{"id":307332,"date":"2024-12-10T07:45:39","date_gmt":"2024-12-10T00:45:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=307332"},"modified":"2024-12-10T02:10:12","modified_gmt":"2024-12-09T19:10:12","slug":"jember-membuat-saya-semakin-kaya-sebagai-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jember-membuat-saya-semakin-kaya-sebagai-manusia\/","title":{"rendered":"Terima Kasih Jember, Saya Jadi Semakin &#8220;Kaya&#8221; sebagai Manusia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang hidup mungkin saya akan berterima kasih kepada Jember. Daerah dengan julukan Kota Tembakau itu mengambil peran yang begitu penting ketika saya tumbuh remaja hingga dewasa. Saya tidak bisa menampik, banyak pandangan hidup terbentuk ketika saya menjadi mahasiswa salah satu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampus-paling-unggul-di-jember-adalah-uin-khas-jember\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kampus di Jember<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sebelum terlalu jauh, saya ingin meluruskan bahwa saya bukan orang asli Jember.\u00a0<span style=\"font-weight: 400;\">Saya berasal dari kabupaten tetangga yang berjarak 32 km jauhnya. Jarak yang sebenarnya cukup dekat untuk pulang kampung setiap minggu, tapi saya memilih tidak melakukannya. Itu mengapa Jember sudah seperti rumah kedua.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi kenal budaya membaca<\/b><\/h2>\n<p>Saya tidak pernah membayangkan, bagaimana jalan hidup ini kalau tidak kuliah di Jember. Saya mungkin tidak punya hobi membaca seperti sekarang ini. H<span style=\"font-weight: 400;\">idup mungkin akan berjalan normatif dan begitu-begitu saja, sebab pengetahuan yang terbatas karena jarang membaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit gambaran, budaya membaca tidak kental di keluarga saya. Kami lebih dekat dengan\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">visual dan bunyi-bunyian. Circle, kalau boleh meminjam istilah anak zaman sekarang, di Jember yang pertama kali mengenalkan saya pada kebiasaan membaca. Kebiasaan yang lambat laun menjadi hobi yang masih dijalankan hingga saat ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih ingat betul, housemate di rumah mungil tempat saya tinggal dahulu selalu membawa buku jarahan dari perpustakaan, LPM, atau kos temannya. Pecayalah, jarahan adalah kata yang tepat karena buku-buku itu tidak pernah kembali ke pemilik aslinya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat circle ini saya jadi kenal <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/hanung-bramantyo-hapus-mitos-novel-puthut-ea\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cinta Tak Pernah Tepat Waktu <\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">karya Puthut EA, Kepala Suku Mojok.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<h2><b>Saya rindu Jember yang itu<\/b><\/h2>\n<p>Aduh, rasanya jadi rindu pada Jember yang itu, Jember pada saat saya menjalani perkuliahan. Vibes-nya, sekali lagi kalau boleh meminjam istilah anak zaman sekarang, sangat berbeda dengan Jember sekarang ini. Dahulu sepertinya ada saja yang dikerjakan mahasiswa. Mungkin karena saya tergabung dalam organisasi Dewan Kesenian Kampus yang sangat aktif ya. Rasa-rasanya kesekretariatan tidak pernah sepi, ada saja geliatnya.<\/p>\n<p>Vibes atau getaran itu tidak saya rasakan pada mahasiswa Jember zaman sekarang. Memang, tampilan dan perangai mereka lebih meyakinkan. Mereka lebih modis, tidak seperti zaman saya yang gembel-gembel. Namun, apalah arti tampilan modis kalau mereka berpakaian secara tidak berkesadaran. Artinya, mereka tidak ngulik asal-usul pakaiannya alias sekadar menjadi objek dari tren yang muncul.<\/p>\n<p>Kalimat di atas mungkin terdengar berlebihan dan menyebalkan. Seperti orang tua yang selalu membangga-banggakan eranya. Padahal, setiap era punya potensi dan persoalannya masing-masing. Namun, perkara mahasiswa dan kampus, saya rasa ada satu hal yang semestinya selalu dijaga entah zaman dahulu, sekarang, maupun masa depan: dialog. Dialog yang membangun daya kritis sehingga mahasiswa tidak mudah diombang-ambing zaman.<\/p>\n<h2><strong>Lunturnya dialog di warung kopi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengunjungi Jember saat ini seperti mampir ke pameran warung kopi atau bahasa lebih kerennya coffee shop. Jumlahnya memang jauh lebih banyak dan beragaman dibanding zaman saya dahulu. Sayangnya, jumlah warung kopi bertambah, tapi budaya ngobrol dan dialog justru memudar.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Saya masih ingat betul, di zaman saya dahulu hanya kenal Warung Bulek, Warung Cak Ipul, dan Warung BMW. Warung kopi yang hanya menyediakan kopi hitam, kopi susu, teh, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wedang-jowo-dan-segala-filosofinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wedang jahe<\/a>, dan mi instan. Walau menunya terbatas dan sederhana, mahasiswa bisa ngobrol hingga larut. Dialog tidak hanya terjadi antar mahasiswa, tapi juga dengan siapa saja yang hadir di warung kopi pada saat itu.<\/p>\n<p>Kultur inilah yang tidak saya jumpai saat ini. Jumlah warung kopi memang semakin banyak, alatnya semakin canggih, menu yang disajikan kian beragam. Sayang, kultur dialognya mulai memudar. Memang, warung kopi hanyalah satu dari banyak wadah mahasiswa untuk berdialog. Namun, berkaca dari kehidupan sepupu dan adik tingkat saat ini, rasa-rasanya wadah untuk ngobrol dan berdialog di tempat-tempat lain juga mulai terkikis. Semoga saya salah. Semoga masih ada ruang-ruang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Dialog\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dialog<\/a> lain yang bertahan yang tidak saya ketahui.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih dan menitipkan pesan kangen pada Jember yang itu. Jember yang membuat saya rajin membaca dan berdialog sehingga saya semakin kaya pandangan sebagai manusia. Entah bagaimana nasib saya saat ini kalau pada saat itu tidak kuliah di sana.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: N.D Vindriana<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jember-daerah-yang-cocok-untuk-slow-living-di-jawa-timur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unpopular Opinion: Jember Daerah yang Cocok untuk Slow Living di Jawa Timur<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidup di Jember benar-benar mengubah hidup, saya jadi kenal budaya membaca dan dialog yang membuat semakin &#8220;kaya&#8221; sebagai manusia. <\/p>\n","protected":false},"author":2819,"featured_media":307365,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8794,26859,34,26860],"class_list":["post-307332","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jember","tag-kuliah-jember","tag-mahasiswa","tag-perguruan-tinggi-jember"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2819"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=307332"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307332\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307365"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=307332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=307332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=307332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}