{"id":315729,"date":"2025-02-06T15:00:04","date_gmt":"2025-02-06T08:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=315729"},"modified":"2025-02-06T14:29:20","modified_gmt":"2025-02-06T07:29:20","slug":"membayangkan-pramoedya-ananta-toer-jadi-menteri-kebudayaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membayangkan-pramoedya-ananta-toer-jadi-menteri-kebudayaan\/","title":{"rendered":"Membayangkan Pramoedya Ananta Toer Menjadi Menteri Kebudayaan, Pasti Banyak Terobosannya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memperingati seabad kelahiran Pramoedya Ananta Toer yang jatuh pada 6 Februari 2025 akan menjadi momen yang sangat penting. Bagi saya, ini bukan sekadar mengenang sosok penulis besar, tetapi juga mengingatkan kembali tentang betapa pentingnya kebebasan berpikir, sesuatu yang telah beliau perjuangkan sepanjang hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membayangkan Pram, begitu biasa dia sapa, sebagai Menteri Kebudayaan Indonesia, jelas imajinasi yang liar. Sebab, selain raganya sudah tiada di muka bumi, imajinasi semacam ini membawa saya pada sebuah harapan besar. Harapan yang sulit untuk terwujud di kondisi negara seperti sekarang ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, Pram bukan sekadar sastrawan, dia juga seorang pemikir tajam yang sangat kritis terhadap ketidakadilan sosial, politik, dan budaya. Jika beliau diberi jabatan sebagai Menteri Kebudayaan, saya yakin banyak terobosan yang akan terjadi, baik di ranah seni maupun budaya Indonesia secara umum.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebebasan berekspresi tanpa batasan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangan pertama saya, Menteri Kebudayaan Pram pasti akan memberi ruang ekspresi seluas-luasnya untuk masyarakat, terutama yang disampaikan lewat seni atau berbagai bentuk budaya lain. Sebagai pemikir kritis, dia tahu betul bahwa setiap orang berhak berbicara dan mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau jelas akan menentang segala bentuk pembredelan atau penyensoran terhadap ekspresi budaya. Termasuk saat ketika terjadi kontroversi pembatalan pameran lukisan karya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/aktual\/lukisan-yos-suprapto-kurang-cocok-dipajang-di-pameran-galeri-nasional-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Yos Suprapto di Galeri Nasional<\/a> yang disebut tidak lolos kurasi. Dapat dipastikan Pram akan mengedepankan kebebasan ekspresi dan menegaskan bahwa seni, dalam segala bentuknya, harus bebas dari intervensi politik yang membatasi ekspresi artistik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan sifat idealisnya, ruang yang lebih terbuka untuk kebebasan dalam penyampaian aspirasi dapat terbuka lebar. Seniman besar maupun komunitas budaya di tataran lokal bakal mendapat tempat yang layak dalam narasi budaya nasional. Ini akan menjadi salah satu kunci sukses agar seni dan budaya dapat digunakan sebagai alat untuk membangun kesadaran sosial, bukan hanya sebagai alat kontrol atau manipulasi oleh kekuasaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pram akan menjadikan seni sebagai alat perlawanan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karya-karya Pram identik dengan kritik terhadap ketidakadilan sosial dan politik. Andai saja Pram menjadi Menteri Kebudayaan, sudah pasti seni tidak hanya akan dipandang sebagai hiburan atau estetik semata. Seni juga bisa dipakai sebagai alat untuk perlawanan, jadi senjata bagi masyarakat untuk melawan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Baik itu dalam skala kecil di tingkat desa, kabupaten maupun dalam konteks yang lebih besar, seperti kebijakan negara yang merugikan rakyat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, ini bukan hal yang mudah. Pramoedya pasti akan menghadapi banyak tantangan, termasuk dari pihak-pihak yang merasa terganggu. Namun, seperti yang sudah kita saksikan dari perjuangan hidupnya, beliau tidak akan gentar. Justru, jabatan menteri akan sangat menguatkan posisi beliau untuk memperjuangkan kebebasan berekspresi dan berpikir.<\/span><\/p>\n<h2><b>Membuka akses pendidikan berwawasan budaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memastikan seni dapat menjadi alat perlawanan yang efektif, Menteri Kebudayaan Pram pasti akan memperluas <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seharusnya-anak-miskin-yang-bisa-kuliah-tak-perlu-diromantisasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">akses pendidikan<\/a> secara lebih mendalam. Dengan pendidikan yang lebih baik, masyarakat akan menyadari bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara untuk memahami dunia, mengkritisi kebijakan, dan mendorong perubahan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di bawah kepemimpinannya akan ada banyak program yang lebih terstruktur dan aksesibel, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Beliau pasti akan mendorong agar lebih banyak sekolah atau komunitas yang bisa mengakses pendidikan seni dan budaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan begitu, seni akan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang lebih luas. Bukan hanya di ruang kelas, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dan yang lebih penting lagi, melalui pendidikan yang baik, akan lahir generasi baru yang lebih peka terhadap ketidakadilan. Mereka akan lebih berani mengungkapkan suara mereka melalui karya seni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataannya, tanpa jabatan resmi sebagai <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kementerian_Kebudayaan_Republik_Indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menteri Kebudayaan<\/a> sekalipun, Pramoedya Ananta Toer Pramoedya telah berhasil menanamkan semangat berpikir kritis kepada banyak orang. Selama hidupnya, meski sering kali diteror oleh kekuasaan yang menindas, beliau tetap teguh dan konsisten dalam perjuangannya. Satu abad untukmu, Pramoedya Ananta Toer Pramoedya, terima kasih atas segala warisan gagasan dan jasamu yang tak ternilai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dimas Junian Fadillah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/saya-dan-pram-memang-suka-membakar-sampah-tapi-tetangga-saya-tidak\/\"><b>Saya dan Pram Memang Suka Membakar Sampah, Tapi Tetangga Saya Tidak<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seandainya Pramoedya Ananta Toer jadi Menteri Kebudayaan Indonesia, pasti banyak orang lebih bebas berekspresi secara kritis.<\/p>\n","protected":false},"author":2710,"featured_media":315754,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13303],"tags":[8781,4631,1576,27403],"class_list":["post-315729","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku","tag-blora","tag-pram","tag-pramoedya-ananta-toer","tag-seabad-pram"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2710"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=315729"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315729\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/315754"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=315729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=315729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=315729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}