{"id":31195,"date":"2020-04-26T02:00:53","date_gmt":"2020-04-25T19:00:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=31195"},"modified":"2020-04-26T01:56:44","modified_gmt":"2020-04-25T18:56:44","slug":"perlu-diingat-yang-lebih-arab-bukan-berarti-lebih-alim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perlu-diingat-yang-lebih-arab-bukan-berarti-lebih-alim\/","title":{"rendered":"Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering kali saya cukup emosi dengan tren <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngarab <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">akhir-akhir ini. Mulai dari perubahan gaya pakaian, hingga gaya bahasa. Gaya bahasa yang lebih arab meski dengan tata bahasa yang salah di sana-sini, tapi tetap diucapkan dengan penuh kepercayaan diri. Ya, sudah mirip anak jaksel yang secara serampangan pakai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">which is <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebagai pengganti tanda baca koma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi ketika saya tanya langsung pada teman-teman saya yang hobi benar mengganti kata kamu dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">antum, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mereka bahkan tidak tahu menahu tentang apa itu nahwu. Padahal, ia adalah ilmu paling dasar dalam mempelajari bahasa Arab. Jadi, sebenarnya mereka kenapa, sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa jurnal yang saya baca, Arab spring-lah yang jadi salah satu alasan. Iya nggak nyambung memang. Arab spring sendiri adalah semangat revolusioner untuk membebaskan masyarakat Arab dari dominasi pemerintah. Eh, bukannya semangat revolusionernya yang tertularkan, tapi malah atribut-atributnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parahnya, gaya yang sangat Arab ini tidak hanya jadi tren tapi juga diam-diam jadi (((tolok ukur))) keimanan seseorang. Jadi, semakin Arab dia, maka semakin beriman dan layak dijadikan panutan. Semakin banyak kosa kata bahasa Indonesia yang diganti dengan bahasa Arab (walaupun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nguawur <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan tidak mengikuti kaidah bahasa mana pun), semakin Islam pula dirinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sini saya jadi paham, kenapa dulu Gus Dur beberapa kali mengutarakan pesan yang bunyinya kurang lebih seperti ini, \u201cIslam datang bukan untuk mengubah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">saya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ana<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kalian <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">antum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Yang harus diikuti ajarannya, bukan budaya (Arab)-nya.\u201d Padahal zaman Gus Dur masih hidup, belum banyak orang-orang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngarab<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti saat ini. Akan tetapi beliau sudah mewanti-wanti supaya kita memegang nilai Islam, bukan atribut Arab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jauh sebelum Gus Dur, Nabi Muhammad bahkan membawa pesan untuk tidak mengunggulkan atau membuat satu kaum lebih superior dibanding yang lain. Dalam pidato terakhir beliau ketika melaksanakan haji wada\u2019, Rasulullah sudah berpesan bahwa bangsa Arab dan Ajam (sebutan untuk non-Arab pada zaman itu), adalah sama. Tidak ada yang lebih mulia dan lebih rendah, kecuali semua dilihat dengan ketaqwaannya kepada Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saat ini kita yang sedang memulai belajar agama mudah sekali bertanya, \u201cMana dalilnya?\u201d pada amalan-amalan yang bertujuan untuk menghormati Nabi Muhammad. Akan tetapi, kenapa ketika ada penceramah yang mulai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngarab<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kok kita nggak tanya, \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sampeyan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ngajinya di mana? Kitabnya udah sampai mana? Masa bilang kamu jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">antum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">? I\u2019rabnya apa itu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Standar ganda ini membuktikan bahwa kita lebih percaya kepada apa yang tampaknya meyakinkan dengan tampilan dan kosa kata Arab yang ala kadarnya, daripada standar keilmuan yang komperhensif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memangnya akan seberbahaya itu, ya, belajar dari orang-orang yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngarab<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">? Belum tentu, bisa iya dan bisa tidak. Pasalnya, pemahaman ilmu seseorang, kan, tidak bisa hanya dilihat dari hal yang tampak luarnya saja. Kita juga harus menelusuri sanad keilmuannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun begini, seperti halnya penyakit yang bisa dikenali dengan gejala\u00a0 meskipun tak menjamin seratus persen keakuratannya, analisis serupa juga bisa dilakukan untuk mengidentifikasi ciri guru yang baik. Biasanya, orang yang benar-benar paham bahasa Arab, ia juga paham bahwa tujuan utama belajar bahasa Arab itu sebagai sarana untuk belajar ilmu-ilmu lain. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Wong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kalau di pesantren saja, namanya ilmu alat, ya digunakannya sebagai alat bukan tujuan apalagi buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mejeng<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nyari panggung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya juga, orang yang benar-benar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">qualified <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dalam suatu bidang keilmuan, tidak mudah melabeli orang lain. Pasalnya, semakin dalam ilmu yang dikuasai maka semakin luas cara memandang orang lain, sehingga tidak mudah melabeli macam-macam. Seperti kata Sujiwo Tejo dalam bukunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tali Jiwo,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cCara paling ampuh untuk menjaga agar pikiran kita tetap waras adalah dengan meninggalkan penceramah apabila ia sudah mulai menyalah-nyalahkan orang yang berkeyakinan lain.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, supaya kita tidak mudah menilai kualitas keilmuan dan keimanan seseorang hanya karena ia mengganti kosa kata bahasa Indonesia dengan bahasa Arab, saya nukilkan pesan dari Nur Cholis Madjid, \u201cKita tidak boleh mengkuduskan sesuatu yang tidak kudus.\u201d Termasuk dalam hal ini bahasa Arab. Mempelajari bahasa Arab harus benar-benar disadari sebagai media atau alat, bukan standar keilmuan, lebih-lebih keimanan seseorang.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Parahnya, gaya yang sangat Arab ini tidak hanya jadi tren tapi juga diam-diam jadi (((tolok ukur))) keimanan seseorang.<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":40506,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6326,5870,6305],"class_list":["post-31195","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-alim","tag-arab","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31195","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31195"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31195\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40506"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31195"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31195"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31195"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}