{"id":309742,"date":"2025-01-03T10:12:34","date_gmt":"2025-01-03T03:12:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=309742"},"modified":"2025-01-03T10:12:34","modified_gmt":"2025-01-03T03:12:34","slug":"kuliner-trenggalek-yang-patut-dicoba-selain-ayam-lodho","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-trenggalek-yang-patut-dicoba-selain-ayam-lodho\/","title":{"rendered":"6 Kuliner Trenggalek yang Wajib Dicoba selain Ayam Lodho dan Ikan Asap"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabupaten Trenggalek tidak hanya terkenal akan pariwisatanya, daerah yang berada di pesisir selatan Jawa Timur itu juga populer dengan kulinernya yang menggoyang lidah. Kuliner Trenggalek tidak hanya terdiri <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ayam-lodho-jadi-rebutan-warga-trenggalek-dan-tulungagung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ayam lodho<\/a> dan ikan asap, selain dua makanan itu masih ada segudang jajanan lain yang wajib dicoba.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beragam jajanan Trenggalek dapat ditemukan dengan mudah ditemukan di berbagai sentra oleh-oleh. Salah satunya, pusat oleh-oleh yang berada di Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan. Sentra oleh-oleh ini terletak di jalur jalan provinsi yang menghubungkan dari pusat pemerintahan Trenggalek ke Kabupaten Tulungagung.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Alen-alen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama camilan alen-alen terinspirasi dari kata \u201cali-ali\u201d yang berarti cincin. Bentuk jajanan ini memang seperti cincin, bundar dengan lubang di tengah dengan tekstur renyah seperti keripik. Kendati seperti cincin, tidak semua alen-alen bisa dimasukkan ke jari seperti cincin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jajanan ini terbuang dari tepung <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/varian-olahan-singkong-berikut-patut-kamu-coba-biar-nggak-bosan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">singkong<\/a> seperti lanting. Rasa original dari alen-alen adalah gurih dengan warna kuning cerahnya, tetapi kemudian berkembang varian pedas bagi pecinta cemilan pedas.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Keripik tempe<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah terlihat jelas dari namanya, keripik tempe terbuat dari bahan tempe tipis. Itu mengapa tempe yang digunakan untuk pembuatan keripik ini sudah disiapkan secara khusus. Saat masih dalam bentuk kedelai, kedelai sudah harus dibuat setipis mungkin. Kedelai yang sudah menjadi tempe itu kemudian dilapisi dengan bumbu tepung dan irisan daun jeruk, baru masuk proses penggorengan.\u00a0<\/span>Jajanan Trenggalek yang satu ini memang terdengar sederhana, tapi rasanya begitu menggoda.<\/p>\n<h2><b>#3 Opak kali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuai dengan namanya, opak kali terdiri dari kata &#8220;opak&#8221; yang berarti kerupuk dan &#8220;kali&#8221; yang merujuk pada pasir sungai. Jajanan Trenggalek\u00a0 ini juga dikenal dengan sebutan kerupuk pasir karena cara menggorengnya menggunakan pasir, bukan minyak goreng. Tenang saja, walau menggunakan pasir dalam proses pembuatannya, makanan ini bisa dijamin kebersihannya kok.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Opak kali biasanya disantap bersama sambal kacang bertekstur kental. O<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">pak kali yang punya cita rasa gurih dengan tekstur kering sangat cocok dipadukan dengan pedasnya sambal kacang. M<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ulut ini rasanya sulit untuk tidak mengunyahnya sampai habis.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Manco biji wijen<\/b><\/h2>\n<p>Manco biji wijen sebenarnya bukan kuliner asli Trenggalek. Namun, makanan ini selalu hadir di berbagai acara di desa-desa Trenggalek. Rasanya yang manis dan teksturnya yang renyah menjadikan makanan ini begitu mudah disukai.<\/p>\n<p>Manco berbentuk bulat dan lonjong dengan rongga kosong di dalamnya. Itu mengapa, camilan ini mudah hancur di mulut dalam sekali gigit. Tekstur renyah ini manco sangat pas dipadukan dengan lapisan gula merah yang bertabur biji wijen. Sangat sa<span style=\"font-weight: 400;\">yang kalau kalian mampir ke Trenggalek, tapi tidak mencicipi camilan ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Sale Pisang\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuai dengan namanya, jajanan Trenggalek ini menggunakan bahan baku dari pisang. Jenis pisang yang digunakan biasanya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/manis-sampai-pedas-aneka-camilan-olahan-pisang-khas-bugis-makassar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pisang ambon<\/a> atau pisang kepok yang cukup matang. Jenis pisang memang ini lebih bagus ketika diolah sebagai sale, baik dengan digoreng minyak saja maupun dicampur dengan varian rasa-rasa tambahan seperti coklat hingga keju.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau mudah ditemui di beberapa daerah, sale pisang Trenggalek memiliki kekhasan tersendiri, yaitu menggunakan pisang kawak yang tumbuh subur di sekitar Trenggalek. Sale pisang kawak biasanya digoreng hingga mengkerut dan berwarna coklat, kemudian dapat langsung disantap atau disajikan dengan bubuk rasa tambahan sesuai selera.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Madu Mongso<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jajanan\u00a0 yang satu ini sebenarnya berasal dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ponorogo-kota-dengan-sejuta-julukan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ponorogo<\/a>, tetapi juga populer di Trenggalek dan sekitarnya. Jajanan ini sering muncul ketika hari raya lebaran. Madu mongso berbahan dasar tape ketan hitam yang diolah dengan gula merah, santan, dan beberapa bahan lainnya. Madu mongso di Trenggalek dibungkus dengan plastik warna-warni dan bertekstur lebih kental dengan gula merahnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cita rasa madu mongso\u00a0 yang manis dari gula sangat cocok berpadu dengan legit dan asam dari tape ketan hitam. Oleh karena itu, tidak jarang jika madu mongso menjadi salah satu incaran bagi para pelancong ketika berada di Trenggalek.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Sego Gegok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Trenggalek yang satu ini sebenarnya masih menjadi perdebatan antara jajanan atau makanan berat. Jika dianggap sebagai jajanan, sego gegok terdiri dari nasi dan lauk-pauk yang menyerupai hidangan berat pada umumnya. Jika dianggap sebagai makanan berat, sego gegok secara kuantitas justru cukup kecil hingga bisa dihabiskan dalam dua atau tiga gigitan seperti jajanan pada umumnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biarlah orang-orang berdebat penggolongan makanan yang satu ini. Yang jelas, <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/food\/read\/2022\/01\/05\/130700875\/nasi-gegok-makanan-khas-trenggalek-yang-disukai-wisatawan-seporsi-rp-3.000-\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sego gegok<\/a> kerap dianggap sebagai sushi-nya orang Trenggalek. Bedanya, pembungkus penganan ini bukanlah nori, tapi daun pasang yang sangat membuat sego gogok sangat lokal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa rekomendasi kuliner Trenggalek yang bisa kalian cicipi ketika mampir ke Trenggalek supaya nggak bosan mencicipi ayam lodho dan ikan asap melulu. Selain bisa dicicipi langsung kalian bisa membawanya sebagai oleh-oleh karena kebanyakan adalah makanan ringan yang tidak mudah basi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Sulton Ghozali<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/trenggalek-dan-tulungagung-beda-nasib\/\"><b>Trenggalek dan Tulungagung: Saudara yang Berbeda Nasib<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selain ayam lodho, ada kuliner Trenggalek lain yang patut dicoba seperti alen-alen, opak kali, manco biji wijen, madu mongso, dan sego gegok.<\/p>\n","protected":false},"author":1387,"featured_media":309774,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[27026,20374,6060,26822],"class_list":["post-309742","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jajanan-trenggalek","tag-kuliner-trenggalek","tag-trenggalek","tag-wisata-trenggalek"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/309742","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1387"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=309742"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/309742\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/309774"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=309742"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=309742"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=309742"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}