{"id":309341,"date":"2024-12-29T18:26:49","date_gmt":"2024-12-29T11:26:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=309341"},"modified":"2024-12-30T15:20:44","modified_gmt":"2024-12-30T08:20:44","slug":"alasan-orang-majalengka-ogah-ke-terasering-panyaweuyan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-majalengka-ogah-ke-terasering-panyaweuyan\/","title":{"rendered":"Alasan Orang Majalengka Menghindari Plesir ke Terasering Panyaweuyan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terasering Panyaweuyan salah satu destinasi wisata terkenal di Majalengka. Tempat wisata yang berlokasi di Desa Sekasari Kidul, Kecamatan Argapura ini memanjakan pengunjungnya dengan hamparan sawah berundak-undah dengan latar belakang bukit yang indah. Asal tahu saja, Terasering Panyaweuyan terletak di kaki <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kisah-jaran-goyang-dan-3-hal-mistis-di-gunung-ciremai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunung Ciremai<\/a>, gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tempat wisata ini semakin dilirik setelah Kabupaten Majalengka meluncurkan branding wisata Majalengka Exotic Sundaland pada 2019 lalu. Terasering Panyaweuyan semakin terkenal karena selalu menghiasi laman resmi dan media sosial akun-akun pemerintah, seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Majalengka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengakui tempat wisata ini memang indah dan sangat layak untuk dikunjungi. Namun, sebagai warga Majalengka, saya agak malas berwisata ke sana. Saya ke sana kalau memang diajak oleh keluarga atau teman, tidak pernah solo traveling atau pergi ke sana atas keinginan pribadi. Di bawah ini beberapa alasannya:\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Akses menuju Terasering Panyaweuyan yang menantang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan menuju Terasering Panyaweuyan sebenarnya tidak rusak parah atau berlubang. Namun, bukan berarti perjalanan ke sana akan mulus-mulus aja. Jalan menuju tempat wisata ini tetap saja menantang karena sempit dan menanjak curam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, ada dua rute masuk untuk memasuki kawasan Terasering Panyaweuyan yakni via Maja-Argapura dan via Rajagaluh-Sindang-Argapura. Dua rute itu sama-sama ekstrem dan menantang. Bagkan, ada beberapa titik jalan yang belokan\/tikungan berbentuk U dan pemandangan langsung ke jurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pengendara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/motor-bebek-lebih-bisa-diandalkan-daripada-motor-matic\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">motor bebek 115cc<\/a>, saya jelas berpikir ribuan kali untuk melewati jalan yang seperti itu. Apalagi motor saya tergolong lawas. Menuju ke Panyaweuyan perlu kendaraan yang prima atau rogoh kocek yang dalam jika menggunakan transportasi umum.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ramai pengunjung di musim liburan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di musim liburan akhir tahun, Terasering Panyaweuyan ramai bukan main. Pengunjungnya bukan hanya warga sekitar, tapi juga orang-orang di luar Majalengka. Ini terbukti dari tempat parkir yang penuh dengan bermacam-macam pelat kendaraan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keindahan Terasering Panyaweuyan berkali-kali lipat lebih memukau ketika akhir tahun. Sebab, ketika akhir tahun, Majalengka biasanya memasuki musim penghujan. Itu artinya, pemandangan di Panyaweuyan bakal penuh dengan warna hijau yang indah. Menambah hasrat wisatawan untuk berkunjung kesana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, saya tidak begitu cocok dengan keramaian semacam itu. Saya tidak bisa menikmati pemandangan dengan leluasa. Apalagi kalau mau berfoto atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Swafoto\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">selfie<\/a>, selalu ada saja orang asing yang tidak sengaja terpotret.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pemandangan yang monoton<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi, pemandangan di Terasering Panyaweuyan sebenarnya tidak begitu spesial. Memang indah, tapi ya begitu-begitu saja. Tidak jauh berbeda dengan pemandangan sawah di dekat rumah saya. Kebetulan, rumah saya memang &#8220;mewah alias&#8221; mepet sawah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sana kita hanya bisa menikmati pemandangan dan naik kereta di area puncak untuk foto-foto. Sudah begitu saja. Bagi orang yang sehari-hari tinggal di kota, pemandangan itu mungkin spesial. Namun, bagi saya, melihat pemandangan seperti itu berkali-kali, lama-lama bosan juga.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Khawatir <\/b><b>Terasering Panyaweuyan berkembang secara ugal-ugalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semenjak ramai dan viral, daerah di Terasering Panyaweuyan dan sekitarnya perlahan bermunculan warung, musala, hingga vila. Saya hanya khawatir kalau pembangunan di Terasering Panyaweuyan tidak diatur atau dikelola dengan baik bisa berdampak bagi sekitar. Bisa banjir misalnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekhawatiran lain, saya tidak ingin Terasering Panyaweuyan rusak oleh pengunjung yang tidak tahu aturan. Tanda-tanda ini sudah tampak dengan banyak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/uneg-uneg\/nestapa-di-balik-kemewahan-influencer-kontrak-kerja-nggak-jelas-sampe-nggak-dibayar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">influencer<\/a> dan wisatawan yang berfoto atau masih suka berfoto di area\u00a0 pertanian. Padahal, di puncak sudah disediakan area untuk berfoto. Apabila kawasan ini tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin lahan petani rusak karena ulang pengunjung tidak bertanggung jawab.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya saya tidak suka dengan perkembangan wisata Terasering Panyaweuyan Majalengka. Saya hanya berharap pariwisata di sana berkembang dan dikelola dengan baik. Jangan sampai atas nama pariwisata alam jadi rusak dan warga sekitar jadi sengsara, seperti kebanyakan tempat wisata di negara kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Tezar Aulia Pangestu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-yang-harus-diperbaiki-dari-pariwisata-majalengka\/\"><b>5 Hal yang Harus Diperbaiki dari Pariwisata Majalengka<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p> Terasering Panyaweuyan indah, tapi orang asli Majalengka menghindari plesir ke sana karena beberapa alasan. Salah satunya, akses yang sulit. <\/p>\n","protected":false},"author":2579,"featured_media":309435,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-309341","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/309341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2579"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=309341"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/309341\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/309435"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=309341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=309341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=309341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}