{"id":315139,"date":"2025-02-04T12:33:47","date_gmt":"2025-02-04T05:33:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=315139"},"modified":"2025-02-04T12:33:47","modified_gmt":"2025-02-04T05:33:47","slug":"4-dosa-akun-centang-biru-yang-bikin-x-jadi-makin-nggak-asik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-dosa-akun-centang-biru-yang-bikin-x-jadi-makin-nggak-asik\/","title":{"rendered":"4 Dosa Akun Centang Biru yang Bikin X Jadi Makin Nggak Asik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, scroll timeline di X (yang dulunya Twitter) itu rasanya asyik. Penuh hiburan original yang segar dan out of the box. Bahkan hiburan itu bukan cuma di twit-nya saja, melainkan juga ada di kolom komentarnya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sekarang, X sudah berubah, gara-gara akun centang biru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, sejak <a href=\"https:\/\/help.x.com\/en\/managing-your-account\/about-x-verified-accounts\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">centang biru bisa dibeli<\/a>, komentar-komentar yang biasanya nyeleneh dan menghibur malah tenggelam di bawah tumpukan komentar akun centang biru yang\u2014maaf ya\u2014seringkali sok asyik itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan cuma saya saja yang merasakan. Banyak netizen di X yang dulunya mencari hiburan di sana, justru terusik, mereka sangat terganggu dengan kehadiran akun centang biru laknat, yang kalau boleh ngomong, duh, kalian tuh nggak diajak. Berikut adalah empat dosa akun centang biru yang membuat X makin hambar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dosa pertama: akun X centang biru saling support, komentar jadi tenggelam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, kalau ada cuitan viral, yang langsung bikin penasaran adalah kolom komentarnya. Karena di situlah letak hiburan sesungguhnya. Orang berlomba-lomba bikin komentar absurd, plesetan kocak, atau guyonan yang nggak ketebak. Tapi sekarang? Komentar yang muncul di atas kebanyakan dari akun centang biru yang entah kenapa isinya hampir selalu sama: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Setuju banget!&#8221;, &#8220;Wah, mantap!&#8221;,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau lebih menyedihkan lagi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Nyimak dulu ah.\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut punya usut, ternyata ada semacam komunitas akun centang biru yang saling support. Mereka diwajibkan untuk saling berkomentar di setiap cuitan akun bercentang biru lainnya demi meningkatkan engagement. Hasilnya? Kolom komentar yang dulu spontan dan menghibur, kini jadi ajang \u201csaling nyapa\u201d yang hambar. Buat nemu komentar yang benar-benar lucu, kita harus rela scrolling jauh ke bawah, dan jujur aja, nggak semua orang punya energi buat itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal nunggu salam interaksi aja nih muncul di X.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dosa kedua: konten yang fokus engagement makin banyak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini makin diperparah dengan munculnya banyak akun centang biru yang hanya fokus cari engagement. Modelnya ada aja: potongan video viral, konten asal comot dengan caption <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Gimana menurutmu?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau lebih parah lagi, konten lama yang didaur ulang dan diposting ulang seolah-olah baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sok asyik memang. Tujuannya jelas: memancing interaksi biar akun mereka makin sering muncul di timeline orang lain. Masalahnya jumlah mereka banyak banget. Mau diblok juga muncul terus. Udah setara iklan YouTube yang muncul tiap lima menit: ganggu, tapi nggak bisa dihindari.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dosa ketiga: akun centang biru bikin X kehilangan jati diri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu daya tarik X dulu adalah algoritmanya yang cukup adil. Cuitan dari akun-akun biasa masih bisa viral kalau isinya menarik. Tapi sejak centang biru diprioritaskan, timeline kita jadi didominasi oleh mereka yang, lagi-lagi, cuma fokus cari engagement.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampaknya, X jadi kehilangan keunikannya. Dulu, kita bisa menikmati timeline yang isinya beragam: ada yang serius, ada yang santai, ada yang absurd. Sekarang? Yang sering muncul justru akun-akun yang niatnya bukan berbagi, tapi semata-mata cari cuan. Banyak netizen yang merasa kalau akun centang biru ini cuma nyampahin beranda dengan postingan yang isinya hampir sama semua.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dosa keempat: susah nyari akun asli<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, centang biru itu tanda keaslian. Kalau ada akun X centang biru, berarti dia adalah figur publik, pejabat, atau media yang sudah terverifikasi. Tapi sekarang? Siapa saja bisa beli centang biru. Alhasil, banyak orang-orang random yang bisa pura-pura jadi orang terkenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini nggak cuma bikin orang bingung, tapi juga berpotensi jadi alat penipuan. Misalnya, akun dengan nama mirip pejabat atau selebritas bisa bikin cuitan menyesatkan dan banyak orang yang percaya. Dulu, kita tinggal lihat centang biru buat memastikan kalau itu akun asli. Sekarang? Kita harus cek ulang dan berharap nggak terkecoh sama akun-akun yang pura-pura jadi orang lain<\/span><\/p>\n<h2><b>Elon Musk, tanggung jawab, woy!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, agak susah berharap akun centang biru ini bakal tobat. Mereka udah terlalu nyaman dengan sistem yang menguntungkan mereka. Tapi buat kita-kita yang masih cinta sama X yang dulu, mungkin satu-satunya solusi ya sabar scrolling ke bawah demi nemu komentar lucu yang terselip di antara lautan komentar hambar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau ada yang harus bertanggung jawab, jelas Elon Musk dan kebijakan centang biru berbayarnya ini. Apakah X masih bisa kembali ke jati dirinya yang lama? Entahlah. Tapi satu hal yang pasti, kalau situasi ini nggak segera diperbaiki, X bisa kehilangan daya tariknya, dan kita bakal kehilangan satu lagi tempat hiburan favorit di dunia maya. Hasyuuu memang.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/konter\/logo-twitter-ganti-x-langkah-sinting-elon-musk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Logo Twitter Ganti X: Langkah Awal dari Orang Sinting Bernama Elon Musk Menciptakan Aplikasi Super<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akun centang biru bikin X nggak lagi menyenangkan. Sampah-sampah bertebaran di medsos yang dulunya begitu asyik ini.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":315530,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[27381,421,26870,27382],"class_list":["post-315139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-akun-centang-biru","tag-twitter","tag-x","tag-x-verified"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=315139"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315139\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/315530"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=315139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=315139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=315139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}