{"id":3111,"date":"2019-06-07T08:00:37","date_gmt":"2019-06-07T01:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3111"},"modified":"2022-01-17T15:04:29","modified_gmt":"2022-01-17T08:04:29","slug":"hanya-karena-saya-perempuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hanya-karena-saya-perempuan\/","title":{"rendered":"Hanya Karena Saya Perempuan?"},"content":{"rendered":"<p>Beberapa tahun yang lalu, anak-cucu nenek sedang berkumpul di rumah nenek. Kalau tidak salah saat itu acara kumpul keluarga waktu itu karena ada peringatan seribu hari meninggalnya almarhum kakek. Sesuai tradisi masyarakat setempat, peringatan kematian seseorang biasanya diadakan dengan menggelar acara tahlilan.\u00a0Selesai masak makanan berat atau menu utama, biasanya acara masak-masak yang kebanyakan dilakukan oleh kami yang perempuan kemudian dilanjutkan dengan membuat atau mengolah makanan untuk dijadikan camilan. Saat itu, saya kebagian mengupas kacang mentah yang hendak digoreng. Karena saya sendirian kemudian Ibu menyuruh adik saya\u2014laki-laki\u2014untuk membantu. Ternyata tidak lama kemudian, Ayah menyusul kami berdua. Karena mempunyai sifat yang sama-sama pendiam\u2014akut\u2014maka jadilah kami bertiga mengupas kacang dalam keheningan masing-masing.<\/p>\n<p>Melihat hal tersebut, salah Pakdhe saya, membuat lelucon tentang hal ini.<\/p>\n<p>\u201cNgupas kacang bertiga, tapi nggak ada yang nyuara,\u201d katanya. Sepertinya seloroh yang diucapkan Pakdhe tadi disambut gelak tawa dari semua orang. Mereka semua sudah paham perihal sifat pendiam Ayah yang \u2018menurun\u2019 ke anak-anaknya.<\/p>\n<p>Pakdhe masih belum selesai ternyata\u2014beliau juga menambahkan, \u201cKamu itu lo\u2014sambil menunjuk saya\u2014gimana sih, sebagai perempuan sendiri kok ya diem aja? Mbok Ayah sama adiknya diajak ngobrol.\u201d Itu saja yang beliau ulang-ulang sebagai bahan obrolan hingga beberapa bulan ke depan\u2014<em>hzzz kzl akutu~<\/em><\/p>\n<p>Saat itu\u2014selain menahan malu\u2014saya hanya bisa diam mendengarkan sambil mesam-mesem padahal di hati rasanya asem. Saya merasa kesal dan jengkel\u2014tapi tidak tahu harus berargumen bagaimana. Hanya menyadari bahwa saya tidak bisa menerima lelucon Pakdhe.<\/p>\n<p>Memang apa yang dikatakan beliau sebagian memang ada benarnya. Namanya orang\u2014terutama keluarga yang sepertinya jarang berkumpul bersama\u2014pasti ada baiknya untuk saling bertukar cerita. Saya juga yakin, sebenarnya ada banyak hal yang mungkin bisa diceritakan oleh masing-masing anggota keluarga, mengingat domisili kami yang berbeda kota. Namun\u2014karena dari kecil saya dan adik tidak (di)biasa(kan) berkomunikasi dengan baik\u2014hal tersebut membuat kami ragu dan malu (dan males) untuk sekadar membuka obrolan.<\/p>\n<p>Sebenarnya yang menjadi <em>gerundelan<\/em> saya bukan hal tersebut, melainkan omongan Pakdhe yang menitikberatkan gender saya sebagai perempuan ini yang menurutnya harus bisa mengajak orang bercengkerama dan asyik bertukar cerita. Dari guyonan Pakdhe tadi, bisa ditangkap bahwa menurutnya perempuan identik dengan banyak omong atau aktif berbicara. Sedangkan gender laki-laki yang punya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/rame\/list\/5-tantangan-hidup-orang-pendiam\/\">sifat pendiam adalah hal yang normal<\/a>. Berdasarkan hal tersebut maka saya sebagai perempuanlah yang bertugas untuk memeriahkan suasana.<\/p>\n<p>Belum selesai sampai di sana. Kemarin saat hari pertama lebaran, ada tamu yang berkunjung ke rumah nenek. Dari sekian banyak anggota keluarga, Pakdhe menyuruh siapa pun yang perempuan (kecuali nenek) untuk membuatkan minuman untuk tamu yang datang.<\/p>\n<p>Karena Ibu saya mengatakan kalau sedang ingin istirahat sebentar setelah seharian keliling rumah sanak saudara\u2014Ibu seraya bergurau hanya melempar perintah membuatkan minuman tadi pada adik saya yang duduk di sebelahnya. Setelah itu, gurauan tersebut diteruskan ke anak ketiga Pakdhe yang bernama S\u2014lalu S melanjutkan perintah tadi kepada G. Baik adik saya, S, maupun G adalah anak laki-laki semua.<\/p>\n<p>Merasa sudah tidak sabar\u2014Pakdhe kemudian mengulangi perintahnya tadi\u2014bahkan dengan tambahan, \u201c<em>Lha wong<\/em> di rumah ini ada banyak perempuan kok bikin minuman saja pakai ribet segala.\u201d<\/p>\n<p>Kalau sedang tidak ada tamu, ingin rasanya aku melemparkan gawai yang menampilkan akun-akun media sosial yang memuat konten feminisme atau gerakan yang mengusung kesetaraan gender\u2014atau opsi lain, ngegas di depan banyak orang bahwa bikin minuman atau urusan dapur BUKAN HANYA TUGAS PEREMPUAN tapi apa daya aku takut dicoret dari Kartu Keluarga.<\/p>\n<p><em>Helaaaaw<\/em>, udah tahun 2019 dan situ masih aja berpikir bahwa aktivitas di dapur hanya milik perempuan?<\/p>\n<p><em>Helaaaaw<\/em>, padahal kan kebutuhan makan dan minum <a href=\"https:\/\/tirto.id\/tingkat-kesetaraan-gender-indonesia-kalah-jauh-oleh-filipina-c9ms\">nggak pandang gender. <\/a><\/p>\n<p>Lagian memangnya laki-laki nggak <em>mudheng<\/em> cuma perkara nyiapin gelas berikut tatakan, masukin gula, kopi, atau teh kemudian tuang air panas secukupnya? Merasa gengsi kalau harus ikut membantu memberikan suguhan pada tamu? Luntur kelaki-lakiannya kalau menginjakkan kaki di ruangan yang identik dengan kompor dan peralatan makan? Nggak, kan?<\/p>\n<p><em>Jelas nggak dooooong!<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Omongan Pakdhe menitikberatkan gender saya sebagai perempuan ini yang menurutnya harus bisa mengajak orang bercengkerama dan asyik bertukar cerita.<\/p>\n","protected":false},"author":119,"featured_media":3141,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[814,612,122,815],"class_list":["post-3111","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-feminis","tag-kesetaraan-gender","tag-perempuan","tag-sjw"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3111","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/119"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3111"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3111\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3111"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3111"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3111"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}