{"id":309501,"date":"2024-12-31T16:44:33","date_gmt":"2024-12-31T09:44:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=309501"},"modified":"2024-12-31T16:44:33","modified_gmt":"2024-12-31T09:44:33","slug":"kuliah-di-thailand-bikin-orang-indonesia-syok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-di-thailand-bikin-orang-indonesia-syok\/","title":{"rendered":"Culture Shock Orang Indonesia yang Kuliah di Thailand"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya saat ini kuliah di salah satu universitas di Thailand. Saya akui, pengalaman studi di negara orang bak naik roller coaster. Banyak bagian yang bikin nyaman, tidak sedikit yang bikin jantung deg-degan. Semua dilalui sambil beradaptasi dengan lingkungan sekitar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang paling mencuri perhatian saya sejauh ini adalah gaya para dosen di Thailand. Mereka santai dan ramah, bahkan terasa seperti teman sendiri. Namun, jangan salah, di balik senyum ramah dan gaya santau itu, mereka punya \u201csenjata mematikan\u201d bagi para mahasiswa : deadline tugas yang datang seperti tamu tak diundang. Mendadak, brutal, dan tak kenal kompromi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kesan pertama kuliah di Thailand<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya merasa sangat nyaman ketika awal masa kuliah. Apalagi dosen-dosennya yang tidak terlihat galak dan tidak terlalu formal. Tiap kali masuk kelas, suasananya seperti obrolan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/kedai-kopi-jogja-yang-punya-juru-kunci\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kedai kopi<\/a>, sangat santai dan nyaman. Tidak ada kewajiban hadir di setiap kelas, tidak ada peraturan ketat soal pakaian, dan bahkan ada dosen yang membebaskan kami mengirim tugas kapan saja, selama itu masih di semester yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian besar dosen bahkan meminta mahasiswa memanggil mereka dengan nama depan tanpa embel-embel &#8220;Profesor&#8221; atau &#8220;Doktor\u201d, bahkan mereka lebih senang kalau dipanggil \u201cAjarn\u201d. (Panggilan khusus untuk dosen, meskipun sudah Profesor sama saja). Kesan egaliter ini langsung membuat saya berpikir, &#8220;Wah, kuliah di sini pasti santai banget.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kesan pertama itu hanya bertahan seminggu pertama. Lama kelamaan para mahasiswa tahu bahwa mereka punya senjata pamungkas yang sulit ditolak para mahasiswanya: \u201cFinal submission due next week\u201d. Tugas yang kelihatannya sepele tiba-tiba berubah menjadi monster dengan tenggat waktu yang tidak manusiawi. Pernah suatu kali, saya diberi tugas presentasi, diumumkan di hari Rabu, dan harus dikumpulkan hari itu juga. Saat itu rasanya saya ingin berteriak, \u201cIni seriusan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ajaran\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ajarn<\/a>?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sikap dosen yang terlalu santai ini juga sering membuat mahasiswa, termasuk saya, terlena. Kita terlalu nyaman dengan suasana kuliah yang bebas sehingga lupa bahwa deadline tetaplah deadline. Teman-teman saya dari Indonesia, sebut saja Mawar, bahkan punya istilah baru: santuy, tapi ngenes. Santai di awal, ngenes di akhir.<\/span><\/p>\n<h2><b>Filosofi di balik deadline tugas yang mepet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah gaya dosen yang santai dan deadline yang mepet, ada hal menarik yang saya pelajari. Ternyata mereka punya filosofi bahwa mahasiswa adalah individu yang harus belajar mengatur hidupnya sendiri. Tidak ada peraturan yang dibuat untuk mengekang, tapi mereka juga tidak akan memegang tanganmu sepanjang perjalanan. Kalian diberi kebebasan penuh untuk memilih: apakah ingin jadi mahasiswa yang produktif, atau mahasiswa yang baru sadar tugas di malam sebelum <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/realita-di-balik-para-mahasiswa-yang-suka-dikejar-deadline\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">deadline<\/a>.<\/span><b><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, bagi saya, kuliah di Thailand adalah pengalaman yang mengajarkan keseimbangan. Di satu sisi, ada kebebasan yang membuat kita merasa dihargai sebagai individu dewasa. Di sisi lain, ada tantangan untuk tidak terlalu terlena dengan kebebasan tersebut. Ini seperti berjalan di atas tali: jika terlalu santai, kamu akan jatuh; jika terlalu tegang, kamu tidak akan menikmati perjalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kamu sedang mempertimbangkan untuk kuliah di luar negeri dan ingin pengalaman yang beda dari biasanya, Thailand adalah pilihan yang menarik. Tapi ingat, di balik senyum ramah dosen dan gaya hidup yang santai, selalu ada jebakan deadline yang siap menyambut. Jadi, pastikan kamu tidak hanya membawa koper dan semangat belajar, tapi juga manajemen waktu yang solid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh merangkum kehidupan saya selama belajar di Negara Gajah Putih sebenarnya hanya dosen chill, deadline ngegas, dan mahasiswa selalu berada di tengah-tengahnya berusaha mencari keseimbangan. Kalau tidak segera menyesuaikan diri dengan ritme tersebut, siap-siap saja terjebak di zona &#8220;santuy tapi ngenes&#8221; yang tak ada habisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ibnu Fikri Ghozali<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sistem-pendidikan-finlandia-bikin-iri-orang-indonesia\/\">Buku Sistem Pendidikan Finlandia; Belajar Cara Belajar, Menyadarkan Saya Betapa Bobrok dan Tertinggal Sistem Pendidikan Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Indonesia kaget kuliah di Thailand karena dosen-dosennya sangat egaliter, kelasnya santai, tapi deadline tugasnya nggak main-main. <\/p>\n","protected":false},"author":2833,"featured_media":309525,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[436,27011,34,3415],"class_list":["post-309501","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-kuliah","tag-kuliah-di-thailand","tag-mahasiswa","tag-thailand"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/309501","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2833"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=309501"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/309501\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/309525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=309501"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=309501"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=309501"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}