{"id":308375,"date":"2024-12-20T10:09:12","date_gmt":"2024-12-20T03:09:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=308375"},"modified":"2024-12-20T10:09:55","modified_gmt":"2024-12-20T03:09:55","slug":"10-kuliner-solo-yang-bikin-kaget-warga-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-kuliner-solo-yang-bikin-kaget-warga-jogja\/","title":{"rendered":"10 Kuliner Khas Solo yang Paling Bisa Bikin Kaget Warga Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kuliner Solo yang berkesan untuk saya adalat selat. Sebuah hidangan khas yang mendapat pengaruh dari hidangan Eropa. Saya berkesempatan menyantap selat ketika melancong di sana. Bagi warga Jogja, sekitar 2010 dan saat itu masih single, saya sempat mengira kedua daerah ini semuanya sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai akhirnya pada 2022 yang lalu, saya dan suami menetap sementara di Solo bersama mertua. Sejak saat itu, saya mulai memahami dan berkenalan dengan banyak kuliner syahdu dan mengagetkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Brambang asem yang mirip plecing kangkung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">kuliner Solo ini sebenarnya mirip sama plecing kangkung yang bisa kamu temukan di warung makan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-menu-waroeng-spesial-sambal-yang-recommended\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Spesial Sambal<\/a> yang pakai sambal gula jawa dan asem. Bedanya, sayur yang dipakai adalah daun ubi jalar muda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu bisa menemukan brambang asem dengan mudah di banyak kampung di Solo. Pakai lauk gembus yang manis, rasanya enak betul. Nilai 8\/10.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Cabuk rambak, kuliner Solo yang nggak ada di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Solo ini namanya agak aneh dan kurang matching sih sama visual makanannya. Ini sebenarnya adalah bumbu yang mirip sama bumbu kacang, baik tekstur maupun rasanya. Tapi, ternyata, terbuat dari wijen.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bumbunya ini dicampur air sedikit dan diguyurkan di atas potongan ketupat atau lontong dan ditambah kerupuk rambak (kulit sapi atau kerbau). Atau bisa juga karak (kerupuk nasi).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya orang Jogja nggak punya makanan jenis ini. Bumbu wijennya itu gurih-gurih manis tapi yang nggak manis banget. Nilainya 10\/10. Haha.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Tahu kupat yang kuahnya lebih kental<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya tahu kupat sudah jadi makanan yang ada di mana saja. Di Solo, Jogja, sampai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kupat-tahu-bukan-makanan-khas-magelang-paling-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Magelang<\/a> punya semua.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di Jogja, tahu guling pakai kuah bumbu kecap yang encer. Kalau di Solo yang saya temukan lebih cenderung kental. Duh, maaf, lidah Jogja ini sudah berubah.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Cakwe bumbu kacang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cakwe yang di Solo agak berbeda jika kita membandingkannya dengan cakwe di Kranggan. Kalau di Jogja, potongannya besar. Kalau di Solo, potongannya 4 kali lebih kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pedagang membungkusnya dengan plastik <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-potensi-franchise-cilok-lebih-menggiurkan-ketimbang-es-teh-jumbo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cilok<\/a> atau pentol. Kemudian mereka mengguyurnya dengan saus kacang! Anda tidak salah baca. Saus kacang yang biasanya buat siomay, batagor, cilok, dan pentol itu. Harganya 5000. Rasanya agak nanggung, kurang kenyal, tapi ya enak kalau buat saya. Nilainya 7\/10.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Bakso goreng Jalan Slamet Riyadi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini, saya belum pernah menemukan bakso goreng kayak gini di Jogja. Jadi, kuliner Solo ini rasanya malah mirip sempol ayam atau ikan tenggiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dan suami pernah bereksperimen. Jadi, kami membeli cilok Gajahan. Lalu, kami mengocoknya dengan telur dan digoreng sebentar. Nah, kalian bisa membayangkan bentuk dan rasanya, kan? Kalau di Solo penjualnya berderet di Pusat Grosir Solo, ujung Jalan Slamet Riyadi. Rasanya? 8\/10.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Bakmi toprak yang rasanya pol enak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan ini unik dan setahu saya nggak ada di Jogja. Bentuknya mirip soto mie khas Bogor, yang kuahnya keruh ngaldu gurih. Isian keduanya juga mirip, ada bakmi kuning, kubis, tomat, daging sapi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/food\/read\/2021\/03\/27\/093345375\/resep-bakmi-toprak-khas-solo-hidangan-berkuah-bening-yang-sedap\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bakmi toprak<\/a> masih lebih ramai. Ada tambahan kacang tanah, tahu, dan tempe. Ini enak banget. Nilainya 10\/10!<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Sate buntel, kebiasaan sarapan orang Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, semua warung kambing di Solo itu enak semua. Cobain deh kalau kamu mau sarapan. Pukul 7 sudah pada buka. Banyak orang sini yang terbiasa makan kambing untuk sarapan. Dan, yang wajib kamu coba adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sate-kambing-solo-yang-tidak-boleh-dilewatkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sate buntel<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate buntel adalah sate yang dibuat dari daging kambing cincang, yang dibungkus dengan lemak kambing lalu dibakar. Bumbu sate buntel terutama adalah merica dan kecap manis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja mungkin sudah ada yang jual. Namun, kalau soal rasa, masih kalah jauh sama Solo. Kalau buat saya, nilainya 8,5\/10.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Kare ayam, kuliner Solo yang bikin kaget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya pikir ini sejenis kari ayam dengan santan kental, tapi ternyata santannya encer. Malah cenderung nanggung antara bumbu kuning atau gulai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya ada di tengah-tengah gitu. Tapi pas dimakan rasanya mirip banget sama soto yang isiannya tauge sama suwiran ayam. Buat yang cocok saja, sih. Sesuai selera. Nilainya 6,5\/10.<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Gendar pecel dan gendar juruh, kuliner Solo yang unik banget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Solo yang satu ini paling bikin saya makan banyak. Gendar yang tujuan akhirnya adalah kerupuk, malah dijadikan makanan unik, yang dipotong-potong seperti lontong, kemudian diguyur kuah juruh alias kuah manis dari gula jawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Enak sih, perpaduan antara gendar yang ternyata gurih dicampur kuah kental yang manis. Nilainya 9\/10 deh.<\/span><\/p>\n<h2><b>#10 Sate apus dan sate kere yang beda banget sama Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terakhir ini bikin saya agak syok. Solo memang mengejutkan karena punya makanan yang bikin ketipu parah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate apus, sesuai namanya, memang bikin ketipu. Ini bahannya tepung tapioka, yang hasil akhirnya itu dibakar, dikasih kecap dan perbumbuan yang hasilnya mirip sate koyor atau sate gajih versi kenyal. Kamu bisa menemukan banyak sate gajih di Jogja, kan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, saya jadi ingat ada sate kenyil juga yang lebih mirip koyor. Astaga rasanya! Karena enak betul!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi sate kere di Solo itu nggak kere-kere amat malah kaya (akan jeroan) yang isinya sate gembus, sate ginjal, sate daging (ini mah nggak kere), sate otak, dan sate hati yang diguyur pakai kuah kacang ala sate madura.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau untuk sate ini saya masih suka sate kere-nya Jogja, apalagi versi Godean yang disajikan dengan kuah santan dalam format sayur tempe dan tidak ada kuah kacangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, Itu dia 10 kuliner Solo yang bakal jarang kamu temui di Jogja. Sini deh nyobain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nurvita Wijayanti<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kuliner-khas-solo-yang-terancam-punah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Kuliner Khas Solo yang Terancam Punah<\/a><\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada 10 kuliner khas Solo yang bikin saya, orang asli Jogja, kaget. Ternyata masih banyak yang unik dan belum dikenal banyak orang.<\/p>\n","protected":false},"author":2716,"featured_media":308525,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[26934,26935,26738,26932,26933,9699,115,4418,24868,26929,26931,26930,18944],"class_list":["post-308375","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bakmi-toprak","tag-brambang-asem","tag-cabuk-rambak","tag-cakwe-solo","tag-gendar-juruh","tag-gendar-pecel","tag-jogja","tag-kuliner-jogja","tag-kuliner-solo","tag-makanan-khas-solo","tag-sate-apus-solo","tag-sate-buntel-solo","tag-selat-solo"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308375","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2716"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=308375"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308375\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/308525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=308375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=308375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=308375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}