{"id":310859,"date":"2025-01-13T11:21:54","date_gmt":"2025-01-13T04:21:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=310859"},"modified":"2025-01-13T11:21:54","modified_gmt":"2025-01-13T04:21:54","slug":"culture-shock-kuliah-di-pakistan-dari-kacamata-orang-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-kuliah-di-pakistan-dari-kacamata-orang-indonesia\/","title":{"rendered":"Culture Shock Kuliah di Pakistan, Mahasiswa Sering Demo dan Kelas Sering Kosong\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kuliah di Pakistan pada 2018-2023. Selama kurang lebih 5 tahun menempuh studi di sana, entah berapa kali aktivitas kampus mandek gara-gara mahasiswa demo. Satu hal yang tidak pernah saya sangka sebelum berangkat studi ke negara yang kaya akan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-peradaban-islam-alternatif-jurusan-yang-pengin-belajar-kajian-keislaman-tapi-malas-ketemu-bahasa-arab\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> sejarah Islam<\/a> itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sebelum terbang ribuan kilometer demi menimba ilmu <span style=\"font-weight: 400;\">di negeri Permata Timur itu, saya membayangkan saya akan banyak mengikuti kelas-kelas tatap muka yang menggugah, menghabiskan waktu di perpustakaan, hingga mengikuti diskusi ini-itu. Sayang, kenyataan berkata lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Demo bikin kuliah tidak kondusif<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama 5 tahun kuliah di sana, entah sudah berapa kali jadwal kuliah tatap muka berantakan dan aktivitas kampus mandek karena mahasiswa demo. Saya beri sedikit gambaran ya, demo di sini benar-benar berbeda level. Demo bisa terjadi selama berminggu-minggu hingga membuat perkuliahan jadi tidak kondusif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kekacauan yang hampir terjadi tiap ada demo besar-besaran. Kebanyakan demo di sini memang bukan aksi unjuk rasa secara damai. Gas air mata, batu berterbangan, bahkan bentrokan fisik adalah pemandangan biasa. Saya pernah terjebak di tengah kericuhan seperti ini. Saat kejadian, pendidikan rasanya bukan lagi jadi prioritas, walau saya sudah menempuh ribuan kilometer demi belajar. Keselamatan tetap jadi hal utama. Pengalaman itu menambah daftar panjang ironi yang saya temui selama kuliah di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu demo paling memorable adalah saat<a href=\"https:\/\/news.detik.com\/internasional\/d-6025297\/pm-pakistan-imran-khan-digulingkan-lewat-mosi-tidak-percaya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> pemakzulan Imran Khan<\/a> sebagai Perdana Menteri. Demo yang awalnya diperkirakan berlangsung sehari, ternyata molor. Situasi ini menunjukkan betapa demo di Pakistan bisa dengan cepat berubah menjadi gelombang protes besar yang tak terkendali.<\/span><\/p>\n<h2><b>Melatih belajar mandiri\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya bukan cuma mahasiswa yang pusing menghadapi kondisi yang kurang kondusif untuk kuliah. Para dosen juga memutar otak tia minggu untuk menyesuaikan jadwal yang berantakan. Beberapa akhirnya memilih pendekatan paling sederhana \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kita kirim materi lewat email saja, ya.\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah situasi tidak kondusif, beberapa kampus mencoba mengadopsi sistem pembelajaran online. Namun, cara ini juga punya tantangan, infrastruktur internet di Pakistan belum merata. Tidak semua mahasiswa punya akses yang memadai. Akibatnya, pembelajaran online sering kali tidak efektif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik segala kekacauan ini, saya tetap berusaha mencari sisi baiknya.<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadwal-kuliah-sabtu-sangat-menyiksa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Jadwal kuliah<\/a> yang amburadul memberi saya kesempatan untuk belajar secara mandiri. Saya mulai menggali ilmu lewat buku atau berdiskusi dengan teman-teman. Bahkan, saya menganggap ini sebagai peluang untuk memahami dinamika sosial dan politik Pakistan dari dekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada pelajaran penting tentang daya juang masyarakat Pakistan. Melihat bagaimana mereka bertahan di tengah protes panjang, bahkan sampai mendirikan tenda di lokasi demo, saya jadi lebih menghargai semangat juang mereka. Ini adalah dimensi unik yang mungkin tidak akan saya temukan di negara lain.<\/span><\/p>\n<h2><b>Syok, tapi tidak pernah menyesal kuliah di Pakistan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya menyalahkan para pendemo. Saya malah salut dengan warga dan mahasiswa di sini. Demo jadi salah satu pertanda mereka melek dan peduli dengan situasi negara hingga rela turun ke jalan. Pada saat itu mungkin saya hanya kurang siap mengahadapi kenyataan. Atau mungkin, saya kecewa dengan berbagai ekspektasi diri sendiri selama kuliah di sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, kalau ditanya, apakah saya menyesal kuliah di sana? Dengan yakin saya jawab, tidak juga. Kuliah di Pakistan memang penuh tantangan, tapi juga penuh cerita. Dari memahami peta politik negeri ini hingga menikmati libur dadakan, semuanya menjadi bagian dari perjalanan akademik yang tak terlupakan. Pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih fleksibel dan sabar, serta membuka mata terhadap realita kehidupan di negara dengan dinamika sosial-politik yang begitu intens.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ibnu Fikri Ghozali<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kereta-api-pakistan-seperti-kereta-api-indonesia-era-90-an\/\"><b>Pengalaman 32 Jam Naik Kereta Api Pakistan seperti Kembali ke Era 90-an<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Indonesia mengalami culture shock kuliah di Pakistan karena mahasiswa di sana sering demo sehingga perkuliahan sering kosong.<\/p>\n","protected":false},"author":2833,"featured_media":310864,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[2921,278,436,27133,3675,27049],"class_list":["post-310859","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-culture-shock","tag-demo","tag-kuliah","tag-kuliah-di-pakistan","tag-mahasiswa-indonesia","tag-pakistan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/310859","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2833"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=310859"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/310859\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/310864"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=310859"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=310859"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=310859"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}