{"id":307996,"date":"2024-12-15T13:00:01","date_gmt":"2024-12-15T06:00:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=307996"},"modified":"2024-12-15T12:52:30","modified_gmt":"2024-12-15T05:52:30","slug":"mengulik-lebih-dalam-desa-wisata-di-jogja-supaya-orang-tidak-salah-kaprah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengulik-lebih-dalam-desa-wisata-di-jogja-supaya-orang-tidak-salah-kaprah\/","title":{"rendered":"Mengulik Lebih Dalam Desa Wisata di Jogja supaya Orang Tidak Salah Kaprah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seseorang yang gemar berwisata, saya jelas senang apabila punya banyak pilihan tempat wisata di suatu daerah. Itu mengapa, bertumbuhnya desa wisata di berbagai daerah jelas jadi kabar yang menggembirakan. Persis seperti pembuka dalam tulisan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-wisata-jogja-menyimpan-sisi-gelap-yang-perlu-diperbaiki\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Desa Wisata Jogja Menyimpan Sisi Gelap yang Perlu Segera Diperbaiki<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya ingin mengkritik setidaknya dua hal dalam tulisan tersebut. Pertama, penyebutan Desa Wisata Ledok Sambi sebagai contoh dalam sub judul \u201cDesa wisata Jogja melenceng dari konsep ideal\u201d di awal tulisan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis sebenarnya sudah dengan tepat menjelaskan soal bagaimana konsep desa wisata yang ideal. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seharusnya, desa wisata itu bergerak atas dasar komunitas yang mana merupakan penduduk desa. Merekalah yang saling berinteraksi di bawah pengelolaan desa dan punya kesadaran penuh memberdayakan potensi kepariwisataan desa mereka. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sepakat dengan pernyataan itu, tapi penulis menurut saya menunjukkan contoh yang salah, Desa Wisata Ledok Sambi! Menurut saya ini fatal karena Ledok Sambi bukanlah desa wisata, tapi destinasi wisata atau daya tarik wisata di Jogja. Pengelolanya setahu saya juga bukan Pokdarwis, Koperasi, atau Bumdes, yang biasanya jadi pengelola sebuah desa wisata, tapi perseorangan. Bisa dikatakan pihak swasta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, tempat yang punya nama lengkap Ledok Sambi Ecopark ini berada di Desa Wisata Sambi, tapi sekali lagi bukan desa wisata. Meski dikelola secara perorangan atau swasta, daya tarik wisata ini melibatkan masyarakat setempat. Misalnya, makanan yang dijual tempat ini merupakan produksi ibu-ibu PKK dari kampung tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal desa wisata di Jogja, Pemda DIY sendiri mengaturnya dalam <a href=\"https:\/\/www.panggungharjo.desa.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Pergub-DIY-No-40-Tahun-2020.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 40 Tahun 2020<\/a> tentang Kelompok Sadar Wisata dan Desa\/Kampung Wisata.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak sekadar melibatkan warga. Warga desa adalah motor desa wisata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang saya kritik dan cukup mengganggu ada dalam bagian akhir tulisan di sub judul,<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kurangnya keterlibatan warga lokal. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis menyebutkan jika Desa Wisata Penglipuran Bali sebagai contoh baik pengelolaan desa wisata karena warga lokal dilibatkan. Sedikit meluruskan, bukan warga lokal dilibatkan, tapi memang pengelolanya adalah warga lokal, sesuai konsep dari desa wisata itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, hal lain yang saya kritik adalah kalimat, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tidak seperti banyak desa wisata lain yang diurus oleh pihak swasta. Syukur-syukur kalau pihak swasta bisa mengelolanya dengan baik dan melibatkan warga. Persoalannya, tidak sedikit juga swasta yang asal dan ugal-ugalan dalam mengelola wisata. Akibatnya, warga lokal justru terganggu dengan konsep desa wisata di desanya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud penulis desa wisata akan lebih baik kalau dikelola swasta? Atau desa wisata di Indonesia banyak yang pengelolaannya swasta? Padahal kan di awal penulis sudah menyampaikan bahwa esensi penting dalam konsep desa wisata adalah bergerak atas dasar komunitas yang mana merupakan penduduk desa atau dalam pengelolaannya berdasarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">community based tourism<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (CBT). Jadi apa sebenarnya pengertian desa wisata?<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengulik arti desa wisata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjawab pertanyaan di atas, mari kita kulik dari arti desa wisata terlebih dahulu. Desa, kampung atau ada juga yang menyebut Gampong (biasanya di daerah Aceh) wisata merupakan sebuah kawasan dengan beragam potensi keunikan. Ini bisa dilihat dari sumber daya alam ataupun kearifan lokal yang dapat dikembangkan menjadi sebuah daya tarik wisata. Desa Wisata juga biasanya diinisiasi atau dikembangkan oleh komunitas\/masyarakat setempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri lebih suka memaknai bahwa desa wisata merupakan sebuah konsep pengembangan pariwisata yang sifatnya holistik (membentuk ekosistem), dikelola oleh komunitas masyarakat tentunya dengan kesamaan visi misi dan biasanya menawarkan pengalaman dalam bentuk paket wisata. Apa sih yang dimaksud dengan holistik? atau apa sih ciri-ciri atau indikator sebuah wisata disebut dengan desa wisata?<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Desa wisata dikelola oleh komunitas setempat\/berdekatan dengan lokasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan sebuah kawasan wisata tentu tidak terlepas dari adanya pengelola yang sebaiknya sudah terlembaga. Desa Wisata bisa dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dikukuhkan oleh Dinas Pariwisata setempat, boleh jadi dikelola oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-panggungharjo-bantul-desa-terbaik-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)<\/a>, dan mungkin juga dikelola oleh Koperasi dikukuhkan oleh Dinas Koperasi setempat. Ketiga, bentuk lembaga pengelola desa wisata tentu saja atas sepengetahuan dari orang nomor 1 di desa, siapa lagi kalau bukan kepala desa.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Penetapan pengelola dan penetapan sebagai desa wisata tidak instan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak seperti Proyek Roro Djonggrang yang harus membangun seribu candi dalam satu malam, pembentukan dan penetapan pengelola desa wisata tidak bisa satu-dua hari. Butuh proses yang panjang untuk bisa memilih dan menentukan. Saya rasa, pondasi paling awal yang harus dibangun secara kokoh dalam mengembangkan desa wisata adalah kelembagaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat masih mahasiswa (sekitar 2016-2017), saya berkesempatan melihat dan mengulik dinamika dari pembentukan desa wisata di beberapa desa wisata yang ada di DIY. Sebut saja Desa Pentingsari, Desa Nglanggeran, dan Desa Jelok. Peranan dari aktor penggerak atau saya lebih suka menyebut sebagai local hero<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">menjadi kunci penting dari pengembangan desa wisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun penetapan sebagai Desa Wisata juga harus menempuh banyak proses. Pengusulan penetapan desa wisata dilakukan oleh kelompok masyarakat kepada pemerintah desa yang disetujui melalui musyawarah. Setelah musyawarah, keputusan kepala desa disampaikan kepada pengembangan desa wisata kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menangani urusan pariwisata. Tidak berhenti disitu saja, desa akan diverifikasi terlebih dahulu oleh OPD apakah sudah sesuai dengan persyaratan ditetapkan dengan keputusan bupati\/ walikota. Proses yang lumayan panjang, bukan?<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Memiliki 3 (tiga) A yaitu Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan desa menjadi desa wisata harus mempertimbangkan aspek 3 (tiga) A yaitu Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas. Atraksi adalah daya tarik wisata yang mampu memberikan pengalaman bagi pengunjung. Daya tarik bisa saja dari keindahan alamnya, keeksotisan budaya lokal, kreativitas yang unik, atau bisa perpaduan dari ketiganya. Amenitas sebagai fasilitas penunjang yang menjadi kebutuhan dari wisatawan seperti toilet, tempat parkir, tempat ibadah, kantin, homestay,dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara sisi aksesibilitas, desa wisata juga harus mempertimbangkan kemudahan akses bagi wisatawan untuk sampai ke lokasi dan juga selama di desa. Beberapa desa wisata bahkan juga sudah seharusnya memperhatikan akses yang ramah difabel. Apakah sudah ada desa wisata yang ramah difabel? Hmm&#8230;penulis sepertinya perlu sering-sering <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dolan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> biar bisa menjawab pertanyaan ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Uangnya darimana?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggaran pengembangan desa wisata bisa berasal dari beberapa sumber. Namanya saja desa wisata, pengelolanya komunitas setempat, diketahui oleh Kepala Desa tentu salah satu sumber dana bisa dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Ada juga Dana Desa yang sah-sah saja untuk membiayai pengembangan desa wisata. Tentunya untuk penggunaan APBDes dan Dana Desa perlu musyawarah yang tak kalah panjang. Tapi bukannya semua itu perlu proses untuk berhasil?Ingat tidak ada yang instan. Kopi instan pun tetep perlu proses. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, pengembangan yang holistik juga akan mendorong pengembangan desa wisata supaya lebih baik lagi. Holistik dengan mengedepankan asas pentahelix, pelibatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">multi stakeholder<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam pengembangan desa wisata. Tak jarang, desa wisata yang sudah berkembang bisa mendapatkan pendanaan lain dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Corporate Social Responsibility<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> perusahaan, dana hibah, dan lembaga lain. Tentu saja sumber pendanaan lain juga harus diketahui desa ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itu dia beberapa hal yang mungkin bisa mempermudah untuk membedakan desa wisata dan wisata desa. Tidak semua wisata di desa itu bisa secara mudah disebut sebagai desa wisata Jogja. Lebih sederhananya lagi, kalau membedakan desa wisata dan wisata desa bisa cek di website Jadesta milik Kemenparekraf karena seluruh Desa Wisata terdaftar di sana. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Gampang bukan? Oiya, kita patut berbangga <a href=\"https:\/\/travel.kompas.com\/read\/2024\/11\/16\/080800227\/wukirsari-di-bantul-satu-desa-wisata-terbaik-di-dunia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Desa Wisata Wukirsari Bantul<\/a> berhasil meraih penghargaan desa terbaik dunia <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">atau<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> The Best Tourism Village<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> 2024 dari organisasi pariwisata dunia Perserikatan Bangsa-bangsa atau United Nation World Tourism Organization (UNWTO). Selamat!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mozara Kartika Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/pendidikan\/6-desa-wisata-terbaik-tahun-2022-di-jogja\/\"><b>6 Desa Wisata Terbaik Tahun 2022 di Jogja<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak semua desa yang menjadi tujuan wisata bisa disebut dengan desa wisata. Konsep desa wisata lebih dalam dari itu.<\/p>\n","protected":false},"author":2646,"featured_media":308011,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[322,13218,26839,115,3224,10038],"class_list":["post-307996","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-desa","tag-desa-wisata","tag-desa-wisata-jogja","tag-jogja","tag-wisata","tag-wisata-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307996","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2646"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=307996"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307996\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/308011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=307996"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=307996"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=307996"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}