{"id":314398,"date":"2025-01-26T18:58:49","date_gmt":"2025-01-26T11:58:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=314398"},"modified":"2025-01-26T18:58:49","modified_gmt":"2025-01-26T11:58:49","slug":"berkantor-di-gedung-scbd-jakarta-tidak-senyaman-rumah-tapak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berkantor-di-gedung-scbd-jakarta-tidak-senyaman-rumah-tapak\/","title":{"rendered":"Berkantor di Gedung Tinggi SCBD Jakarta Memang Keren, tapi Kalah Nyaman dengan Berkantor di Rumah Tapak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, pembahasan soal berkantor di gedung tinggi SCBD Jakarta menjadi obrolan yang cukup ramai di media sosial X. Bekerja di gedung yang tinggi dengan lingkungan sekitar yang tertata rapi memang keren, tapi di balik itu, banyak kerepotan yang dirasakan pekerjanya. Beda cerita dengan berkantor di ruko atau rumah tapak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sepenuhnya setuju dengan unggahan itu. Bahkan, saya pernah menuliskannya di Terminal Mojok tentang itu <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kerja-kantoran-di-gedung-gedung-ala-scbd-itu-overrated\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kerja Kantoran di Gedung-gedung ala SCBD Itu Overrated, Banyak Repotnya<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Saya semakin relate karena pernah merasakan berkantor di rumah tapak di Jakarta. Pengalaman itu saya dapat ketika magang kerja di sebuah LSM Jakarta.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara gengsi, berkantor di rumah tapak memang kalah jauh daripada kantor-kantor gedung tinggi di SCBD Jakarta. Namun, percayalah, hidup kalian jauh lebih mudah. Ini yang penting sehari-hari kalian dipusingkan dengan pekerjaan, jangan dibuat pusing juga dengan hal-hal sepele seperti cari parkir hingga cari makanan yang ramah di kantong.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Berkantor di rumah tapak lebih gampang cari makan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kamu kerja di gedung tinggi seperti SCBD Jakarta, ada saja hal sepele yang jadi tak sepele. Misal, soal membeli makan siang. Energi dan waktu untuk membeli makan siang jelas lebih besar mengingat kalian harus naik lift dahulu. Belum mencari makanan murah di area itu tidak mudah, kalian perlu jalan kaki lebih jauh lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa sih duduk manis saja dan memesan makanan lewat aplikasi. Kemudian meminta tolong <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-office-boy-ob-yang-diperlakukan-seperti-budak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">OB<\/a> untuk membelikan atau mengambil makanan di lobby. Namun, cara ini jelas perlu duit lebih. Pertama makanan yang dipesan di aplikasi lebih mahal karena perlu ongkir. Selain itu, kalian juga perlu memberikan OB uang tips.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda cerita kalau bekerja di rumah tapak atau ruko, cari makan jauh lebih gampang. Kalian tidak perlu antri naik lift. Kalian juga tidak perlu bingung cari makanan yang ramah di kantong, biasanya banyak penjual makanan di sekitar kantor atau\u00a0 kaki lima hilir mudik di depan kantor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara pekerja yang berkarir di kantor berupa rumah tapak atau ruko lebih gampang cari makan. Banyak tukang dagang yang hilir mudik di depan kantornya. Belum lagi banyak penjual makanan yang jaraknya lima langkah dari kantor.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Masuk kantor nggak perlu ribet, tidak seperti di gedung SCBD Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu terakhir viral video pekerja yang harus antre panjang untuk tap kartu sebelum masuk gedung. Pemandangan ini memang tidak asing di gedung-gedung tinggi Jakarta. Antre tap kartu hanyalah segelintir persoalan. Sebelum itu, pekerja yang bawa kendaraan pribadi harus berebut spot parkir dahulu. Sementara mereka yang menggunakan transportasi publik harus berdesak-desakan. Panjangnya perjalanan sebelum duduk di balik meja kantor membuat banyak pekerja kelelahan duluan sebelum bekerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila berkantor di rumah tapak, pagi kalian tidak akan sepanjang itu. Setidaknya kalian menghemat waktu dan energi karena tidak perlu antre tap kartu. Kalau ada barang ketinggalan di kendaraan, hanya perlu beberapa langkah saja untuk mengambilnya. Tidak perlu menempuh perjalanan panjang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih mudah menyelamatkan diri kalau terjadi gempa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia termasuk daerah yang rawan gempa sebab negara ini terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Ditambah lagi, Indonesia ini terletak di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Cincin_Api_Pasifik#:~:text=Cincin%20Api%20Pasifik%20atau%20Lingkaran,yang%20mengelilingi%20cekungan%20Samudra%20Pasifik.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kawasan Cincin Api Pasifik<\/a> yang memiliki aktivitas tektonik sangat tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pekerja di gedung tinggi, gempa merupakan salah satu bencana yang paling mengkhawatirkan. Sebab, ketika gempa terjadi saat mereka bekerja, proses menyelamatkan diri jadi cukup lama. Mereka harus lari ke tangga darurat dulu yang bukan tidak mungkin akan berebut dengan pekerja lain. Semakin tinggi lantai tempatnya bekerja, semakin lama proses menuruni tangganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda cerita dengan berkantor di rumah tapak. Menyelamatkan diri jauh lebih mudah, tinggal keluar pintu kantor dan mencari ruang terbuka yang jauh dari bangunan. Tingkat kemungkinan selamatnya jauh lebih tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa keuntungan yang saya rasakan kalau berkantor di rumah tapak atau ruko di Jakarta. Memang, secara gengsi sangat jauh dengan mereka yang berkantor di SCBD Jakarta. Namun, berkantor di tempat yang tidak bergengsi seperti nyatanya lebih nyaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Arief Widodo<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penumpang-krl-wajib-mendekap-tas-ransel-biar-nggak-repot\/\"><b>Mempertanyakan Penumpang KRL yang Ogah Meletakkan Tas Ransel di Bagian Depan Tubuh<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenyataannya, berkantor di gedung-gedung tinggi SCBD Jakarta yang bergengsi itu kalah nyaman dibanding berkantor di rumah tapak atau ruko. <\/p>\n","protected":false},"author":1760,"featured_media":314553,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[],"class_list":["post-314398","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/314398","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1760"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=314398"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/314398\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/314553"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=314398"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=314398"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=314398"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}