orang Indonesia yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Negara Matador.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jam makan di A Guarda, Spanyol agak berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari pertama di A Guarda, Spanyol, saya kaget bukan main dengan jam makan yang cukup berbeda dengan jam makan di Indonesia. Saat di Indonesia, saya dan teman-teman kantor biasa makan siang pada pukul 12.00 hingga 13.00. Namun, di sini,\u00a0 jam makan siang saya jadi sedikit terlambat, baru dimulai pukul 14.00. Sementara untuk jam makan malam baru dimulai pukul 22.00. Pikir saya, apa tidak keburu lapar dan mengantuk makan malam jam segitu?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keunikan lainnya, rumah makan di A Guarda dan daerah-daerah lain di Spanyol hanya buka selama jam makan. Lantas, bagaimana kalau lapar di luar jam makan itu? Cara paling tepat adalah mempersiapkan bekal atau memasak di rumah. Agak repot memang, tapi bisa menghemat pengeluaran. Sebab,\u00a0sekali makan di rumah makan bisa merogoh kocek minimal 8 euro atau kurang lebih Rp150.000 per orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Toko-toko tutup di jam makan siang, hari Minggu, dan hari libur nasional<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebalikan dengan rumah makan yang hanya buka pas jam makan, toko-toko di\u00a0 Spanyol akan tutup selama jam makan. Biasanya toko-toko yang tutup ini dimiliki oleh perorangan seperti toko kelontong dan toko buku. Mereka tutup mulai 14.00 hingga 16.00. Jadwal ini bukan sesuka hati ya, jam operasional toko-toko di Spanyol memang ada regulasinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka menggunakan waktu tutup itu untuk makan siang dan beristirahat, biasanya tidur siang. Kebiasaan ini dikenal dengan La Siesta dan sudah menjadi tradisi di Spanyol. Saya rasa, kalian yang mendambakan work life balance sangat cocok hidup di sini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Adanya waktu istirahat sangat membantu pemilik dalam mengelola toko. P<span style=\"font-weight: 400;\">emilik bisa menghemat biaya pekerja. Tidak ada pelanggan yang datang ke toko karena di jam istirahat itu\u00a0 orang-orang sibuk menyantap makan siang. Itu mengapa,\u00a0 toko-toko milik perseorangan tidak perlu menambah karyawan untuk melayani pelanggan. Mereka cukup menutup tokonya di jam makan siang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya jam makan siang, toko-toko juga akan tutup seharian penuh di hari Minggu dan hari libur nasional. Jadi, biasanya warga Spanyol akan belanja kebutuhan di hari Jumat atau Sabtu.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Indonesia yang terbiasa melihat para pekerja bekerja siang dan malam. Bahkan, makan siang pun terkadang disambi sambil bekerja, La Siesta benar-benar konsep yang asing.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kuliner Spanyol begitu lekat dengan minyak zaitun dan roti<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya dan mungkin banyak orang Indonesia lain, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/penjaskes\/menjaga-kesehatan-rambut-dengan-minyak-zaitun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">minyak zaitun<\/a> bukan bahan makanan yang ramah di lidah. Selama di Indonesia, saya memang tidak pernah mencicipi makanan berbahan minyak zaitun. Jadi, begitu sampai di Spanyol dan mencicipi berbagai jenis kuliner di sana, saat itu saya menyadari akan perlu waktu panjang untuk menyesuaikan diri. Sebab, sebagian besar kuliner Negeri Matador itu menggunakan minyak zaitun. Bahan ini selalu hadir di setiap masakan khas Spanyol, seperti pulpo a gallega dan gazpacho.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, Spanyol adalah salah satu negara dengan konsumsi minyak zaitun terbesar di dunia. Salah satu sumber yang saya baca menyebutkan, Spanyol mengonsumsi hingga 107 juta liter minyak zaitun sepanjang 2024. Bayangkan, 107 juta liter itu sama banyaknya dengan 5,6 juta galon air mineral.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya tidak hanya minyak zaitun yang lekat dengan kuliner Spanyol, ada juga <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">barra de pan. Panganan ini berbentuk roti panjang seperti <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">baguette<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya gurih seperti roti pada umumnya, tidak ada rasa asing atau manis.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, orang Spanyol membeli 3 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">pan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sekaligus untuk dihidangkan di rumah dan disimpan beberapa hari ke depan. Bagi orang Spanyol, rasa makanan akan lebih nendang apabila dihindangkan bersama dengan roti ini. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka menyantapnya dengan cara merobek roti menjadi potongan kecil sebesar satu suapan mulut dengan tangan mereka. Kalau di Indonesia, roti mungkin semacam kerupuk ya, kehadiran menambah nikmat makanan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Sulit menemukan terjemahan bahasa Inggris dalam kemasan produk\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berani jamin, kemasan produk-produk di Indonesia jauh lebih ramah bagi orang asing daripada kemasan produk-produk Spanyol. Di sini, sebagian besar kemasan produk tertulis dalam bahasa Spanyol dan Portugis, jarang ada yang menyertakan terjemahan dalam bahasa Inggris. Saya bisa memahami sih,<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> A Guarda dengan perbatasan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-mudah-bikin-orang-portugal-marah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Portugal<\/a> sangat dekat, bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 20 menit. Itu mengapa banyak produk-produk Portugal dijual ke Spanyol, begitu pula sebaliknya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, selain bahasa Spanyol dan Portugis, beberapa kemasan produk juga ditulis dalam bahasa Jerman, Belanda, Italia, Finlandia, bahkan bahasa Yunani. Anehnya, jarang sekali terjemahan bahasa Inggris tertera di kemasan suatu produk. Padahal, pikir saya, bahasa Inggris lebih familiar di negara-negara Eropa daripada di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, betapa kesalnya saya sebagai orang yang baru pertama kali menginjakan kaki di Spanyol dengan kamampuan bahasa Spanyol yang masih dasar. Kesulitan? Tentu saja, tapi untung ada <\/span>aplikasi translator yang menyelamatkan hidup saya selama berbelanja di sini. <b>\u00a0<\/b><\/p>\n<h2><b>#5 Merayakan ulang tahun ke-90 adalah hal yang wajar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian besar anak muda usia produktif di A Guarda memilih mengadu nasib di kota-kota besar seperti Madrid, <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Barcelona\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Barcelona<\/a>, atau Valencia. Ya miriplah dengan anak muda Indonesia yang merantau ke Jakarta, Bandung atau Surabaya.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, di sini saya lebih banyak bergaul dengan lansia, kelompok masyarakat mayoritas di A Guarda, Spanyol. Asal tahu saja, Spanyol menyandang predikat sebagai salah satu negara yang memiliki kualitas hidup terbaik di Eropa. Tidak heran, merayakan ulang tahun ke-90 adalah hal yang wajar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, jangan salah, walau sudah berumur 90 tahun, para lansia ini tidak hanya rebahan di rumah saja. Sedikit cerita nih, di sini saya ikut klub badminton dan berteman dengan salah satu anggotanya. Bukan teman seumuran tentu saja, beliau ibu-ibu yang usianya sudah di akhir 60-an. Saya sangat salut, di usia kepala 6, beliau masih aktif untuk beraktivitas. Jadwal setiap Rabu adalah kelas badminton dan jadwal setiap Jumat adalah kelas gitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa hal yang saya jumpai selama tinggal di A Guarda, Spanyol. Memang belum lama tinggal di sini, baru seumur jagung, tapi ada banyak hal yang bikin saya kaget sebagai orang Indonesia. Hal-hal yang asing di negara asal, tapi sangat wajar di Negara Matador ini. Kalau begini, saya jadi terus menanti-nanti kejutan lain dari A Guarda Spanyol.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Shesa Uli<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beasiswa-turki-cara-paling-gampang-untuk-kuliah-di-luar-negeri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Daftar Beasiswa Turki Adalah Cara Paling Mudah bagi Kalian yang Ingin Kuliah di Luar Negeri<\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak hal nggak wajar A Guarda, Spanyol dari kacamata orang Indonesia, di antaranya soal jam makan, La Siesta, hingga banyaknya lansia. <\/p>\n","protected":false},"author":2859,"featured_media":315867,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[31,11930],"class_list":["post-315798","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-indonesia","tag-spanyol"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315798","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2859"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=315798"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315798\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/315867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=315798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=315798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=315798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}