{"id":308642,"date":"2024-12-23T12:05:18","date_gmt":"2024-12-23T05:05:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=308642"},"modified":"2024-12-23T12:05:18","modified_gmt":"2024-12-23T05:05:18","slug":"jalan-lampung-bobrok-itu-wujud-cinta-pemerintah-ke-warganya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-lampung-bobrok-itu-wujud-cinta-pemerintah-ke-warganya\/","title":{"rendered":"Jalan Lampung yang Bobrok Sebenarnya Wujud Cinta Pemerintah ke Warganya\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya adalah perantauan dari salah satu daerah di Pulau Jawa ke Lampung. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-orang-jawa-yang-merantau-di-tanah-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Culture shock<\/a> yang pertama kali saya rasakan ketika menapakkan kaki di daerah dengan julukan Sai Bumi Ruwa Jurai adalah kondisi jalan Lampung yang mayoritas rusak. Kondisinya sungguh berbeda dari daerah asal saya di Jawa. Bahkan, saya perlu waktu untuk menyesuaikan diri ketika berkendara di Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, saya kesal bukan main. Bisa-bisanya suatu daerah punya banyak jalan bobrok. Namun, setelah merenung cukup dalam, pemerintah Lampung yang membiarkan jalanan tetap rusak adalah bukti cinta dan perhatian mereka terhadap warganya. Setelah beberapa saat tinggal di Lampung saya menyadari banyak hikmah bisa dipetik dari jalan yang bobrok.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jalan di Lampung melatih ketangkasan berkendara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa warga Lampung patut menyandang julukan pengendara terbaik di Nusantara. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kemampuan mereka dalam berkendara tidak kaleng-kaleng. Itu semua berkat medan yang sulit. Berkendara<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> di Lampung dituntut untuk bisa meliuk-liuk demi menghindari lubang demi lubang di jalan raya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi jalan yang rusak ini menjadi penegas bahwa hanya ada dua pilihan bagi para pengendara di Lampung: mogok di tengah jalan atau bertahan hingga sampai tujuan. Tanpa lingkungan yang menantang, warha jelas tidak akan menyadari kekurangan diri sendiri hingga terpacu untuk terus meningkatkan kemampuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Menguji ketahanan kendaraan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali Lampung menjadi daerah yang cocok untuk menunjukkan daya tahan suatu kendaraan. Hal ini dapat menjadi peluang pemasaran kendaraan-kendaraan yang tengah bersaing ketat di Indonesia. Ketika suatu kendaraan diminati di Lampung, berarti kendaraan itu tahan banting dan terbukti tidak kaleng-kaleng. Ini mempermudah tim pemasaran suatu merek otomotif dalam memasarkan kendaraannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, jalanan yang bobrok juga menjanjikan peluang usaha <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kejanggalan-ketika-servis-di-bengkel-mobil-resmi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bengkel servis kendaraan <\/a>di Lampung. Khususnya, servis spesialis kaki-kaki dan shockbreaker kendaraan. Tidak lain dan tidak bukan, usaha ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam memperbaiki kendaraan mereka setelah melintasi berbagai kerusakan di jalanan yang dilaluinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Jalan di Lampung meningkatkan daya ingat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin sering melintasi jalanan di Lampung, pengendara tidak hanya dituntut bisa mengingat rute jalan dari satu daerah ke daerah yang lain. Mereka juga perlu mengingat lubang demi lubang yang siap menghadang di jalan-jalan Lampung.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa bagi saya pribadi, pertimbangan pertama ketika memilih rute bukan dari jarak dekat atau jauhnya, tetapi seberapa ingatnya saya dengan lubang-lubang dan kerusakan suatu rute. Semakin sedikit kerusakannya, maka itulah yang akan dipilih, meski lebih jauh atau harus memutar demi sampai ke tujuan. Bagi saya, lebih baik boros bahan bakar daripada kendaraan kian\u00a0 rontok akibat menghadapi kerusakan jalannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Mempertebal kesabaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demi menghindari lubang demi lubang di jalan yang rusak, pengendara di Lampung otomatis dituntut lebih sabar. Seringkali, usaha menghindari rintangan ini tidak selalu berujung sukses. Ada kalanya pengendara awam seperti saya ini masih terjebak dalam lubang jalan yang membuat motor akan rontok. Ketika sedang hujan, kondisi ini diperparah dengan lubang-lubang jalan yang tersamar dengan genangan air hujan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak didukung dengan ingatan yang kuat, satu-satunya cara untuk melalui genangan air di jalan ini hanya dengan bergantung kepada hoki. Jika sial, kendaraan akan kembali terjerembab ke lubang jalan kembali. Tentunya, ingatan dan kesabaran pengendara terus dilatih dan diuji dalam situasi seperti ini ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Jalan di Lampung memupuk rasa syukur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama melintasi jalanan di tanah dengan julukan Sai Bumi Ruwa Jurai, saya teringat betapa mulusnya berkendara di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pulau Jawa<\/a>. Rasanya, keluhan tentang lubang-lubang jalan di sana terasa tidak ada apa-apanya dibanding jalanan Lampung yang mirip ajang off-road. Pengalaman berkendara di Lampung ini bisa menjadi bekal ketika kembali ke Jawa kelak. Saya bisa lebih bersyukur ketika menghadapi jalanan di Pulau Jawa karena pernah mengalami jalanan yang lebih buruk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Saya pendatang yang tergolong baru dan sudah bisa mengambil banyak hikmah di Lampung. Ini semua berkat pemerintah Lampung yang membiarkan jalanan di sana tetap bobrok hingga saat ini. Semoga pemerintah terus tidak mendengar suara warga yang berkali-kali memohon perbaikan jalan. Sebab, kalau jalanan mulus dan lancar, pelajaran hidup apa yang bisa warga dapat kan?<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Sulton Ghozali<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-lampung-selalu-kesal-menerima-pertanyaan-pertanyaan-ini\/\"><b>4 Pertanyaan yang Bikin Kesal Orang Lampung<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan Lampung yang bobrok wujud perhatian pemerintah supaya warga lebih tangkas, melatih daya ingat, lebih sabar, dan selalu bersyukur.<\/p>\n","protected":false},"author":1387,"featured_media":308788,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[26965,8961,6303,26966],"class_list":["post-308642","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jalan-lampung","tag-jalan-rusak","tag-lampung","tag-warga-lampung"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308642","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1387"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=308642"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308642\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/308788"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=308642"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=308642"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=308642"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}