{"id":307826,"date":"2024-12-15T08:00:02","date_gmt":"2024-12-15T01:00:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=307826"},"modified":"2024-12-14T19:41:34","modified_gmt":"2024-12-14T12:41:34","slug":"warga-sewon-bantul-punya-4-dosa-yang-tidak-disadari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warga-sewon-bantul-punya-4-dosa-yang-tidak-disadari\/","title":{"rendered":"4 Dosa yang Tanpa Sadar Dilakukan Warga Sewon terhadap Kabupaten Bantul"},"content":{"rendered":"<p><em>Bertobatlah wahai warga Sewon, Bantul.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini akan saya buka dengan sebuah tren yang beberapa pekan ini ramai di sosial media <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">We Listen, We Don\u2019t Judge<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tentu tren ini sudah tidak asing lagi, bahkan tren ini juga menjadi perdebatan karena banyak yang salah menginterpretasikannya. Tak sedikit yang justru menjadikan tren ini sebagai bahan mengemukakan unpopular opinion.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eitss, sebelum menjadi terlalu jauh, tulisan ini bukan akan membahas tren <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">We Listen, We Don\u2019t Judge<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tulisan ini akan membahas soal dosa-dosa yang tanpa sadar dilakukan warga Sewon terhadap Kabupaten Bantul. Lebih spesifik lagi, warga Sewon seperti saya yang sering krisis identitas tempat tinggal. Saya lebih suka menyebutnya sebagai warga \u201cSewon coret\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Warga &#8220;Sewon coret&#8221; tidak punya sense of belonging<\/b> <b>terhadap Bantul<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian yang menetap di daerah Sewon, Bantul mungkin juga merasakan kegelisahan ini. Secara geografis, Sewon salah satu kecamatan di Bantul yang berbatasan langsung dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-daerah-tidak-ramah-perantau-di-jogja-yang-perlu-dihindari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Jogja<\/a>. Tak jarang, warga Sewon lebih familier dengan Kota Jogja dibandingkan dengan Kabupaten Bantul.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perasaan asing terhadap kabupaten sendiri itu membuat warga \u201cSewon coret\u201d tidak memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sense of belonging <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">terhadap Bantul. Kami cenderung tidak memiliki rasa bangga dan cinta terhadap Bantul. Ujung-ujungnya kami cenderung abai terhadap kabupaten dengan semboyan Projotamansari itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti sederhananya, kami sering sekali tidak merasa tersinggung apabila ada yang ngece warga Bantul. Bagi kami, buat apa tersinggung. Kan itu buat warga Bantul. Kami mah cuek. Parahnya lagi, kami malah ikut menimpali ejekan, ibarat kompor malah ikut nambahin bensin. Biar gerr..gerr..geerr!<\/span><\/p>\n<h2><b>Selalu meminta pemakluman sebagai validasi ketidaktahuan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga selatan yang lebih paham Yogyakarta sisi utara daripada selatan, kami ini selalu meminta pemakluman atas ketidaktahuan tentang daerah Bantul. Ini selalu menjadi validasi warga \u201cSewon coret\u201d untuk tidak memperluas khasanah per-Bantul-an. Tentu saja, hal ini bisa terjadi karena warga Sewon coret tidak punya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sense of belonging<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa kami kan warga Sewon, lebih deket ke Kota Jogja daripada Bantul. Wajar dong kami nggak tahu, wajar dong kami nggak paham jalan ke Puncak Bibis atau ke Lembah Oya atau sekadar menikmati suasana syahdu <a href=\"https:\/\/www.idntimes.com\/travel\/destination\/kim-caca\/wisata-pantai-goa-cemara-yogyakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pantai Goa Cemara<\/a>,\u201d begitu kurang lebih pembenaran yang sering terucap. Andai saja kami punya sedikit rasa itu, tentu kami tidak akan ngang-ngeng-ngong ditanyai ini-itu terkait Bantul.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kartu Tanda Penduduk, penduduk mana?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kartu Tanda Penduduk (KTP) merupakan tanda identitas resmi seorang penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Kementerian Dalam Negeri. Masih ingat istilah Islam KTP? Kristen KTP? Istilah-istilah tersebut merujuk pada kondisi seseorang yang mengaku dirinya beragama tetapi tidak menjalankan syariat atau tidak mencerminkan sikap orang yang beragama. Misalnya, Fulan pada KTP ditulis beragama Islam, tetapi ia tidak pernah sholat, mengaji, dan menjalankan kewajibannya sebagai Muslim.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dosa selanjutnya yang ingin warga Sewon Coret akui adaah KTP kami bukan KTP Kabupaten Bantul. Tervalidasi sebagai warga Bantul saja tidak, apalagi menjalankan kewajiban lainnya sebagai warga. Pendek kata, kami hanya numpang tinggal di Bantul.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus seperti ini masih banyak ditemui, apalagi jika dibenturkan dengan keinginan orang tua untuk bisa menyekolahkan anaknya ke Kota Yogyakarta. Sistem zonasi menjadi alasan valid bagi kami untuk masih mempertahankan KTP Jogja. Tentu karena anggapan sekolah di kota lebih keren dibanding di kabupaten. Lagi-lagi kalau mau kalian judge, kami sudah legowo.<\/span><\/p>\n<h2><b>Warga &#8220;Sewon Coret&#8221; nggak berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan asli daerah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibilang kami ini minim kontribusi, atau bahkan sama sekali nggak berkontribusi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Kok bisa? Tidak adanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sense of belonging<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menyebabkan kami malas ngulik kuliner apa saja yang menjadi andalan warga Bantul. Ketidaktahuan inilah yang membuat kami tidak berkontribusi dalam menyukseskan promosi pariwisata di Bantul. Padahal kita sama-sama tahu, salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah tentunya dari Pajak Restoran dan juga Retribusi Pariwisata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami, warga Sewon coret, juga lebih sering nongkrong di kafe-kafe\u00a0 Kota Jogja, bahkan di kabupaten tetangga, Sleman. Kami bisa dengan cepat dan sigap memberikan rekomendasi tempat nongkrong di utara dibandingkan eksplor hidden gems yang ada di Bantul. Mana pernah kami merekomendasikan mie lethek, Gudeg Manggar, ataupun sekadar jajanan tolpit yang melegenda di Bantul. Aih, berdosa banget kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin sebetulnya masih banyak lagi dosa-dosa lain yang tanpa sadar warga \u201cSewon coret\u201d lakukan. Kami juga sudah mendapatkan karma atas dosa-dosa itu dalam berbagai bentuk. Saya pribadi\u00a0 pernah mendapat ajakan makan ayam di daerah<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/pengalaman-kelam-di-jalan-magelang-salah-satu-jalan-favorit-pelaku-kejahatan-jalanan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Jalan Magelang<\/a>. Bayangkan saja, harus menempuh belasan kilometer hanya untuk makan ingkung. Coba saja dari dulu saya mempromosikan ayam ingkung legendaris di daerah Pajangan, Bantul. Tentu saya tidak perlu jauh-jauh ke utara. Saking jauhnya, pas pulang perut ini sudah berbunyu lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mozara Kartika Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangunjiwo-bantul-semakin-tidak-nyaman-untuk-ditinggali\/\"><b>3 Alasan Tinggal di Bangunjiwo Bantul Semakin Tidak Nyaman<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dosa warga Sewon terhadap Kabupaten Bantul berawal dari perasaan tidak kenal dan asing terhadap kabupatennya sendiri.<\/p>\n","protected":false},"author":2646,"featured_media":307955,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5766,115,21462,22473,7235],"class_list":["post-307826","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bantul","tag-jogja","tag-sewon","tag-sewon-bantul","tag-sleman"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307826","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2646"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=307826"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307826\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=307826"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=307826"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=307826"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}