{"id":31207,"date":"2020-04-26T01:50:43","date_gmt":"2020-04-25T18:50:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=31207"},"modified":"2020-04-26T01:56:56","modified_gmt":"2020-04-25T18:56:56","slug":"asyiknya-ramadan-dengan-ngaji-pasaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/asyiknya-ramadan-dengan-ngaji-pasaran\/","title":{"rendered":"Asyiknya Ramadan dengan Ngaji Pasaran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah nggak kalian denger istilah ngaji pasaran atau ngaji pasanan? Konon, ngaji ini berasal dari metode pengajian yaitu dengan cara para santri memilih pengajian kitab yang diminati. Seperti di pasar, pembeli akan memilih barang yang diinginkan. Namun, ada juga yang menyebut dengan ngaji pasanan, karena dilaksanakan di bulan Ramadan ketika sedang melaksanakan ibadah puasa, yang dalam bahasa Jawa disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pasa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">poso.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngaji pasaran atau pasanan ini identik dilaksanakan di pondok pesantren selama bulan Ramadan. Ia dilaksanakan dengan mengkaji beberapa kitab yang akan dimulai di awal bulan Ramadan dan dikhatamkan di akhir bulan Ramadan. Kemudian santri-santri baru diizinkan untuk pulang ke rumah menjelang lebaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain bisa diikuti oleh santri yang bermukim di asrama pesantren, ngaji pasaran ini biasanya juga diikuti oleh santri kalong (santri yang tidak tinggal di asrama). Tidak sedikit juga pondok pesantren yang memberi kesempatan santri kalong untuk mengikuti ngaji pasaran dengan tinggal di asrama pesantren hanya selama bulan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah menjumpai beberapa orang yang sempat tinggal di asrama pesantren, mereka memiliki hobi yaitu berkelana saat bulan Ramadan. Mereka memilih untuk ngaji dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mengkaji ilmu baru yang berbeda. Tentunya sekaligus dengan niat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tabarrukan,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yaitu mengharap berkah dari para kiai di pondok pesantren yang mereka singgahi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Santri kalong tersebut beberapa di antaranya ada yang masih pelajar maupun mahasiswa. Jadi selama Ramadan, mereka yang sebelumnya tinggal di kos atau di rumah, pindah tinggal sementara di asrama pesantren. Mereka yang telah mengikuti ngaji pasaran ini, tentu bisa mengaku sebagai alumni dari pondok pesantren tersebut. Beberapa pondok pesantren pun menyediakan ijazah di akhir program kegiatan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngaji pasaran sangat identik dengan mengkaji kitab kuning karya ulama-ulama terdahulu. Ini merupakan wujud melestarikan tradisi kepesantrenan, yaitu mengkaji kitab dengan belajar langsung kepada guru dengan keilmuan yang mumpuni sesuai bidangnya. Dengan melihat fenomena semakin banyak ngaji di media sosial tanpa sanad yang jelas, semakin pentingnya mengikuti pengajian kitab di majelis ilmu atau pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adanya pengajian kitab ini guna menambah wawasan keilmuan yang diambil langsung dari kitab-kitab, sanad guru, dan keilmuan yang jelas hingga menyambung sampai pada Rasulullah saw. Adapun kitab-kitab yang dikaji yaitu dari berbagai macam aspek keilmuan, seperti: fikih, hadis, nahwu shorof, aqidah, tauhid, akhlaq, dan tarikh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat melaksanakan ngaji pasaran biasanya waktu terasa sangat padat. Dari sehabis sahur, jamaah salat subuh, kemudian pengajian kitab langsung dimulai. Ngaji kitab satu ke kitab lain biasanya hanya diselingi waktu satu jam. Istirahat siang sebentar, kemudian lanjut ngaji sore untuk menunggu waktu berbuka puasa. Kemudian ngaji dilanjut lagi setelah habis salat tarawih dan biasanya akan berakhir pukul 10 atau 11 malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain mengkaji kitab dan mendapatkan pengalaman spiritual, yang didapatkan dari ngaji pasaran ini adalah pengalaman sosial, seperti tinggal dan merasakan ngaji di pesantren. Bagi santri yang sebelumnya tidak bermukim di pesantren, hal ini merupakan pengalaman baru yang bakal memberikan banyak kesan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, ngaji pasaran diikuti oleh santri dari berbagai macam daerah. Sehingga, bagi santri yang ingin mempunyai banyak relasi, ngaji pasaran ini merupakan suatu solusi. Apalagi dengan berpindah-pindah ngaji di setiap tahunnya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak perlu merasakan mondok bertahun-tahun, dengan satu bulan tinggal di pesantren sudah bisa mendapatkan banyak pengalaman, baik spiritual maupun sosial.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selain bisa diikuti oleh santri yang bermukim di asrama pesantren, ngaji pasaran ini biasanya juga diikuti oleh santri kalong (santri yang tidak tinggal di asrama).<\/p>\n","protected":false},"author":353,"featured_media":40501,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6324,52,6305],"class_list":["post-31207","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ngaji-pasaran","tag-pesantren","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31207","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/353"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31207"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31207\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40501"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31207"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31207"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31207"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}