{"id":31153,"date":"2020-03-22T14:07:47","date_gmt":"2020-03-22T07:07:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=31153"},"modified":"2020-03-22T14:09:12","modified_gmt":"2020-03-22T07:09:12","slug":"seperti-dendam-jajanan-yang-dulu-nggak-bisa-dibeli-juga-harus-dibayar-tuntas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seperti-dendam-jajanan-yang-dulu-nggak-bisa-dibeli-juga-harus-dibayar-tuntas\/","title":{"rendered":"Seperti Dendam, Jajanan yang Dulu Nggak Bisa Dibeli Karena Miskin Juga Harus Dibayar Tuntas"},"content":{"rendered":"<p>Kalau Agus Mulyadi punya pengalaman cukup sentimental <a href=\"https:\/\/www.agusmulyadi.web.id\/2017\/11\/close-up-dan-jarak-kebahagiaan.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">dengan odol <\/a><em>Close Up, <\/em>saya pun demikian. Bedanya, sekelumit kenangan masa kecil saya tersebut lebih kepada beberapa produk Nestle yang bahkan masih dan sepertinya akan selalu eksis sampai nanti.<\/p>\n<p>Saya lahir dan tumbuh di sebuah desa terpencil dan kebetulan juga berasal dari keluarga yang serba pas-pasan. Sehingga, nama-nama produk yang akan saya ceritakan ini dulunya hanya bisa saya nikmati dari hasil imajinasi tingkat tinggi. Biasanya, kalau lagi mantengin televisi butut di rumah simbah, saya hanya bisa <em>kelamut-kelamut <\/em>tiap kali <a href=\"https:\/\/food.detik.com\/info-kuliner\/d-4307233\/ini-5-iklan-makanan-jadul-yang-pasti-diingat-anak-90an\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">iklan produk tersebut melintas di depan mata saya<\/a>.<\/p>\n<p>Membayangkan masa kecil yang sangat akrab dengan kemelaratan, saya kadang suka cengar-cengir sendiri. Lebih-lebih ketika produk yang dulunya hanya berada di angan-angan, sekarang sudah bisa saya dapatkan dengan sangat gampang di hampir sembarang tempat. Kadang saya begitu terpancing untuk memotretnya dengan layar ponsel untuk kemudian mengirimkannya kepada tetangga saya yang dulu hobi banget bikin saya ngiler.<\/p>\n<p>Iya, tetangga saya memang sudah berkecukupan bahkan sejak dalam embrio. Maka, nggak butuh waktu dua puluh tahun baginya untuk menikmati sensasi produk-produk kelas metropolitan itu. Tapi, nih anak semasa SD emang <em>nggatheli<\/em>-nya amit-amit. Kalau kebetulan saya lagi main di pekarangan rumah, tuh anah pasti nongol dari balkon lantai duanya sambil teriak-teriak, \u201cMmmm enaaakkk, lezzaaaatttt.\u201d Semata agar saya kepengin untuk kemudian tangisan di hadapan ibu, berharap untuk dibelikan. Meski saya tahu belaka, tangisan saya nggak bakal ngasih pengaruh apa-apa.<\/p>\n<p>\u201cOrang miskin <em>mbok <\/em>sadar diri <em>tho, <\/em>nang,\u201d paling-paling ibu saya bakal bilang begitu.<\/p>\n<p>Itulah kenapa saat ini, setiap kali saya sedang menikmati produk tersebut saya selalu tergoda memfotonya untuk saya kirim ke tetangga saya yang sekarang kerja di Ibu Kota. Ingin sekali saya kirim dengan keterangan, \u201cNooohhh, lezzaaaattt, mantaaappp,\u201d wqwqwq~ Norak, ya? Biarin lah, menikmati produk-produk ini bagi saya adalah bagian dari kebahagiaan yang sempat tertunda.<\/p>\n<p><em>Sebenarnya produk apa, sih1!1!1!<\/em> Eh, penasaran <em>yooo? <\/em>huhuhuhu. Cek di bawah ini, nih. <em>Bon appetit<\/em> mylove:<\/p>\n<h4><strong>#1. Nestle Milo<\/strong><\/h4>\n<p>Kalau kata Tan Malaka, \u201cIdealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda,\u201d kalau saya, menikmati Milo adalah kemewahan yang tiada tara. Bagi saya, kesempatan menikmati Milo adalah kesempatan yang sangat langka. Gimana nggak langka, Saya butuh waktu satu sampai tiga tahun sekali untuk bisa menyeduhnya, menjilat-jilat cokelatnya yang tersisa di bibir saya.<\/p>\n<p>Pada saat itu, Milo menjadi oleh-oleh wajib yang bapak bawa dari Malaysia. Dan karena bapak pulang hanya setahun bahkan sampai tiga tahun sekali, maka kesempatan untuk menikmati cokelat lezat itu pun harus berjarak sedemikian lama. Itu pun bapak hanya membawakan sebungkus saja Milo ukuran sedang.<\/p>\n<p>Setiap mendapat kabar bapak akan pulang, hanya itu satu-satunya yang saya pesan. Kadang bapak memberi saya pilihan: mainan atau Milo saja cukup? Meski agak bimbang, tapi toh saya tetep milih Milo sebagai pilihan utama. Di lidah saya, Milo bisa jadi terasa sangat surgawi. Nggak jarang saya menikmati Milo dengan cara lain: menikmatinya tanpa air, alias menyendokinya dalam keadaan masih berbentuk bubuk.<\/p>\n<p>Meski saat ini Milo bisa dengan gampang saya temui di mini market, toko-toko pinggir jalan, bahkan di warung kopi belakang kosan, saya kadang sengaja tak membelinya. Padahal, kalau mau, uang saya jauh dari cukup untuk menebusnya dari mbak-mbak kasir. Alasan saya sederhana: agar sensasi menikmati Milo yang sentimental itu masih terjaga. Disamping untuk sekadar mengenang masa kecil penuh kemelaratan heuheuheu.<\/p>\n<h4><strong>#2 Nestle Dancow<\/strong><\/h4>\n<p>Apalah daya saya yang menggunakan kopi gilingan simbah atau teh hangat sebagai pendamping sarapan. Itu untuk yang ada rasanya. Paling sering ya cuma minum air tawar dari <em>kendi<\/em> (wadah minum dari tanah liat). Betapa indahnya kehidupan anak yang saya saksikan di layar kaca. Sebelum berangkat sekolah, sehabis main di taman rumah, atau pas lagi mau belajar, susu Dancow sudah siap sedia di atas meja.<\/p>\n<p>Pengalaman minum susu, seingat saya paling sering ya dua sampai tiga minggu sekali kalau kebetulan ibu ke pasar. Biasanya ibu akan membelikan saya Indomilk botolan yang masih seharga tiga ribu rupiah. Wehehehe jadi emang nggak sering-sering amat.<\/p>\n<p>Jujur, saya baru sering menikmati Dancow justru ketika saya sudah menginjak semester setua sekarang ini. Saya biasa memesannya di warung kopi langganan. <em>Pertama, <\/em>ya karena lagi pengin saja. <em>Kedua, <\/em>lebih karena saya pengin nostalgia sembari balas dendam. Ini susu yang bikin saya sering di-<em>cengin<\/em> tetangga karena ke sekolah bawa air tawar yang saya tuang dari <em>genuk<\/em>. Karena susu inilah yang menegaskan, betapa masa kecil saya sebegitu kental dengan kemiskinan.<\/p>\n<h4><strong>#3. Nestle Koko Krunch<\/strong><\/h4>\n<p>Untuk yang satu ini malah jangan ditanya lagi. Adalah kemustahilan bagi saya untuk sarapan sereal cokelat itu setiap pagi. Koko Krunch semasa itu, bagi saya sudah sangat hedon dan metropolistis sekali. Sebagai anak desa\u2014terpencil pula\u2014sereal cokelat lezat sudah kadung ter-<em>setting <\/em>dalam pikiran sebagai makanan orang-orang kota yang kalau manggil emak-bapaknya pakai ayah-bunda.<\/p>\n<p>Bagi sebagian Anda, menyantap sereal produksi Nestle ini mungkin menjadi rutinitas yang sangat klise. Tapi untuk orang yang baru saja merasakan sensasi merantau ke kota seperti saya ini, menyantap Koko Krunch adalah pencapaian yang patut untuk saya rayakan. Maka, dalam beberapa kesempatan, saya sering membelikannya untuk adik saya di kampung. Kami akan menikmatinya sama-sama, bergaya seolah sedang ngiklan dan promosi seperti di TV, dan ya tentu saja, menyantapnya dengan <em>telap-telep, lhab-lheb, <\/em>Menyombornya secara sporadis, melahapnya tanpa ampun.<\/p>\n<p>Ada dedam kesumat yang bergolak dalam dadam saya. Bertahun-tahun saya cuma ngiler di depan TV sama jajanan yang dulu nggak bisa dibeli karena miskin. Seperti halnya dendam, jajanan yang dulu nggak bisa dibeli ini juga harus dibayar tuntas!<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menilik-kembali-guyonan-seputar-masa-kecil-kurang-bahagia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menilik Kembali Guyonan Seputar \u201cMasa Kecil Kurang Bahagia<\/a><\/strong>\u00a0<strong>atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada dedam kesumat yang bergolak dalam dada saya. Bertahun-tahun saya cuma ngiler di depan TV sama jajanan yang dulu nggak bisa saya beli karena miskin  <\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":31242,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[382,5763,790],"class_list":["post-31153","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anak-anak","tag-iklan-makanan","tag-kemiskinan"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31153"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31153\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31242"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}