{"id":314108,"date":"2025-01-22T15:07:24","date_gmt":"2025-01-22T08:07:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=314108"},"modified":"2025-01-22T15:07:24","modified_gmt":"2025-01-22T08:07:24","slug":"sumenep-daerah-indah-yang-harusnya-tak-kena-stigma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sumenep-daerah-indah-yang-harusnya-tak-kena-stigma\/","title":{"rendered":"Masyarakat Hanya Fokus pada Stereotip Madura karena Kasus di Bangkalan, tapi Mereka Lupa Madura Juga Punya Sumenep yang Elegan nan Menawan"},"content":{"rendered":"<p><em>Orang-orang kelewat fokus pada Bangkalan gara-gara kasus yang ada, padahal Madura juga punya Sumenep, daerah indah yang nggak sepatutnya diberi stigma negatif<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir-akhir ini warga Bangkalan dibombardir dengan persepsi dan penilaian negatif dari masyarakat luas akibat beberapa kasus dan tulisan yang mungkin terkesan menyudutkan mereka. Acap kali pandangan-pandangan seperti itu malah makin menguatkan stereotip buruk tentang kehidupan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seolah-olah Bangkalan adalah representasi dari Madura. Jika Bangkalan buruk, seluruh Madura juga buruk. Padahal di Madura sendiri ada 4 kabupaten yang masing-masing punya ceritanya sendiri. Madura hanya bukan tentang Bangkalan, tapi juga tentang Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara tentang Sumenep, kabupaten yang terletak di ujung timur Madura ini sering dinilai orang sebagai kabupaten yang sangat kental akan &#8220;unggah-ungguh&#8221;, seni, budaya, tokoh ternama hingga kerajaan dan keraton yang menyimpan banyak saksi sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan menceritakannya satu per satu, tentang betapa indahnya Sumenep, yang harusnya tidak ikut tercoreng.<\/span><\/p>\n<h2><b>Budaya keraton yang masih kental dan terjaga dengan baik di Sumenep<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau jalan-jalan ke Sumenep, sempatkan mampir ke keraton yang berlokasi di Jl. Dr. Sutomo No. 6, Lingkungan Delama, Penjagalan, Kecamatan Kota Sumenep. Dahulu, keraton ini merupakan kediaman resmi para raja sekaligus tempat untuk menjalankan roda pemerintahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lokasinya cukup luas, terdiri dari beberapa bangunan dan pemandian yang dikelilingi dinding cukup tinggi. Pemandian ini dahulunya dipakai pemandian para putra-putri raja, dan sampai sekarang tempat pemandian ini menjadi salah satu area favorit para wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tempatnya sangat teduh, beberapa pohon tumbuh dengan subur di area keraton. Layaknya keraton di Jawa pada umumnya, keraton Sumenep mempunyai vibe yang hangat dan tenang. Siapa pun yang kesini pasti bisa merasakan kentalnya peradaban sejarah di Sumenep.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bahasa Madura &#8220;krama alus&#8221; yang masih digunakan untuk berkomunikasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti halnya bahasa Jawa, bahasa Madura sebenarnya memiliki beberapa tingkatan. Bahasa Madura dengan &#8220;krama alus&#8221; sejatinya masih digunakan sampai sekarang oleh beberapa orang, khususnya yang tinggal di sekitar keraton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan secara umum, masyarakat Sumenep menggunakan bahasa Madura seperti biasanya untuk berkomunikasi sehari-hari. Tapi, bahasa Madura masyarakat Sumenep ini berbeda dengan kabupaten lain di pulau Madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa penyebutan, intonasi hingga dialeknya juga berbeda jika dibandingkan daerah Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Meskipun tidak terlalu spesifik, perbedaan ini cukup menjadi acuan seseorang untuk mengetahui asal dari lawan bicaranya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Temanmu selalu jawab &#8220;terserah&#8221; tiap diajak makan? Ajak keliling Sumenep, perut kenyang hati senang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun bukan kabupaten yang besar, tapi Sumenep cukup sukses dengan roda perekonomiannya. Sepanjang jalan di kabupaten ini tak sepi dengan makanan dan jajanan yang hits di semua kalangan. Pasti ada aja makanan unik bahkan viral yang di jajakan di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun terletak di ujung timur pulau Madura, Sumenep tidak kalah dengan daerah-daerah lain yang memang sudah maju sebelumnya. Beberapa tongkrongan atau cafe ala-ala kota besar cukup untuk menghibur perut kosong keroncongan yang bosan kalau harus makan nasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner di Sumenep memang tidak ada matinya, tak hanya makanan viral yang bisa dinikmati tapi makanan khas seperti kaldu kokot pun bisa disantap bersama teman atau keluarga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan pulang dulu sebelum explore bentang alam berupa pantai dan pulau-pulau cantik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau berbicara tentang keindahan alam, Sumenep sama dengan 3 kabupaten lain di Madura. Sama-sama memiliki garis pantai yang cantik, air yang jernih, dan bibir-bibir pantai yang aduhai menawan. Tidak hanya 1 atau 2 wisata pantai, lebih dari itu, Sumenep punya lukisan laut yang luas dan beraneka ragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bosen ke pantai? Coba main lebih jauh. Kunjungi beberapa pulau kecil yang tersebar di kabupaten ini. Meskipun masih 1 kabupaten, budaya 1 pulau dengan pulau lainnya sudah berbeda. Sangat cocok untuk kaum mendang-mending yang pengin healing ke tempat yang tenang, tapi tetap terasa kental adat dan budayanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah puas belajar adat dan budaya, jangan lupa mampir ke <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/wisata\/d-7303652\/mengapa-gili-iyang-disebut-pulau-oksigen-ini-penjelasannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gili Iyang<\/a> yang mendapatkan predikat pulau dengan oksigen terbaik kedua di dunia. Rasakan nikmatnya oksigen murni yang auto bikin nyaman, kenyamanan murni yang belum didapatkan dari doi, cielaah!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lupa masukkan Sumenep ke dalam list liburan, melancong, atau healing untuk melepaskan penat bekerja di ibukota. Jadi, yuk main ke Sumenep!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Irma Zuha Attamimi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sumenep-madura-jauh-lebih-mending-daripada-bangkalan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lupakan Bangkalan, Lebih Baik ke Sumenep ketika Berwisata ke Madura<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang-orang kelewat fokus pada Bangkalan gara-gara kasus yang ada, padahal Madura juga punya Sumenep, daerah indah yang nggak sepatutnya diberi stigma negatif.<\/p>\n","protected":false},"author":2847,"featured_media":298942,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16112,5020,4772,16880],"class_list":["post-314108","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bangkalan","tag-madura","tag-stigma","tag-sumenep"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/314108","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2847"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=314108"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/314108\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/298942"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=314108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=314108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=314108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}