{"id":310726,"date":"2025-01-11T15:23:21","date_gmt":"2025-01-11T08:23:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=310726"},"modified":"2025-01-11T15:23:21","modified_gmt":"2025-01-11T08:23:21","slug":"wajar-ada-orang-yang-mau-keluar-duit-ratusan-juta-demi-masuk-polisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wajar-ada-orang-yang-mau-keluar-duit-ratusan-juta-demi-masuk-polisi\/","title":{"rendered":"Wajar Ada Orang yang Mau Keluar Duit Ratusan Juta demi Masuk Polisi, karena Polisi Amat Dihormati di Lingkungan, Tak Peduli Pangkatnya Apa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berita tentang orang yang <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jogja\/berita\/d-7724179\/briptu-wt-pelaku-tipu-tipu-rp-900-juta-dipecat-suratmo-harap-uangnya-kembali\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ditipu oknum polisi<\/a> sebesar 900 juta agar anaknya bisa masuk polisi kini jadi meme. Oke, kalian bisa berpendapat bahwa tak etis mentertawakan penderitaan orang. Tapi begitulah dunia meme berjalan. Sesuatu yang absurd akan menjadi bahan tertawaan. Tragedy becomes comedy, sooner or later.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain berubah jadi meme, penipuan uang ratusan juta itu jadi bahan pembicaraan paling menarik di media sosial belakangan. Kenapa ada orang mau bayar sejumlah uang untuk kerja? Kenapa juga ada orang yang mau bayar ratusan juta hanya untuk jadi polisi, yang katanya gajinya nggak seberapa besar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menjawab itu, kalian harus liat realitas di lingkungan masyarakat seperti apa. Tapi sebelum lanjut, disclaimer, saya tidak bilang semua polisi itu dulunya nyogok. Ini hanya menjelaskan kenapa ada orang yang mau saja disuruh bayar, tidak menyudutkan instansi kepolisian. Buat apa juga aing nyudutin, peduli setan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang melek isu, hidup di kota, atau hidup di daerah yang maju, kalian mungkin tak relate kenapa orang-orang ingin jadi polisi. Profesi tersebut malah kerap jadi bahan olok-olokan di media sosial. Kasus demi kasus yang terjadi tidak membantu sama sekali, malah menjerumuskan reputasi profesi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, di akar rumput, beda cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Polisi itu punya kasta tinggi di kehidupan sosial. Coba bagi kalian yang hidup di kabupaten atau daerah-daerah biasa saja, pasti kalian punya kenalan polisi yang mungkin pangkatnya nggak tinggi, tapi disegani di lingkungan. Orangnya mungkin biasa saja, datang dari keluarga biasa saja, tapi diseganinya luar bisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa? Ya karena dia polisi.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kenapa polisi sebegitu dihormati?<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak tahu sejak kapan polisi bisa sebegini dihormati di lingkungan, sekalipun orangnya tak berpangkat tinggi. Kalian-kalian yang kerjanya berat, jarang libur, kalau nggak kumpul RT, pasti dirasani sampai 2045. Tapi kalau polisi, jangankan dirasani, datang sekali tiap 4 tahun pun tetap diberi karpet merah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kecil, inilah yang saya tahu. Lingkungan yang saya kenal mengajarkan itu. Pokoknya orang-orang berseragam, wajib diberi hormat. Maksudnya yang berseragam TNI, Polri, dan PNS ya. Kalau seragammu lain, tetap saja dipandang sinis sama warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena pandangan tersebut kelewat mengakar, jadinya itulah yang \u201cdisepakati\u201d. Akhirnya para remaja dan orang tuanya berpikiran jika mereka ingin naik kasta sosial secara cepat, maka jadilah polisi dan tentara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah pemikiran itu salah? Wah, saya nggak mau menghakimi. Sebab yang saya lihat, orang tua yang anaknya jadi penegak hukum dan tentara memang bangga dan oleh lingkungannya, mereka dihormati. Menurut saya nggak ada yang salah dengan itu, yang salah bagi saya adalah, ketika ada oknum-oknum yang memanfaatkan celah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuma ya memang mangkel sih lihat orang tua yang overproud dan nyinyirin anak tetangga yang tidak berprofesi sama.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Realitas di sosial<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin bagi kalian, ini konyol. Daripada maksa naik status sosial di lingkungan dengan mengeluarkan ratusan juta demi anak masuk polisi, mending buat usaha. Betul, saya pun nggak setuju kalau ada orang tua \u201cmenyogok\u201d demi anaknya masuk polisi. Kayak yang terjadi di kasus ketipu 900 juta itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya inilah kenyataan yang terjadi. Orang-orang milih cara cepat karena mereka ingin merasakan dihormati. Apakah mereka gila hormat, belum tentu, tapi mendapat respek di sosial itu menyenangkan. Nyatanya, jika kamu bukan orang yang terpandang, hidupmu dipersulit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak jarang kan kalian dipersulit ngurus administrasi, sedangkan ketika ada orang yang punya pangkat, urusan beres bahkan tanpa mereka turun tangan sekalipun?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya memang inilah dunia yang kita jalani. Nggak peduli sama sekali dengan orang-orang biasa. Bersuara pun nggak boleh. Saya, Anda, dan orang lain di luar sana punya andil membentuk sosial yang brengsek ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian ingin dunia yang tidak seperti ini, mungkin bisa dimulai dengan menghormati orang sebagaimana mestinya. Tidak menggelar karpet merah di kampung hanya karena bapak itu adalah pejabat di X. Tidak membungkukkan badan ke ibu itu hanya karena dia orang penting di A. Intinya, tidak meratakan kepala dengan tanah pada orang-orang yang dianggap punya jabatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita bisa melakukan itu, niscayalah, tak ada lagi orang keluar ratusan juta atau miliaran untuk menyuap oknum agar bisa jadi polisi, kepala dinas, atau apalah itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/cara-naik-kereta-api-jogja-jakarta-cuma-82-ribu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Naik Kereta Api Jogja-Jakarta Cuma 82 Ribu: 24 Jam Perjalanan, Tapi Jauh Lebih Murah dan Berkesan, Serasa Nge-Punk<\/a><\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-nggak-melulu-berisi-hal-buruk-ini-5-hal-yang-bisa-dibanggakan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.a<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Polisi itu punya kasta tinggi di kehidupan sosial, jadi wajar jika ada orang tua yang ketipu ratusan juta demi anaknya masuk polisi.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":310727,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[287,8997,2504,16895,11909],"class_list":["post-310726","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-lingkungan","tag-oknum","tag-polisi","tag-reputasi","tag-suap"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/310726","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=310726"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/310726\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/310727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=310726"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=310726"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=310726"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}