{"id":310808,"date":"2025-01-12T14:43:26","date_gmt":"2025-01-12T07:43:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=310808"},"modified":"2025-01-12T14:43:26","modified_gmt":"2025-01-12T07:43:26","slug":"guru-asing-di-sma-garuda-lelucon-dunia-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-asing-di-sma-garuda-lelucon-dunia-pendidikan\/","title":{"rendered":"Guru Asing di SMA Garuda, Lelucon Dunia Pendidikan di Awal Tahun yang Berpotensi Jadi Masalah Besar di Kemudian Hari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak ada masalah dengan pemain naturalisasi di Timnas Indonesia, tapi saya punya masalah besar jika ada guru asing didatangkan untuk sekolah unggulan di Indonesia. Yak, saya ngomongin tentang gegeran SMA Garuda yang katanya akan <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/politik\/stella-christie-sma-unggulan-garuda-akan-datangkan-guru-asing-1192250\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mendatangkan<\/a> guru asing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian bisa anggap saya munafik atau standar ganda. Well, pertama, saya nggak peduli. Kedua, pemain naturalisasi (atau apa pun istilahnya lah) itu punya darah Indonesia dan eligible membela Garuda. Kalau guru asing, jelas beda cerita. Mereka orang luar, yang tak perlu menanggalkan status kewarganegaraan mereka, plus jelas digaji dengan angka yang fantastis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu sebenarnya itu tidak masalah. Tenaga asing nggak masalah didatangkan jika yang dicari kualitas, mengingat memang masih banyak sektor yang kita tidak kuasai betul. Tapi jadi lucu mengingat salah satu isu terbesar pendidikan kita adalah gaji guru yang rata dengan tanah. Saya nggak ngomongin guru PNS, tapi guru honorer yang keberadaannya vital, tapi digaji dengan ugal-ugalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlebih lagi, jika memang kualitas guru kita katakanlah tidak baik, tentu solusinya bukan dengan mendatangkan guru asing. Sudah saya bilang berkali-kali, tingkatkan gaji guru, perbaiki lagi sistem pendidikannya, baru ngomongin kualitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">You pay peanut, you get monkey. Udah, ini pegangan yang nggak bisa dilawan validitasnya.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Guru asing adalah jawaban, jawaban yang goblok maksudnya<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya beneran nggak ngerti dengan orang-orang yang berpikir mengadopsi gaya asing adalah jawaban untuk memperbaiki sistem pendidikan. Sudah sampai bosan saya mendengar orang-orang yang meminta kita meniru sistem pendidikan Finlandia. Atau, disuruh liat bagaimana Cina mendidik anak-anaknya. Kayak, kita nggak punya kepercayaan diri yang baik gitu lho, kek kita beneran nggak becus ngapa-ngapain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, sekali kita niru, kita menirunya tebang pilih. Yang selalu dipilih yang keliatan wah, bagian yang ditebang tentu saja kesejahteraan guru. Gaji guru segitu-gitu aja, tapi beban administrasinya kelewat banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada tuh rencana yang beneran konkret untuk memperbaiki sistem pendidikan. Tiba-tiba zonasi, tanpa melihat bahwa pemerataan sekolah di Indonesia masih kacau. Sekarang tiba-tiba ada isu guru asing, ya Tuhan ini pada napak tanah nggak sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul, guru asing itu hanya untuk SMA Garuda sejauh ini. Tapi tolonglah, ini sama saja meludahi perjuangan banyak sarjana pendidikan yang mengejar pendidikan tinggi demi bisa dianggap mumpuni oleh negara. Kalau memang niatnya cari guru yang berkualitas, saya berani sumpah bahwa ada puluhan ribu guru yang hebat di luar sana. Tinggal lihat kualitas mahasiswa jurusan pendidikan di tiap kampus. Ada banyak, tinggal cari. Males golek? Resign wae joh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau guru asing dianggap adalah solusi, bubarkan saja jurusan pendidikan di seluruh Indonesia. Kalau kocak, yang total sekalian.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Hanya anak priyayi yang boleh sekolah<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain perkara guru asing, SMA Garuda ini sebenarnya menunjukkan ada satu masalah yang harusnya tak lagi muncul semenjak ada zonasi: perkara sekolah unggulan. SMA Unggulan Garuda, dari namanya, jelas isinya orang unggulan. Kurikulumnya saja namanya udah keren, Kurikulum <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/International_Baccalaureate\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">International Baccalaureate<\/a> (IB). Uangele jenenge.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas, masalah yang saya maksud adalah perkara elitis. Ujung-ujungnya, ya hanya yang berprivilese saja yang mendapat pendidikan unggul. Sekolah luar sana peduli setan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ujungnya begini, ya hapuskan zonasi dan tetap bikin pendidikan jadi sesuatu yang eksklusif. Sekalian bikin yang bisa sekolah hanya anak-anak priyayi. Orang-orang tak punya privilese nggak perlu sekolah apa kagak, nggak usah dipikirin. Mau sekolah apa kerja sekalian di PT Mencari Cinta Sejati sanalah bebas sak karepmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau lulusannya jadi pada jago dan bisa membangun Indonesia mah mending. Tapi kalau ujungnya cuman jadi elitist menyebalkan dan sok keras macam coach botak modal bacot miskin taktik mah, bubar wae.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira, dengan tak lagi dipilihnya Nadiem jadi menteri pendidikan, akan ada gebrakan yang menyenangkan dan akhirnya negara berpihak pada rakyat serta pendidik. Tapi melihat ada gebrakan guru asing dan sekolah unggulan, yah, baiknya kita telan harapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah gaji guru tetap tiarap, beban administrasi banyak, tambah tukin dosen nggak cair, eh ini kok ada guru asing segala. Wis, kita nggak perlu berharap banyak. Siap-siap saja kita menemui makin banyak manusia percaya bumi itu datar dan nggak bisa memahami apa itu teori evolusi di TikTok. Remok, bolo!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-finlandia-dan-indonesia-gaji-sama-rendah-beda-beban-kerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Guru Finlandia dan Indonesia: Gaji Sama Rendah, Beda Beban Kerja<\/a><\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-nggak-melulu-berisi-hal-buruk-ini-5-hal-yang-bisa-dibanggakan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mendatangkan guru asing jelas keliru. Benar itu memang hanya untuk SMA Garuda, tapi sama saja meludahi sarjana pendidikan di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":310810,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[4707,27128,8646,27130,4984,27129],"class_list":["post-310808","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-gaji-guru","tag-guru-asing","tag-kesejahteraan-guru","tag-masalah-pendidikan","tag-sistem-pendidikan","tag-sma-garuda"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/310808","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=310808"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/310808\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/310810"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=310808"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=310808"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=310808"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}