{"id":307486,"date":"2024-12-12T10:07:10","date_gmt":"2024-12-12T03:07:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=307486"},"modified":"2024-12-12T10:07:10","modified_gmt":"2024-12-12T03:07:10","slug":"desa-guyangan-probolinggo-tanah-surga-yang-jadi-bulan-bulanan-maling","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-guyangan-probolinggo-tanah-surga-yang-jadi-bulan-bulanan-maling\/","title":{"rendered":"Desa Guyangan Probolinggo, &#8220;Tanah Surga&#8221; yang Jadi Bulan-bulanan Maling di Masa Panen"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desa Guyangan, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, yang katanya terkenal sebagai \u201ctanah surga\u201d, sekarang malah jadi \u201ctanah neraka\u201d buat petani. Gimana nggak, di sini segala tanaman tumbuh subur kayak kecambah, tapi sekarang malah tumbuh maling yang lebih subur dari tanaman itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dulu pencurian di sini cuma seputar motor, televisi dan sapi, sekarang maling-maling ini punya selera baru: tanaman petani. Dari singkong, kopi, manggis, durian, sampai ubi porang, semuanya dicuri tanpa ampun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan lagi \u201ctanah surga\u201d, tapi \u201ctanah sial\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tanah subur jadi sasaran empuk maling. Sebagian pelakunya tetangga sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru kemarin saya dapat kabar dari bapak, katanya sebagian <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/tren\/read\/2021\/08\/20\/114600165\/apa-itu-tanaman-porang-dan-apa-manfaatnya-?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ubi porang<\/a> di ladang kami dicuri. Dia bilang, \u201cPorangnya dicuri orang, Nak.\u201d Santai, kan? Tapi kecewa juga sih. Ini bukan soal porang doang, talas juga ikut dicuri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Desa Guyangan Probolinggo, maling kayak kamu, iya kamu, yang datang tanpa permisi dan pergi tanpa kabar. Kalau dulu mereka main di rumah, sekarang mereka lebih suka main di ladang. Mungkin lebih aman, jauh dari pengawasan manusia, jadi nggak perlu pusing lihat wajah-wajah petani yang kebingungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa ya, maling sekarang jadi ngelantur ke ladang? Karena, menurut sebagian korban, pencuri ini sebagian adalah tetangganya sendiri. Mereka tahu apa yang ditanam dan lokasi ladang para petani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMakin dekat ke ladang, makin dekat sama keuntungan cepat tanpa harus keluar modal banyak,\u201d begitu kira-kira.<\/span><\/p>\n<h2><b>Petani di Desa Guyangan rela tidur di ladang, tapi tetap saja rugi berlipat-lipat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini dia yang bikin petani Desa Guyangan sekarang nggak tahan. Mereka sudah capek nanam, merawat, dan berharap panen. Tapi, di akhir cerita, yang mereka panen malah kekecewaan. Harga tanaman jatuh, gak laku, susah payah dirawat, tapi malah dicuri tanpa ampun. Sudah merugi di pasar, ditambah tanaman hilang akibat maling. Berasa ditipu dan rugi berkali-kali lipat!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking seriusnya masalah ini, beberapa petani sampai nekat bikin gubuk kecil di ladang. Tidur di situ malam-malam hanya untuk menjaga tanaman. Bayangkan, tidur di ladang, berjaga sampai mata bengkak, demi apa coba, kalau bukan demi menghindari tanaman dicuri maling?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tidur di rumah aja nggak nyaman, apalagi tidur di ladang? Itu sih level paling gila. Tapi ya, apa boleh buat, petani Desa Guyangan Probolinggo nggak punya pilihan lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para maling ini pinter. Mereka tahu kapan harus beraksi dan bagaimana caranya. Biasanya, mereka melancarkan aksinya saat malam tiba, pas semua orang tidur, dan pas sebelum pasar tradisional Kecamatan Krucil\u2014yang buka setiap hari Rabu dan Sabtu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka ngambil tanaman, langsung dijual ke pasar\u2014langsung untung. Sementara petani, cuma bisa pasrah, berusaha memantau ladang yang letaknya jauh dari pekarangan rumah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bolak-balik memantau tanaman. Tapi maling lebih cepat beraksi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petani di Desa Guyangan sekarang harus rela bolak-balik dari rumah ke ladang, meski siang hari, yang jaraknya nggak dekat. Kadang, bahkan nggak mungkin untuk memantau tanaman setiap hari. Mau lihat tanaman di ladang? Harus naik motor\u2014yang sering kali butuh waktu berjam-jam. Sementara maling cukup datang, ambil, dan kabur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan sahabat saya seenaknya jidat bilang, \u201cYa sudah, buat pos ronda lah, bangun gubuk kecil di ladang.\u201d Nggak semudah itu, goblok. Membuat pos ronda itu butuh biaya, tenaga, dan kerja sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harapan saya sih, petani Desa Guyangan Probolinggo nggak terus-terusan jadi bulan-bulanan maling. Jangan biarkan ladang subur jadi sasaran empuk maling. Kalau terus begini, lama-lama tanah \u201csurga\u201d ini hanya tinggal nama tanpa panen, tanpa petani, dan tanpa masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita harus ingat, petani adalah \u201cpahlawan tanpa nama\u201d. Tanpa mereka, tidak ada kopi, tidak ada manggis, tidak ada ubi porang. Kalau mereka jatuh, ya seluruh rakyat Indonesia juga ikut jatuh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Adi Purnomo Suharno<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/probolinggo-itu-kota-di-jawa-timur-dan-kami-bukan-orang-madura-meski-pakai-logat-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Probolinggo Itu Kota di Jawa Timur, dan Kami Bukan Orang Madura meski Pakai Logat Madura<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Desa Guyangan Probolinggo, yang katanya terkenal sebagai \u201ctanah surga\u201d, sekarang malah jadi \u201ctanah neraka\u201d buat petani.<\/p>\n","protected":false},"author":2700,"featured_media":307673,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[26875,2802,26876,2500],"class_list":["post-307486","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-desa-guyangan","tag-maling","tag-musim-panen","tag-probolinggo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307486","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2700"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=307486"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307486\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307673"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=307486"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=307486"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=307486"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}