{"id":314416,"date":"2025-01-25T15:49:12","date_gmt":"2025-01-25T08:49:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=314416"},"modified":"2025-01-25T15:49:12","modified_gmt":"2025-01-25T08:49:12","slug":"bagi-orang-bandung-ciater-subang-lebih-emanrik-dari-lembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-orang-bandung-ciater-subang-lebih-emanrik-dari-lembang\/","title":{"rendered":"Orang Bandung Lebih Senang Berwisata ke Ciater, Subang daripada Lembang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan di Terminal Mojok yang berjudul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-bandung-menghindari-plesir-ke-lembang\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan Orang Bandung Menghindari Plesir ke Lembang<\/span><\/i><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">terasa begitu relate menjelang libur panjang seperti sekarang ini. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Di saat orang-orang luar Bandung berbondong-bondong berwisata ke Lembang, Bandung Barat, orang asli Bandung justru melipir dari sana. Kebanyakan justru memilih berwisata ke Subang, tepatnya di Kecamatan Ciater.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan memilih Ciater Subang sebenarnya sederhana saja. Selain menghindari padatnya Lembang, Ciater menarik karena mudah diakses. Asal tahu saja, Ciater Subang berbatasan langsung dengan Lembang. Akses ke sana cukup mudah, bisa melewati Jalan Raya Ciater yang bisa ditempuh 45-60 menit perjalanan darat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana di Ciater Subang pun begitu pas untuk lari dari hiruk pikuk kota. Udaranya masih sejuk, bahkan sesekali berkabut. Hal itu karena wilayah Kecamatan Ciater merupakan daerah perbukitan hingga lereng Gunung Tangkuban Parahu. Sepanjang mata memandang, area di Kecamatan Ciater masih dipenuhi luasnya kebun teh yang hijau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dua hal di tas, Ciater Subang menawarkan berbagai pilihan wisata yang menarik:<\/span><\/p>\n<h2><b>Wisata pemandian air panas supaya lebih rileks<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu kegiatan yang bisa kalian lakukan di Ciater Subang adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-tegal-enggan-berwisata-ke-pemandian-air-panas-guci\/\">berendam air panas<\/a>. Percayalah setelah lelang menghadapi tuntutan pekerjaan sehari-hari, relaksasi dan terapi pijat bisa jadi obat yang mujarab.Pilihan tempat berendam air panas di Kecamatan Ciater, Subang banyak banget kok. Seperti Pemandian Air Panas Ciater, Air Panas Alam Sari Ater, Pemandian Air Panas Hotel Ciater, Ciater Natural Hot Spring, dan masih banyak lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI, air panas dari berbagai tempat wisata pemandian air di Kecamatan Ciater ini, Subang bersumber dari mata air alami Gunung Tangkuban Parahu, yang suhunya berkisar 43-46 derajat celcius.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bisa eksplore curug yang ada Ciater Subang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain wisata air panas, Ciater Subang juga banyak wisata alamnya terutama Curug. Wisata curug selalu menjadi wisata favorit bagi pecinta alam yang memikat hati keindahan air yang jatuh turun secara cepat. Wisata Curug di Kecamatan Ciater, Subang seperti Curug Cibareubeuy, Curug Koleangkak, Curug Angin, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap curug di Ciater Subang punya keunikan sendiri-sendiri. Curug Cibareubeuy misalnya, memiliki ketinggian sekitar 40 meter, sehingga para wisatawan disuguhi pemandangan indah yang menakjubkan. Lain dengan Curug Koleangkak Ciater yang terkenal dengan sebutan Curug Biru karena pemandangan air tampak dari kejauhan kelihatan warna biru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada Curug Ciangin Ciater yang memiliki ketinggian 9 meter, yang dibawah curug membentuk kolam dengan kedalam 5 meter. Lebih indahnya lagi, kawasan Curug Ciangin terdapat hamparan sawah yang hijau dan aliran sungainya jernih. Bagaimana menarik bukan?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Ciater punya wisata kekinian yang ramah anak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ciater Subang punya beberapa tempat hits dan kekinian yang digandrungi wisatawan, sebut saja The Ranch. Iya kalian tidak salah dengar, The Ranch itu wisata yang terletak di Ciater, bukan Lembang. Banyak media daring memasukan spot wisata ini dalam daftar wisata Lembang, itu salah besar. W<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">alau dekat dengan Lembang, The Ranch sebenarnya berada di Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu daya tarik The Ranch adalah keberadaan peternakan mini di sana. Pengunjung bisa <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">berinteraksi dengan berbagai hewan seperti kuda, sapi, kambing, kelinci, dan lainya. pengunjung juga bisa mencoba wahana olahraga yang menantang seperti flying fox, paintball, dan mobil ATV. Dijamin keluarga kalian, khususnya si buah hati, akan betah berlama-lama di sana. Terlebih, konsep kawasan The Ranch memang ramah keluarga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain The Ranch, D&#8217;Castello Ciater juga bisa jadi pilihan. Spot wisata ini menawarkan menawarkan keindahan hamparan bunga yang dipadukan dengan bangunan istana ala Kremlin Rusia. Di sana pengunjung bisa foto-foto dengan konsep raja dan ratu di sebuah kerajaan. D&#8217;Castello yang diresmikan pada akhir 2021 itu masih hits dan jadi destinasi wisatawa favorit hingga saat ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ciater, Subang memang punya potensi menyangi <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Lembang,_Bandung_Barat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lembang<\/a>. Namun, dalam lubuk hati saya berharap kecamatan ini tidak berubah seperti Lembang. S<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">aya berharap wisata di Ciater tetap seperti ini, natural. Jangan sampai banyak direka-reka, glamor, dan semakin macet seperti kawasan wisata tetangganya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Acep Saepulloh<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0 <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-jalan-asia-afrika-bandung-yang-katanya-romantis\/\"><b>Sisi Gelap Jalan Asia Afrika Bandung yang Katanya Romantis<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Bandung menghindari Lembang ketika musim liburan. Mereka lebih memilih berwisata ke Ciater Subang yang nggak kalah menarik.<\/p>\n","protected":false},"author":2577,"featured_media":314450,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[141,16666,24322,27288,11028,20873],"class_list":["post-314416","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bandung","tag-bandung-barat","tag-ciater","tag-ciater-subang","tag-lembang","tag-subang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/314416","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2577"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=314416"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/314416\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/314450"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=314416"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=314416"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=314416"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}