{"id":311682,"date":"2025-01-20T15:03:54","date_gmt":"2025-01-20T08:03:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=311682"},"modified":"2025-01-20T15:05:48","modified_gmt":"2025-01-20T08:05:48","slug":"4-bangunan-ikonik-dan-menyimpan-sejarah-panjang-di-kota-magelang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-bangunan-ikonik-dan-menyimpan-sejarah-panjang-di-kota-magelang\/","title":{"rendered":"4 Bangunan Ikonik dan Menyimpan Sejarah Panjang di Kota Magelang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Magelang adalah salah satu kota di<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jawa-tengah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Jawa Tengah<\/a> yang memiliki sejarah cukup panjang. <\/span><a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-7288455\/daftar-kota-tertua-di-indonesia-nomor-satu-ada-sejak-zaman-kerajaan\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip Detik<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Kota Magelang masuk sebagai salah satu kota tertua di Indonesia. Ya, kota ini sudah berdiri sejak 907 masehi.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Maka tak heran apabila di kota ini kita bisa menjumpai berbagai bangunan yang ikonik dan menyimpan sejarah panjang. Bangunan-bangunan ikonik dan bersejarah ini bisa menjadi destinasi wisata terbaik yang patut kalian kunjungi saat liburan ke Kota Magelang.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#1 Water toren Alun-Alun Magelang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangunan ikonik dan bersejarah di Kota Magelang pertama yang patut kalian kunjungi adalah water toren yang terletak di<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-tempat-wisata-magelang-yang-sebaiknya-dihindari-agar-liburan-panjang-tetap-nyaman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Alun-Alun<\/a> Kota Magelang. Menara yang berfungsi sebagai penampung air itu memiliki tinggi sekitar 26 meter dengan kapasitas penampungan air hingga 1.750 meter kubik. Diketahui menara air tersebut sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, sekitar tahun 1920.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Water toren yang berada di Alun-Alun Magelang ini konon dibangun karena ada bencana dan wabah penyakit. Jadi, dulunya warga memenuhi kebutuhan air bersih mereka sehari-hari dengan mengandalkan sumur, mata air, dan sungai. Akan tetapi kemudian terjadi bencana dan suplai air bersih menjadi terhambat sehingga mengakibatkan wabah penyakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Muncullah ide untuk mendirikan menara air yang bisa menampung air bersih. Air bersih tersebut berasal dari sumber mata air Kalinongko dan Kalegen Bandongan. Air kemudian dialirkan ke bak penampungan bagian atas menara sebelum akhirnya didistribusikan kepada warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga kini, kita masih bisa melihat water toren yang mirip kompor raksasa itu di Alun-Alun Kota Magelang. Water toren itu pun masih berfungsi hingga sekarang.<\/span><\/p>\n<p><iframe style=\"border: 0;\" src=\"https:\/\/www.google.com\/maps\/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d3955.895560146341!2d110.21769590000001!3d-7.4767843!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2e7a8f5f2cd6e6e3%3A0x646001b9dd515bc1!2sWater%20Toren%20-%20Waterleidingsysteem%20voor%20Mag%C3%AAlang!5e0!3m2!1sid!2sid!4v1737358231618!5m2!1sid!2sid\" width=\"600\" height=\"450\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<h2><strong>#2 RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangunan ikonik sekaligus menyimpan sejarah panjang di Kota Magelang selanjutnya adalah RSJ Prof. Dr. Soerojo atau yang juga sering disebut RSJ Magelang. Rumah sakit ini sudah berdiri sejak tahun 1916 pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dan diresmikan tahun 1923.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, rumah sakit ini bernama Krankzinningengesticht Kramat. Konon, nama tersebut berkaitan dengan lokasi rumah sakit didirikan. Jadi sebelum dibangun rumah sakit, dulunya lahan tersebut adalah area makam yang mana salah satunya terdapat makam Kyai Ponggol yang dianggap \u201ckeramat\u201d oleh warga sekitar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya makam Kyai Ponggol sendiri sudah dipindahkan dari area pembangunan rumah sakit. Makam tersebut kini berada sekitar 1 kilometer di sebelah selatan rumah sakit. Hingga sekitar tahun 1970-an, banyak warga yang masih berkunjung ke makam keramat tersebut untuk meminta berkah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rumah sakit yang kemudian berganti nama menjadi RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang ini masih berdiri hingga sekarang. Kita bisa melihat ciri khas bangunan peninggalan Belanda di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kode-darurat-rumah-sakit-yang-perlu-diketahui-ini-penting\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rumah sakit<\/a> ini.<\/span><\/p>\n<p><iframe style=\"border: 0;\" src=\"https:\/\/www.google.com\/maps\/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d3956.215138690163!2d110.2256846!3d-7.441432600000002!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2e7a843d00000001%3A0xa751b216b9144cdc!2sSoerojo%20Hospital!5e0!3m2!1sid!2sid!4v1737358338761!5m2!1sid!2sid\" width=\"600\" height=\"450\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<h2><strong>#3 Kelenteng Liong Hok Bio<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangunan ikonik dan bersejarah selanjutnya di Kota Magelang adalah Kelenteng Liong Hok Bio. Kelenteng yang berdiri tak jauh dari Alun-Alun Kota Magelang ini memang terlihat cantik dengan warna bangunan dominan merah. Hingga sekarang, Kelenteng Liong Hok Bio masih didatangi orang-orang yang hendak berdoa atau sekadar berwisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulunya pernah terjadi kejadian kelam sekitar tahun 1740-an di mana pemerintah Belanda melarang kedatangan orang-orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa yang ada di Batavia kemudian dianiaya dan dibunuh. Mereka pun kabur ke berbagai daerah di Jawa Tengah seperti Semarang, Jepara, Rembang, dan bahkan Magelang. Nah, orang-orang Tionghoa yang sampai di Magelang inilah yang kemudian menetap di Ngarakan (sekarang jadi Jalan Daha) dan menjadi cikal bakal berdirinya Kelenteng Liong Hok Bio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelenteng Liong Hok Bio yang dibangun sejak tahun 1864 kemudian didirikan di atas tanah hibah dari seorang Tionghoa bernama Be Tjok Lok atau Kapiten Be Koen Wie. Bangunan ikonik dan bersejarah tersebut akhirnya menjadi rumah ibadah bagi warga Tionghoa yang tinggal di Magelang. Meski pernah terbakar tahun 2014 lalu, arsitektur bangunan ini sebagian besar masih terlihat autentik. Jelang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-pantangan-imlek-yang-dipercaya-bikin-sial-sepanjang-tahun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Imlek<\/a> seperti sekarang, Kelenteng Liong Hok Bio biasanya menyiapkan serangkaian acara sembahyang, bakti sosial, hingga kirab cap go meh yang biasanya meriah.<\/span><\/p>\n<p><iframe style=\"border: 0;\" src=\"https:\/\/www.google.com\/maps\/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d3955.882550534932!2d110.21913699999999!3d-7.478219900000002!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2e7a8f58ce67fd53%3A0x2e82431d1b42d416!2sKlenteng%20Liong%20Hok%20Bio!5e0!3m2!1sid!2sid!4v1737358428731!5m2!1sid!2sid\" width=\"600\" height=\"450\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<h2><strong>#4 GPIB Beth-El Magelang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangunan ikonik dan menyimpan sejarah di Kota Magelang yang terakhir adalah GPIB Beth-El Magelang. Gereja yang berdiri tak jauh dari Alun-Alun Kota Magelang ini merupakan gereja tertua di Kota Magelang. Diketahui gereja ini didirikan sejak tahun 1817 seiring dengan pembangunan alun-alun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">GPIB Beth-El Magelang memiliki luas sekitar 2500-an meter persegi dengan ciri khas arsitektur Gotik yang ramping dan tinggi. Awalnya, gereja ini diperuntukkan bagi komunitas Kristen Protestan Eropa. Seiring berjalannya waktu, gereja kemudian menjadi tempat ibadah bagi umat Kristen pribumi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski sudah berusia lebih dari dua abad, bangunan gereja masih tampak kokoh. Hampir tak ada pemugaran besar-besaran terhadap bangunan asli. GPIB Beth-El Magelang masih digunakan untuk beribadah sampai sekarang. Saya pribadi beberapa kali juga beribadah Minggu ke gereja ini.<\/span><\/p>\n<p><iframe style=\"border: 0;\" src=\"https:\/\/www.google.com\/maps\/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d3955.9028830770762!2d110.2180356!3d-7.4759761!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2e7a8f58ca3d76f5%3A0xa0877ba22f4e385e!2sGPIB%20Beth-El%20Magelang!5e0!3m2!1sid!2sid!4v1737360120974!5m2!1sid!2sid\" width=\"600\" height=\"450\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa bangunan ikonik dan menyimpan sejarah panjang di Kota Magelang. Bangunan-bangunan tersebut masih berfungsi dan bisa kita nikmati keindahannya hingga sekarang. Kalau kalian main ke Kota Magelang, coba sempatkan mampir ke bangunan-bangunan yang saya sebutkan di atas. Dijamin kalian bakal terkesima dengan kemegahan dan cerita di baliknya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Ekapratiwi<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-magelang-yang-tidak-disadari-banyak-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sisi Gelap Magelang yang Tidak Disadari Banyak Orang<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Magelang memiliki sejumlah bangunan ikonik dengan sejarah panjang. Salah satunya menara air.<\/p>\n","protected":false},"author":1182,"featured_media":311691,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[23707,27227,22551,10004,10501,8599],"class_list":["post-311682","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bangunan-bersejarah","tag-bangunan-ikonik","tag-bangunan-tua","tag-jawa-tengah","tag-kota-magelang","tag-magelang"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/311682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1182"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=311682"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/311682\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/311691"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=311682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=311682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=311682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}