{"id":30774,"date":"2020-03-21T07:00:24","date_gmt":"2020-03-21T00:00:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=30774"},"modified":"2020-03-21T12:02:10","modified_gmt":"2020-03-21T05:02:10","slug":"ketika-pidi-baiq-beralih-profesi-jadi-mangaka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-pidi-baiq-beralih-profesi-jadi-mangaka\/","title":{"rendered":"Ketika Pidi Baiq Beralih Profesi Jadi Mangaka"},"content":{"rendered":"<p>Pidi Baiq terus-terusan menyangkal dan enggan mengakui bahwa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjadi-dilan-hari-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">sosok Dilan<\/a> adalah dirinya. Padahal, bagi para pembaca bukunya yang lepas dari <em>Trilogi Dilan<\/em>, yakni <em>Drunken Series<\/em>, banyak kisah-kisahnya yang sama persis seperti apa yang ia tuturkan dalam penggambaran tokoh Dilan. Contohnya dalam buku <em>Drunken Marmut<\/em>, Pidi Baiq bercerita bahwa ia dihukum oleh gurunya yang bernama SRPT. Dan dalam novel Dilan, muncul lah Suripto yang galaknya menyamai Kanjeng Mami dalam sinetron <em>Awas Ada Sule.<\/em><\/p>\n<p>Juga dari gaya bercerita Milea di novelnya yang berjudul<em> Dilan<\/em>, pola bahasanya sama dengan Pidi Baiq ketika menggarap Drunken juga memiliki pola yang sama. Tapi, terlepas dari semua itu, biarlah Dilan menjadi misteri dunia. Yang jelas, saya jadi kepikiran bagaimana jika Pidi Baiq menggarap manga? Oke, gambarnya sudah khas, lalu bagaimana dengan gaya bahasa tokoh-tokohnya? Mungkin jadinya seperti ini, ya!<\/p>\n<h4>Satu: One Piece<\/h4>\n<p>Suatu ketika, Zoro yang gojak-gajek gabung kru topi jerami pun bertanya kepada Luffy, \u201cKenapa kita harus pergi ke Raftel dan mendukungmu menjadi raja bajak laut?\u201d<\/p>\n<p>Dengan senyuman lebarnya, Luffy pun menjawab, \u201cDan Raftel, bagiku, bukan cuma masalah geografis. Lebih jauh dari itu melibatkan kekuatan, yang bersamaku ketika badai.\u201d<\/p>\n<h4>Dua: Haikyuu!<\/h4>\n<p>Ketika dalam pertandingan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/q\/voli-iZa?utm_source=Tirtoid&amp;utm_medium=Lowkeyword\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">lomba voli<\/a>, Hinata melompat dan Kageyama sebagai<em> setter<\/em> mengumpan bolan yang matang, pas dan mudah untuk di-<em>smash<\/em>. Dan secara reflek Hinata pun berkata seperti ini, \u201cKamu itu lahir di bumi untuk buat aku senang. Dengan cara mengumpan bola yang indah dan menciptakan poin kemenangan.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian Kageyama membalasnya, \u201cTanganku seperti sengaja diciptakan hanya untuk mengumpan bola kepadamu. Aku betul-betul merasa tak perlu lagi berpikir, aku hanya ingin menikmati apa yang aku rasakan (mengumpan bola).\u201d<\/p>\n<h4>Tiga: Captain Tsubasa<\/h4>\n<p>Ketika Nankatsu melawan Shutetsu dan Iszhizaki cidera, pemain pindahan dari Hokaido bernama Misaki masuk lapangan. \u201cSiapa dia?\u201d Tsubasa <em>mbatin<\/em>. \u201cApakah dia bisa bermain bola seperti aku?\u201d ia <em>mbatin<\/em> lagi.<\/p>\n<p>Misaki pun masuk ke lapangan, ia langsung menggiring bola. Melewati beberapa <em>sleding tackle<\/em> lawan dan mengumpan kepada Tsubasa. Ia pun <em>mbatin<\/em> lagi, \u201cUmpannya sungguh indah. Jika menurutku tidak indah, pastinya aku salah memilih pasangan (bermain bola).\u201d<\/p>\n<p>Misaki pun membalas dengan cara yang serupa, <em>mbatin<\/em>, \u201cKalau kamu ragukan aku, itu hak kamu. Asal jangan aku yang ngecewain (memberikan umpan yang nggak enak) sama kamu. Aku takut kamu kecewa.\u201d<\/p>\n<p>Lho, kok mereka bisa saling balas padahal masing-masing lagi pada <em>mbatin<\/em>?<\/p>\n<h4>Empat: Doraemon<\/h4>\n<p>Ceritanya Nobita sedang kepoin ponselnya Sizuka pakai alat ajaibnya Doraemon. Ternyata, Sizuka suka WhatsApp-an sama Dekisugi. Dalam chatnya itu, Sizuka nanya, \u201cSu, besok ada PR?\u201d<\/p>\n<p>Lalu Nobita membaca balasan Dekisugi. Ia menjawab, \u201cAda, Zu!!\u201d pakai tanda seru dua.<\/p>\n<p>\u201cApa?\u201d balas Sizuka pakai emot kebingungan.<\/p>\n<p>\u201cPR nya adalah merindukanmu. Lebih kuat dari matematika. Lebih luas dari fisika. Lebih kerasa dari punya Nobita. Eh, maksudnya lebih kerasa dari Biologi.\u201d<\/p>\n<h4>Lima: Attack on Titan<\/h4>\n<p>Ketika Eren dan Mikasa gelantungan di Wall Maria, mereka saling tatap dan mengingat masa lalunya. Eren dengan begitu heroik dan melakukan manuver dengan mengesankan pun berteriak, \u201cPergi, Mikasa! Aku akan lawan titan itu sendirian!\u201d<\/p>\n<p>Dengan <em>mbrambangi,<\/em> Mikasa pun bermanuver dan mengikuti Eren dari belakang. Ia berkata, \u201cAku nggak ingin mengekangmu. Terserah, bebas ke mana saja kamu pergi. Asal aku ikut.\u201d Sambil melakukan hormat ala Pasukan Pengintai.<\/p>\n<h4>Enam: Hero Academia<\/h4>\n<p>Ketika magang di kantor superhero Endeavor, Deku dan Kachan sedang saling kejar-kejaran dengan penjahat. Di dalam pengejarannya, Deku berkata kepada Kachan, \u201cSesungguhnya hidup ini adalah senda gurau, Kachan. SMA UA-lah yang telah menyebabkan kita jadi serius. Kalau kamu nggak setuju, aku bahkan ketawa.\u201d<\/p>\n<p>Kachan pun menjawab dengan gaya marah-marahnya, \u201c<em>HAAA KERASUKAN OPO KOWE??!<\/em>\u201d<\/p>\n<p>Sambil mengelurkan <em>quirk<\/em>-nya, Deku pun berkata, \u201cKalau hidup ini bukan permainan, kalau hidup ini bukan senda gurau, itu akan cepat membosankan. Kita semua membutuhkan hal-hal itu. Kukira.<\/p>\n<p><em>\u201cSAHAA MANEH???!!\u201d<\/em><\/p>\n<h4>Tujuh: Seven Deadly Sins<\/h4>\n<p>Elizabeth yang sedang bucin-bucinnya dan menunggu Meliodas di perempatan jalan Kingdom of Camelot yang tak kunjung datang. Dengan menggunakan jaket baseball dan rambutnya yang digerai anggun, ia <em>mbatin<\/em> seperti Tsubasa, \u201cMeliodas, aku rindu!\u201d<\/p>\n<p>Ternyata Elizabeth jatuh dari Boar Hat yang sedang berjalan karena ketiduran di pinggir bar.<\/p>\n<h4>Delapan: Kingdom<\/h4>\n<p>Di tengah-tengah pengejaran menuju Negara Zhao, Shin berhenti sejenak menghadap seribu pasukan kavaleri yang mulai kelelahan. Kyokai yang sudah mengelurkan segenap kemampuannya juga menunjukkan kelelahan yang teramat sangat. Shin dengan gelora di dada, membakar semangat pasukannya, \u201cJika Pasukan Zhao merasa hebat dengan mengaku Pasukan Berani Mati. Maka kita (Pasukan Xin) merasa hebat dengan menjadi Pasukan Berani Hidup!\u201d<\/p>\n<h4>Sembilan: Domestic Girlfriend<\/h4>\n<p>Kali ini cerita kasih sayang Natsuo dan <em>adik ketemu gede<\/em>, Rui Tachibana. Tidak pernah tahu sang adik ini betapa sayangnya si kakak kepadanya. Hingga suatu saat, sedang ada acara kerja bakti di pekarangan kompleksnya, Rui menemukan puisi dari sang kakak. Puisi itu berbunyi, \u201cDik, jangan pergi jauh-jauh, kan ada darahku di tubuhmu.\u201d<\/p>\n<h4>Sepuluh: Vinland Saga<\/h4>\n<p>Kala itu Canute sedang bangkit-bangkitnya karena diselamatkan oleh Thorfin dan Askelad dari kejaran Pasukan Thorkell. Dalam kering kerontang tanah Wales, Askelad berkata kepada Pangeran Canute, \u201cAmbil tahta itu dan jadilan raja di seluruh dunia, Pangeran!\u201d<\/p>\n<p>Pangeran Canute pun menjawab, \u201cKalau aku jadi raja dunia yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, aku pasti tidak bisa karena aku cuma bangga dengan Britannia.\u201d<\/p>\n<h4>Sebelas: Naruto<\/h4>\n<p>Ibu Negara Konoha itu pernah bucin kala memperlihatkan dirinya itu sungguh-sungguh mencintai Naruto. Ketika dalam duel sengit melawan Pein Akatsuki (bukan penerjemah <em>subtitle<\/em> film, ya!), Hinata dengan gigihnya berusaha membantu mas <em>crush<\/em>-nya yang sedang mode biju. Ia kemudian berkata, \u201cMalam ini, kalau mau tidur, jangan ingat aku, ya!\u201d sambil senyum-senyum berharap mas <em>crush<\/em> <em>nimpali<\/em>. \u201cTapi kalau mau, silakan.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian Naruto yang sudah mulai sadar dan Kurama mengendurkan dirinya dalam tubuh Naruto pun berkata, \u201cJika kamu dihajar Pain Akatsuki, aku tak akan menolongmu. Sebab jika aku terluka, lalu siapa yang akan menjaga Sakura?\u201d<\/p>\n<p><em>Ambyar<\/em>!<\/p>\n<h4>Dua Belas: Boruto, Naruto Next Generation<\/h4>\n<p>Sekarang anaknya Naruto sama Hinata, Buruto. Ia sedang berwisata masa lalu di Kuil Ryozenji dengan Sarada, anaknya Sasuke dan Sakura. Di tengah-tengah perbincangan, Boruto menegaskan bahwa ia ingin seperti Sasuke ketimbang Naruto. \u201cMenjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pilihan-boruto-sudah-tepat-bahwa-jadi-hokage-itu-tidak-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hokage<\/a> itu sibuk seperti ayah. Aku nggak mau, ah, mending mengembara sunyi di sudut-sudut sepi Konoha.\u201d<\/p>\n<p>Sarada pun tersenyum, di tengah doa yang khusyuk, ia membalas ucapan Boruto, \u201cJangan jadi Hokage. Berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja.\u201d<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hubungan-dilan-dan-milea-itu-bukan-relationship-goal-tapi-toxic-relationship\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Hubungan Dilan dan Milea Itu Bukan Relationship Goal tapi Toxic Relationship<\/strong><\/a><b><\/b>\u00a0<b><\/b><strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biarlah Dilan menjadi misteri dunia. Yang jelas, saya jadi kepikiran bagaimana jika Pidi Baiq menggarap manga? Bagaimana dengan gaya bahasa tokoh-tokohnya?<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":30893,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[25,4109,5743],"class_list":["post-30774","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-dilan","tag-manga","tag-pidi-baiq"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30774"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30774\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}