{"id":308238,"date":"2024-12-17T11:00:39","date_gmt":"2024-12-17T04:00:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=308238"},"modified":"2024-12-17T10:22:22","modified_gmt":"2024-12-17T03:22:22","slug":"4-kuliner-korea-yang-kurang-cocok-di-lidah-orang-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kuliner-korea-yang-kurang-cocok-di-lidah-orang-indonesia\/","title":{"rendered":"4 Kuliner Korea yang Kurang Cocok di Lidah Orang Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring dengan berkembangnya budaya Hallyu, kuliner Korea juga tak mau ketinggalan masuk ke Indonesia. Bahkan kuliner Korea sanggup mengambil hati banyak orang Indonesia. Tak terhitung ada berapa banyak restoran Korea yang menjual makanan dan minuman khas Korea di Indonesia. Di Jogja saja, jumlah restoran Korea mungkin ada lebih dari 13.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa makanan seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/battle-3-tteokbokki-instan-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tteokbokki<\/a>, ramyeon, kimbab, atau bibimbab mungkin sudah familier nama dan rasanya bagi orang Indonesia. Akan tetapi tak semua kuliner Korea cocok di lidah orang Indonesia. Ada juga beberapa kuliner yang rasanya kurang cocok di lidah orang Indonesia. Misalnya seperti beberapa kuliner berikut.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#1 Ganjang Gejang, terbuat dari kepiting mentah yang difermentasi dengan ganjang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar satu tahun yang lalu, ganjang gejang sempat ramai dibicarakan di media sosial. <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/food\/read\/2020\/07\/23\/133300875\/apa-itu-ganjang-gejang-kepiting-fermentasi-khas-korea-selatan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengutip Kompas<\/a>, ganjang gejang adalah kepiting yang difermentasi dengan kecap (ganjang). Kuliner satu ini biasanya disajikan sebagai hidangan pendamping nasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski mentah, ganjang gejang tak terasa amis asalkan cara mengolahnya betul. Kepiting yang digunakan untuk membuat kuliner Korea ini harus kepiting mentah yang masih segar. Kepiting mentah tersebut kemudian dibersihkan sampai benar-benar bersih, sebelum akhirnya disiram dengan kecap (ganjang) yang sudah dimasak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, makanan satu ini belum tentu cocok di lidah kebanyakan orang Indonesia karena merupakan makanan hasil fermentasi. Kepitingnya yang digunakan pun kepiting mentah, bukan yang sudah dimasak. Jadi, belum tentu rasanya cocok di lidah orang Indonesia yang terbiasa makan makanan matang dan bukan makanan fermentasi.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#2 Naengmyeon, kuliner Korea yang kurang cocok di lidah orang Indonesia karena kuahnya pakai es batu<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Korea selanjutnya yang belum tentu cocok di lidah orang Indonesia adalah naengmyeon. Di Korea sana, makanan ini cukup populer untuk dinikmati di musim panas. Naengmyeon adalah olahan mie gandum yang disajikan dengan kuah kaldu dingin. Iya, kalian nggak salah baca, kuahnya dingin karena ada es batu yang dipecah kecil-kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang teman saya yang melanjutkan studi di Korea mengatakan kalau awalnya naengmyeon memang terasa aneh di lidah Indonesianya. Maklum, orang kita kan terbiasa menyantap makanan berkuah dalam keadaan hangat. Akan tetapi lama-kelamaan, teman saya malah jadi menyukai kuliner Korea satu ini. Menurutnya, makanan satu ini menyehatkan dan bikin tubuh jadi segar.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#3 Meski kurang disukai, cheonggukjang punya segudang manfaat bagi kesehatan tubuh, lho<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Korea selanjutnya yang kurang cocok di lidah orang Indonesia adalah cheonggukjang. Mengutip dari <\/span><a href=\"https:\/\/world.kbs.co.kr\/service\/contents_view.htm?lang=i&amp;menu_cate=lifestyle&amp;id=&amp;board_seq=10094&amp;page=14&amp;board_code=koreanfood\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">website KBS World Indonesian<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, cheonggukjang adalah salah satu jenis tauco kedelai Korea yang dibuat dengan cara fermentasi. Cheonggukjang biasa dimasak dalam bentuk rebusan atau jjigae yang kemudian dicampurkan dengan bahan lainnya seperti daging, tahu, hingga lobak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran dibuat dengan cara fermentasi, tak semua orang cocok dengan kuliner satu ini. Aromanya cukup kuat menusuk hidung, sehingga tak semua menyukainya. Meski begitu, hidangan satu ini bermanfaat bagi kesehatan tubuh. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih mengutip website KBS World Indonesia, cheonggukjang mengandung bakteri baik bernama Bacillus Subtlis yang dapat menguraikan protein kedelai menjadi asam amino dan saponin. Saponin disebut-sebut memiliki manfaat menekan sel-sel kanker, mencegah stroke hingga demensia. Wih, sehat.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#4 Tak semua orang Indonesia bisa makan sundae karena kuliner Korea ini terbuat dari usus babi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Korea selanjutnya yang tak cocok bagi orang Indonesia adalah sundae. Penggemar drama Korea mungkin sudah nggak asing lagi dengan makanan satu ini karena kadang muncul dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/adegan-drama-korea-yang-nggak-relate-bagi-orang-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">adegan drakor.<\/a> Sundae adalah usus babi yang diisi dengan soun, darah babi, dan bumbu-bumbu lainnya. Karena bentuknya yang memanjang, sundae juga sering disebut sebagai \u201csosis darah\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, sundae kurang cocok bagi orang Indonesia yang mayoritas muslim dan nggak mengonsumsi babi. Sekalipun saya bisa makan babi, saya pribadi enggan menyantap kuliner satu ini karena campuran darah babi tadi. Tapi bagi beberapa orang yang menyukainya, sundae memiliki rasa yang cukup unik dengan tekstur kenyal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa kuliner Korea yang kurang cocok bagi lidah orang Indonesia. Memang soal kuliner semuanya kembali ke selera masing-masing. Kalau kalian penasaran dan justru kepingin mencicipi kuliner yang saya sebutkan di atas, monggo saja. Tapi kalau nggak cocok di lidah, jangan salahin saya, lho. Kan sudah saya bilang\u2026<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Ekapratiwi<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-korea-mirip-makanan-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">10 Makanan Korea yang Mirip dengan Makanan Indonesia. Ada yang Mirip Bakwan sampai Urap<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa kuliner Korea yang enak, misalnya kimbab atau tteokbokki. Padahal tak semua kuliner Korea cocok di lidah orang Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"author":1182,"featured_media":308243,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[959,26916,8543],"class_list":["post-308238","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-korea-selatan","tag-kuliner-korea","tag-makanan-korea"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308238","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1182"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=308238"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308238\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/308243"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=308238"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=308238"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=308238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}