{"id":308947,"date":"2024-12-25T13:04:35","date_gmt":"2024-12-25T06:04:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=308947"},"modified":"2024-12-25T13:04:35","modified_gmt":"2024-12-25T06:04:35","slug":"malioboro-masih-bisa-dinikmati-warga-lokal-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malioboro-masih-bisa-dinikmati-warga-lokal-jogja\/","title":{"rendered":"Malioboro Masih Bisa Dinikmati Warga Lokal Jogja, Tentunya Bukan Sebagai Tempat Wisata"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malioboro sudah sejak lama menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-yang-perlu-diketahui-sebelum-liburan-ke-malioboro-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tempat wisata paling ikonik<\/a> di Jogja. Bagi wisatawan dari luar daerah maupun manca, tempat ini terasa begitu istimewa. Wajar saja, karena mereka mungkin hanya sekali atau dua kali berkunjung ke tempat ini. Namun bagi warga lokal, Malioboro hanyalah tempat wisata pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan banyak warga lokal yang sudah bosan sama Malioboro. Banyak alasannya. Mulai dari macet, terlalu ramai, mahal, dan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sebagai warga lokal, saya menganggap Malioboro masih bisa menjadi tempat yang mengasyikkan untuk dikunjungi. Tapi, ya bukan sebagai tempat wisata tentunya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Cocok sebagai tempat untuk \u201cpeople watching\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/People-watching\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">people watching<\/a> akhir-akhir ini cukup populer. Ini adalah sebuah kegiatan mengamati orang-orang dan interaksi mereka untuk mendapatkan informasi. Bukan untuk memata-matai ya, tapi untuk menimbulkan rasa memahami orang dan mencari nilai tersirat dari orang tersebut. Lengkapnya cari sendiri di internet biar nggak salah soal people watching ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan ini cukup mengasyikkan, dan Malioboro adalah tempat paling pas untuk melakukan kegiatan tersebut. Ramainya orang dari luar daerah dan beragamnya interaksi yang terjadi di Malioboro, membuat pengalaman people watching menjadi lebih kompleks. Dengan mengamati interaksi mereka, tanpa sadar banyak nilai sosial budaya yang bisa kita pelajari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Malioboro kita bisa melihat dunia ini bekerja. Semua orang, entah kaya atau miskin, semuanya bertemu di tempat ini. Ada yang datang untuk menghabiskan uang, tapi di sisi lain ada yang datang untuk mencari uang. Semua seni kehidupan bisa disaksikan di tempat ini. Dari mengamati tersebut nilai-nilai kehidupan bisa kita ambil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sulit dijelaskan mengapa kegiatan ini mengasyikkan dan bisa memberi kenyamanan bagi seseorang. Namun itulah yang saya dapatkan ketika melakukannya. Tapi, jangan sembarangan melakukan people watching ya. Tetap ada adab yang harus dijaga supaya tidak menimbulkan salah paham ke orang lain.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengunjungi Malioboro lepas tengah malam selalu memberikan ketenangan dan cara saya mensyukuri hidup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malioboro itu punya 2 sisi berbeda. Ramai dan sangat hidup saat pagi sampai malam. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-jogja-malas-ke-malioboro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tapi terlihat lelah dan menyedihkan ketika keramaiannya menghilang<\/a>. Hal itulah yang sering saya rasakan ketika mengunjungi Malioboro selepas tengah malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan ini sering saya lakukan bahkan sampai sekarang. Ketika pulang malam dari nongkrong dan pikiran sedang pening, Malioboro sering menjadi tempat tujuan saya untuk berhenti sejenak menghabiskan malam. Mengamati sepinya tempat ini di tengah malam begitu menenangkan bagi saya. Seolah saya ikut merasakan tempat ini sedang beristirahat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang saya katakan tadi, wajah Malioboro setelah keramaiannya menghilang itu terlihat lelah dan menyedihkan. Selepas tengah malam kita akan melihat wajah Malioboro yang sebenarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang-orang tertidur kelelahan di sepanjang jalan ini. Mulai dari ibu-ibu pijat keliling yang tidur kedinginan di bangku trotoar, sampai para tunawisma yang menghabiskan malam di emperan toko sepanjang jalan ini. Dari melihat hal-hal tersebut, selalu saya jadikan cara untuk mensyukuri hidup ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malioboro sekarang dan ke depan tetap akan menjadi tempat yang ikonik di Jogja. Walau sudah tak menarik di mata warga lokal, kita masih punya kewajiban untuk menjaganya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya untuk orang-orang yang menyambung hidup dari tempat ini. Jangan sampai nyawa Malioboro hilang begitu saja. Juga jangan sampai kata \u201cistimewa\u201d hanya berlaku untuk para wisatawan, dan semu untuk warga lokal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Kuncoro Purnama Aji<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/malioboro-tak-lagi-sama-dan-istimewa-jogja-hanya-pencitraan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nyatanya, Malioboro Kini Tak Lagi Sama dan Kata \u201cIstimewa\u201d bagi Jogja Hanya Pencitraan Semata<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Katanya, warga lokal Jogja sudah nggak bisa lagi menikmati Malioboro. Tapi, ternyata, ada cara untuk menikmati tempat wisata populer ini.<\/p>\n","protected":false},"author":1325,"featured_media":309025,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[12361,115,446,23150,26985,10038],"class_list":["post-308947","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan-malioboro","tag-jogja","tag-malioboro","tag-malioboro-jogja","tag-teras-malioboro","tag-wisata-jogja"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308947","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1325"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=308947"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308947\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/309025"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=308947"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=308947"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=308947"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}