{"id":315512,"date":"2025-02-04T10:52:07","date_gmt":"2025-02-04T03:52:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=315512"},"modified":"2025-02-05T12:19:13","modified_gmt":"2025-02-05T05:19:13","slug":"bus-sleeper-jelas-lebih-unggul-daripada-kereta-eksekutif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bus-sleeper-jelas-lebih-unggul-daripada-kereta-eksekutif\/","title":{"rendered":"Bus Sleeper (Jelas) Lebih Unggul daripada Kereta Eksekutif, Ini Alasannya!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kereta dan bus jadi moda transportasi yang sangat umum dan menjadi pilihan bagi masyarakat Indonesia. Jenis dan status keduanya memang berbeda yang mana Kereta Api statusnya moda transportasi plat merah, sementara bus umumnya adalah swasta, tapi keberadaan keduanya menjadi gambaran tentang sebuah persaingan. Mereka sama-sama punya empat jenis kelas. Kereta api dengan kelas ekonomi, ekonomi premium, bisnis, dan eksekutif, sedangkan bus dengan kelas ekonomi, eksekutif, super eksekutif, dan sleeper.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu kemudian melahirkan orang-orang fanatik pengguna kedua moda transportasi tersebut sehingga memicu perdebatan, terutama di kelas tertingginya, yaitu mana yang lebih baik antara kereta api eksekutif dengan bus sleeper?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi yang sering bepergian ke luar kota jadi pihak yang menggunakan keduanya, tentu disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan saya saat bepergian. Meski sebelumnya saya pernah menulis di<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sleeper-bus-nggak-selalu-nyaman-ada-sisi-mengecewakannya\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang bagaimana saya tidak terlalu tertarik menggunakan bus sleeper. Tapi jika disuruh milih yang mana, bus sleeper atau kereta api eksekutif, maka saya lebih memilih bus sleeper. Saya punya argumennya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kita perlu sepakat terlebih dahulu, alasan utama mayoritas kedua moda transportasi darat kelas elit ini dipilih oleh banyak orang adalah kenyamanan saat perjalanan jauh. Setelah itu, pertimbangan lainnya mengikuti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, perihal pertimbangan lain, saya merasa bus sleeper punya beberapa hal yang membuatnya punya keuntungan lebih daripada kereta api eksekutif. Ini bisa jadi bahan pertimbangan supaya gak perlu berdebat soal mana yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harga tiket bus sleeper yang lebih murah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bus sleeper punya tarif harga yang lebih murah daripada kereta api eksekutif untuk rute perjalanan yang sama. Saya ambil ilustrasi misalnya perjalanan dari Surabaya-Jakarta. Harga tiket bus sleepernya hanya berkisar antara Rp350 ribu (PO Sinar Jaya)-600 ribu (PO 27 Trans). Sedangkan kereta api eksekutif, harganya sudah di atas Rp570 ribu (KA Gumarang)-Rp750 ribu (<a href=\"https:\/\/en.tiket.com\/kereta-api\/ka\/sembrani\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KA Sembrani<\/a>).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri sih pilih harga yang lebih terjangkau dengan kenyamanan yang nggak jauh beda ya. Sama-sama bisa buat tidur, kan? Loh tapi kan jalurnya beda? Eh Mayoritas bus sleeper itu menggunakan jalur tol, jadi ya nggak perlu khawatir bis kebanyakan goyang karena jalan berlubang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Fasilitas yang lebih lengkap<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Naik kereta api eksekutif dengan harga tertinggi, nggak bikin kamu bisa menikmati semuanya dengan gratis. Nyatanya yang gratis hanya ke toilet sama selimut aja. Makanan dan minuman semuanya bayar lagi. Hal itu berbeda dengan fasilitas bus sleeper yang dari tempat tidurnya saja sudah ada selimut dan bantal. Lebih memberikan privasi kepada penumpang, sehingga mau gesar-geser posisi tubuh nggak sungkan sama penumpang lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian diberikan snack selama perjalanan, dan jelas gratis. Nggak jarang juga ada pantry dan kopi yang tentunya gratis, karena sudah masuk akomodasi yang dihitung dari tiket yang penumpang bayarkan. Selain itu, yang lebih penting adalah, makanan utama yang diberikan bus sleeper itu selalu enak dan mewah. Bahkan ada beberapa PO yang memberikan ruang khusus yang terpisah dari penumpang bus kelas lain untuk tempat makanan penumpangnya.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bus-sleeper-jelas-lebih-unggul-daripada-kereta-eksekutif\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Fleksibilitas jadwal FTW!<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Fleksibilitas jadwal bus sleeper<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah jelas bahwa bus sleeper punya jadwal yang lebih fleksibel karena penumpang diberikan banyak pilihan. Dari pagi hingga malam, bus selalu tersedia karena PO yang menawarkan bus sleeper tidak hanya satu atau dua, tapi banyak. Hal itu membuat penumpang seperti saya punya keleluasaan dalam memilih. Bisa disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan yang lebih penting, perbedaan harga antara satu PO dengan yang lainnya tidak berbeda jauh. Harga yang jauh lebih mahal biasanya setimpal dengan fasilitas yang diterima oleh para penumpang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini berbeda dengan kereta api eksekutif yang jadwalnya lebih kaku. Hanya tersedia di jam-jam tertentu dengan KA yang berbeda. Misalnya Jayabaya yang hanya tersedia pada waktu siang hingga sore. Atau Sembrani yang tersedia hanya pada pagi hari. Kemudian untuk harga tiketnya pun selisihnya bisa berbeda jauh antara kedua kereta api tersebut.<\/span><\/p>\n<h2><b>Waktu tempuh yang nggak jauh berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang bilang, kereta api terlebih yang eksekutif punya waktu tempuh dalam perjalanan yang lebih pasti dan cepat. Kalau perkara pasti, ya memang nggak bisa dimungkiri jalur kereta api bisa dibilang hampir tanpa hambatan. Tapi perkara waktu tempuh, sebenarnya antara kereta api eksekutif dan bus sleeper ini kalau sama-sama kondisi normal, selisihnya hanya 1-2 jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kembali ambil contoh untuk rute perjalanan Surabaya-Jakarta. Waktu tempuh kereta Api biasanya berkisar 8,30 jam-11 jam. Bahkan ada beberapa kereta yang dalam rutenya hanya melewati kereta tertentu, bisa sampai 14 jam. Sementara bus tidak jauh dari itu, kisaran 9-12 jam perjalanan. Apalagi, seperti yang saya sebut sebelumnya, kebanyakan bus sleeper lebih sering melalui jalan tol sehingga hambatan-hambatan seperti kemacetan atau banjir bisa terhindarkan. Lain cerita kalau saat momen-momen lebaran ya. Saya berbicara dalam kondisi dan momen yang normal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa hal yang membuat bus sleeper terasa jauh lebih worth it daripada kereta api eksekutif. Mungkin hal yang nggak mengenakan dari bus sleeper adalah perkara kemacetan dan keamanan saat penumpang tiba di terminal. Tahu sendiri kan, terminal di Indonesia ini fasilitasnya jomplang antara satu daerah dengan yang lainnya. Berbeda dengan stasiun yang punya SOP fasilitas yang sama.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/bus-sleeper-jelas-lebih-unggul-ketimbang-kereta-api\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jika Ingin Pergi ke Jakarta, Pakai Bus Sleeper Jelas Lebih Unggul ketimbang Kereta Api!<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika disuruh milih naik yang mana, bus sleeper atau kereta api eksekutif, maka saya lebih memilih bus sleeper. Saya punya argumennya.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":286651,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[18665,27377,13379],"class_list":["post-315512","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-bus-sleeper","tag-kereta-api-eksekutif","tag-perbandingan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315512","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=315512"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315512\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/286651"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=315512"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=315512"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=315512"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}