{"id":314568,"date":"2025-01-27T13:08:47","date_gmt":"2025-01-27T06:08:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=314568"},"modified":"2025-01-27T13:08:47","modified_gmt":"2025-01-27T06:08:47","slug":"rasisme-jawa-dari-ngapak-mataraman-sampai-arekan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasisme-jawa-dari-ngapak-mataraman-sampai-arekan\/","title":{"rendered":"Mencermati Rasisme Sesama Orang Jawa dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang pernah singgah di berbagai kota di Indonesia, saya melihat fenomena rasisme orang Jawa sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Mau marah sulit, karena kadang yang saya hadapi adalah sopir bus sampai staf kecamatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Syukurnya, kebanyakan celetukan yang saya terima masih dalam batas wajar. Bahkan, umumnya hanya bercanda. Misal, pernah ada yang menyebut saya sebagai perempuan idaman. Alasannya karena mereka menganggap saya sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wanita-jawa-jatuh-cinta-dengan-orang-maluku-utara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sosok yang submisif khas wanita dari suku saya<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain rasisme antarsuku, tak jarang juga saya mendapati rasisme \u201cintra-suku.\u201d Khusus untuk suku saya, yakni jawa, saya sampai hafal dengan stereotip yang bersifat generalisasi orang Jawa di daerah X dan Y. Misalnya:<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang Jawa menganggap ngapak itu pelawak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah terlalu sering melihat penutur dialek ngapak ditertawakan oleh orang-orang, termasuk di kota saya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/slow-living-di-jogja-itu-mudah-asalkan-kamu-kaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a>. Buat mereka, Jawa ngapak itu lucu dan karenanya normal dianggap sebagai objek candaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, awalnya saya juga begini. Bahkan saat mendengar orang ngapak marah pun, saya merasa mereka masih lucu dan tidak ada garang-garangnya sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di telinga saya, aksen ngapak terkesan unik dan polos. Sampai suatu ketika saya membaca bahwa tindakan seperti ini bisa sangat mengganggu bagi para ngapakers.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLoh kan cuma dianggap lucu? Di mana rasisnya?\u201d pikir saya waktu itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang terkesan tak penting, namun persepsi bahwa dialek ngapak itu lucu membuat orang ngapak rentan disepelekan. Bayangin deh, mereka lagi bicara serius, eh orang-orang, sesama Jawa, malah menertawakan logatnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang Jogja dan Solo dianggap hipokrit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di RL maupun di dunia maya, tak sekali dua kali saya membaca komentar bahwa orang Jogja dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-istilah-yang-biasa-dipakai-dalam-percakapan-orang-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Solo<\/a> (kadang termasuk area Mataraman lain) adalah orang yang hipokrit. Secara langsung, bahkan saya pernah bertemu dengan seorang guru asal Jawa Timur yang mengatakan bahwa kami, murid-muridnya, \u201cMemang halus, tapi munafik.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak salah bila ada yang menganggap bahwa orang Mataraman memang tidak blak-blakan dengan perasaannya. Kami sangat diplomatis dengan apa yang kami ucapkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibat dari budaya ini, beberapa orang Jawa mataraman sering menunjukkan sikap yang berbeda di belakang dan di depan. Tapi apakah lantas semua orang mataraman begitu? Saya pernah ke Sumatera sampai Sulawesi, dan percayalah, di tiap tempat orang bermuka 2 itu ada!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara pribadi, saya pun adalah tipe orang yang selalu berusaha konsisten. Apa yang berani saya katakan di depan adalah apa yang akan saya katakan di belakang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Jawa, saya memang punya kecenderungan memperhalus ucapan supaya tidak jadi masalah berlarut-larut. Jadi yang orang bilang hipokrit, buat saya hanyalah cara mencegah konflik yang tidak penting.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang arekan dianggap kasar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, orang Jawa arekan juga sering dianggap kasar. Baru-baru ini, bahkan warga Jatim sering dipandang norak karena fenomena sound horeg, silat, sampai gus-gusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga sempat membaca postingan di Facebook yang menyebut bahwa Jawa Timur itu bukan Jawa, melainkan \u201cIndia\u201d. Entah kenapa orang Indonesia suka mengaitkan sesuatu yang dianggap negatif dengan India.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat saya sendiri, orang Jawa Timur memang sering dianggap galak karena intonasi bicara yang cenderung keras. Seorang teman saya dari Ponorogo yang masih masuk area Jawa mataraman bahkan sering mengeluh dianggap kasar oleh teman-temannya. Padahal dia merasa bicara dengan nada yang biasa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas apakah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rumpun_dialek_Arekan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang arekan<\/a> memang kasar dan norak? Duh. Jelas jawabannya tidak. Orang arekan hanya memiliki filter yang lebih sedikit saat bicara dibanding orang Jawa mataraman dan ngapak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka adalah tipe orang Jawa yang menurut saya paling ekspresif. Baik dengan perasaannya maupun dengan intonasi bicaranya yang naik turun. Belum lagi volume bicara mereka juga lebih keras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, menurut saya, adanya pandangan-pandangan seperti ini merupakan fenomena yang wajar. Mengingat gesekan budaya akan selalu ada. Kita tidak bisa selalu berharap bahwa setiap interaksi sosial selalu menghasilkan persepsi positif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terpenting adalah kita selalu berusaha bersikap open minded. Jadi ketika ada orang Jawa ngapak yang keberatan ditertawakan misalnya, ya kita stop menertawakannya. Bukan malah ngeyel dan close minded dengan persepsi kita sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nar Dewi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/histori\/mitos-orang-jawa-itu-pemalas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Membongkar Stigma Orang Jawa adalah Pemalas<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang ngapak itu pelawak, orang Jogja-Solo itu hipokrit, dan arekan selalu kasar. Rasisme Jawa itu nyata dan saatnya kita hentikan sekarang.<\/p>\n","protected":false},"author":655,"featured_media":314632,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[27318,623,27319,23165,27317,2501,115,2284],"class_list":["post-314568","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-arekan","tag-jawa","tag-jawa-arekan","tag-jawa-mataraman","tag-jawa-ngapan","tag-jawa-timur","tag-jogja","tag-solo"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/314568","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/655"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=314568"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/314568\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/314632"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=314568"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=314568"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=314568"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}