{"id":309898,"date":"2025-01-04T18:47:48","date_gmt":"2025-01-04T11:47:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=309898"},"modified":"2025-01-05T17:15:01","modified_gmt":"2025-01-05T10:15:01","slug":"hindari-gudeg-jogja-yang-sudah-terkenal-karena-pasti-mahal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hindari-gudeg-jogja-yang-sudah-terkenal-karena-pasti-mahal\/","title":{"rendered":"Nyatanya, Gudeg Jogja Terkenal dan Mahal Itu Kalah Enak Dibandingkan Gudeg Emperan Pinggir Jalan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat liburan Natal dan Tahun Baru kemarin, saudara saya mengajak saya untuk makan gudeg Jogja. Kalau wisatawan, mereka akan memburu gudeg di warung ternama. Misalnya, Gudeg Sagan, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mempertanyakan-nama-warung-makan-yang-identik-dengan-gender-tertentu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Yu Djum<\/a>, dan Gudeg Bu Hj. Ahmad.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ketika masyarakat asli Jogja mengajak makan gudeg di pinggir jalan, saat pagi atau malam, wisatawan banyak yang nggak mau. Saya mengamini fenomena yang terjadi ini. Bahwa kebanyakan, yang \u201cbisa\u201d menikmati gudeg terkenal, hanya wisatawan. Masyarakat lokal malah kurang berminat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harga gudeg Jogja yang terkenal terlalu mahal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saat masih kuliah di Jogja, saya suka sekali makan gudeg. Namun, saya tidak bisa setiap saat bisa menikmati gudeg Jogja. Semuanya karena harga makanan khas ini lebih mahal ketimbang makan di angkringan atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-franchise-warteg-sulit-menggeser-kejayaan-warmindo-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warmindo<\/a>. Yah, di satu sisi, saya bisa maklum karena membuat gudeg itu tidak mudah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, suatu ketika, saat saya sedang tugas Natal dan Paskah di salah satu gereja di Jogja, panitia mendapat makan malam gudeg. Tapi, yang panitia beli bukan yang sudah terkenal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran penasaran, saya bertanya ke divisi konsumsi. Mengapa banyak masyarakat asli lebih suka menyukai gudeg Jogja yang di pinggir jalan dan bukan yang bermerek? Begini beberapa jawabannya.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hindari-gudeg-jogja-yang-sudah-terkenal-karena-pasti-mahal\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Yang nggak terkenal, ternyata lebih enak.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Gudeg Jogja pinggir jalan itu rasanya lebih gurih<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dan beberapa teman biasa menikmati gudeg Jogja di sepanjang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-di-jogja-yang-wajib-banget-dicoba-part-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Gejayan<\/a>, Jalan Pandega Marta, dan Kotabaru. Kami suka karena gudeg di sana tidak terlalu manis, tapi lebih ke gurih. Entah ini benar atau tidak. Katanya, gudeg Jogja di pinggir jalan menggunakan bumbu yang lebih sederhana, tapi kaya rasa. Makanya malah sesuai dengan selera masyarakat lokal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harganya lebih terjangkau<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gudeg Jogja di pinggir jalan itu harga lebih terjangkau. Yang saya maksud di sini adalah gudeg yang dijualkan oleh masyarakat Jogja. Biasanya mereka tidak menggunakan merek tertentu. Masyarakat mengenal mereka lewat nama penjual. Misalnya, Gudeg Bu Yati, Bu Parno, Bu Pasar, dan lain sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para pembeli bisa membeli dengan cara menyebutkan nominal. Misalnya, pesan gudeg telur seharga Rp10 ribu. Atau kalau mau pakai ayam, cuma Rp15 ribu saja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nggak perlu ketemu tukang parkir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang sudah lama tinggal di Jogja, sebenarnya sudah muak dengan keberadaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-darurat-parkir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">parkir liar<\/a>. Sebisa mungkin kami menghindari rumah makan atau mini market yang ada tukang parkirnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan jika hendak mengambil uang di ATM saja, saya selalu melihat dulu ada tukang parkirnya atau tidak. Jika ada, saya jadi malas. Maka tidak heran jika kami memilih rumah makan yang tepat bagi kami. Misalnya soal pilihan gudeg Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tempat penjual gudeg pinggir jalan kebanyakan masih belum ada tukang parkirnya. Kalau di Jalan Gejayan, tentu saja bukan <a href=\"https:\/\/food.detik.com\/warung-makan\/d-6690817\/gudeg-bromo-pedas-nonjok-nasi-gudeg-plus-krecek-buatan-bu-tekluk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bu Tekluk<\/a>. Yang saya maksud yang hanya menuliskan nama saja dan ada tenda di pinggir jalan. Yang di pinggir jalan macam ini yang biasanya berjualan di depan toko, kebanyakan pembeli membungkus makanannya, dan tidak ada tukang parkir.<\/span><\/p>\n<h2><b>Karakter masyarakat asli Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengamati kalau masyarakat Jogja pada umumnya itu terkenal sederhana. Termasuk dalam pilihan mereka menikmati kuliner tertentu. Misalnya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/angkringan-palsu-di-jogja-meresahkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">angkringan<\/a>, yang menawarkan pengalaman yang lebih akrab dan hangat. Persis dengan ciri khas mereka menyukai gudeg di pinggir jalan yang tidak terkenal, tapi enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana sederhana seperti ini yang menjadi alasan masyarakat Jogja lebih menyukai makanan di pinggir jalan dibandingkan restoran bermerek. Restoran yang bermerek cukup bagi wisatawan saja, bukan masyarakat lokalnya. Mungkin begitu cara pandang mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu dia 4 hal yang menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih gudeg Jogja. Kembali lagi, makanan itu selera masing-masing. Namun, dari pengalaman saya, itulah yang didapatkan. Selain soal harga dan rasa gurih, ada juga kesederhanaan yang menjadi gaya hidup masyarakat Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Helena Yovita Junijanto<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-gudeg-emperan-murah-dan-enak-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Rekomendasi Gudeg Emperan Murah dan Enak di Jogja<\/a><\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini menjelaskan bahwa banyak masyarakat lokal menghindari gudeg Jogja yang sudah terkenal karena mahal dan kurang cocok di lidah. <\/p>\n","protected":false},"author":2590,"featured_media":309914,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2374,18085,115,4418],"class_list":["post-309898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-gudeg","tag-gudeg-jogja","tag-jogja","tag-kuliner-jogja"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/309898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2590"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=309898"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/309898\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/309914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=309898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=309898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=309898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}