{"id":307122,"date":"2024-12-11T07:26:15","date_gmt":"2024-12-11T00:26:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=307122"},"modified":"2024-12-10T23:28:20","modified_gmt":"2024-12-10T16:28:20","slug":"rasanya-bermalam-di-ketajek-jember","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasanya-bermalam-di-ketajek-jember\/","title":{"rendered":"Rasanya Bermalam di Ketajek Jember, Tempat Konflik Tanah yang Hingga Kini Belum Usai"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa nyaman hidup sudah semestinya ingin dirasakan oleh setiap masyarakat. Tak pandang harus bertempat di <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kota maupun desa. Bagi masyarakat kota, wajar saja akses ke mana pun mudah didapat dan tanpa ribet harus bersusah payah melewati jalan bergeronjal. Hal yang sama, seharusnya juga bisa dirasakan oleh masyarakat desa pada umumnya. Tetapi kenyamanan tersebut, kiranya tidak dirasakan oleh masyarakat perkebunan Ketajek Jember.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sedikit ceritakan gambaran seperti apa Perkebunan Ketajek itu. Wilayah yang cukup terjal di sektor perkebunan dengan diapit dua desa ; Pakis dan Suci, di Kecamatan Panti. Letaknya tepat di bawah kaki Gunung Argopuro Jember. Secara singkat, terasa bahwa tempatnya penuh suasana tenang, hangat, serta asri. Itu semua hampir betul, karena ada satu hal yang bikin kedamaian Ketajek \u201ctercoreng\u201d, yaitu karena konflik perebutan tanah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, Ketajek adalah tempat di mana sejarah konflik perebutan tanah yang hingga kini <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/arsip\/bpn-jember-janji-tahun-ini-tuntaskan-konflik-lahan-eks-hgu-bumn-di-curahnongko-mangaran-dan-ketajek-56303\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tak kunjung selesai<\/a>. Hingga kini, perjuangan masyarakat Ketajek, merebut kepemilikan tanah yang telah dirampas oleh Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Jember belum usai.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Makan tempe seminggu sekali<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di waktu itu, bertepatan dengan Ramadan tahun 2022, saya bersama teman-teman Pesantren Gerakan (PG) Karang Mluwo, berniat bermukim sekaligus belajar sekilas tentang kopi dengan masyarakat serta ingin mengerti kondisi sebenarnya konflik di Ketajek. Kami berangkat menuju Perkebunan Ketajek Jember saat siang menjelang sore. Sebab, selain akses jalan yang rusak dan berbatu, jarak tempuh untuk sampai lokasi perkebunan lumayan jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di sana, kami bahagia, karena kedatangan kami disambut sumringah dan ramah oleh masyarakat Ketajek. Kami pun dipersilakan untuk menempati sebuah rumah kosong, berdekatan dengan rumah salah satu warga perkebunan. Secara berjamaah, juga ikut salat tarawih di satu-satunya masjid yang ada di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepantasnya sebagai tamu, aktivitas pertama kami ialah silaturahmi ke rumah warga. Seketika miris, mendengar jumlah kepala keluarga yang bermukim di sana. Kurang lebih tidak sampai 40 KK yang masih bertahan di tanah konflik tersebut. Karena sebagian warga yang lain berpindah tempat, sudah tidak lagi bertempat tinggal di wilayah perkebunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gelak tawa terus mengiringi percakapan hangat kami dengan warga Ketajek. Tentu topik pembahasan dalam percakapan random. Supaya kehadiran kami bagi masyarakat Ketajek, tidak seolah-olah terkesan seperti menyidik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kalimat percakapan yang hingga sekarang masih saya ingat. Ketika silaturahmi di rumah warga Ketajek yang mengatakan bahwa jauhnya akses ke pasar, ia hanya sempat makan tempe sekali dalam satu minggu. \u201cYa gimana mas, mau makan tempe, biasanya satu minggu sekali,\u201d tuturnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hah?<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kondisi Ketajek Jember yang bikin trenyuh<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suhu dingin perkebunan ternyata mulai berdatangan menyentuh kulit dan jam dinding sudah menunjukkan pukul malam. Sehingga kami tidak berlarut-larut meneruskan percakapan. Akhirnya, pamit untuk kembali ke rumah penginapan. Di pagi harinya, ketika masyarakat Ketajek pergi ke perkebunan, kami sepakat untuk turut serta ikut sekaligus membantu apa yang kiranya dapat dibantu. Adapun komoditas yang dihasilkan di sana ada kakao, kopi dan kayu manis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi perkampungan di Ketajek Jember yang jauh dari kata cukup memantik rasa empati saya. Salah satu kondisi yang bikin saya trenyuh adalah keberadaan pembangkit listrik. Pembangkit listrik di Ketajek masih begitu sederhana, masih memakai turbin air dan panel surya. Oke, panel surya memang terasa canggih. Tapi cukup atau tidak, itu persoalan lain<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu pun, daya listrik yang dialirkan ke rumah-rumah warga belum maksimal menyeluruh. Warga Ketajek terbiasa memperkirakan dengan tenaga listrik yang demikian, dapat digunakan untuk apa saja. Selain perkara listrik, ada hal lain yang bikin hati saya lumayan tercubit, yaitu hanya ada satu SD di wilayah tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa rumah yang saya temui di sana, ada salah satu rumah bagus yaitu milik seorang tengkulak. Beliau bernama Tomo. Dirinya datang di perkebunan di kala musim panen kopi telah tiba. Oleh karena itu, tak jarang warga Ketajek mengais rezeki sebagai modal hidupnya dengan menjadi buruh kopi.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Saksi perjuangan<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu para pembaca tak lupa, bahwa di atas saya menuliskan bahwa Ketajek Jember adalah saksi perjuangan konflik tanah yang hingga kini belum kelar. Rasa trauma, masih menghinggapi penduduk Ketajek. Dan kini, saya mau sedikit cerita tentang hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, pada 1973, warga Ketajek pernah mendapat teror dari pihak PDP Jember, akibat tidak mau menyerahkan tanahnya. Saya tak tahu apakah teror tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Tapi melihat trauma yang masih membekas, saya tak ingin menanyakannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangankan menyelesaikan konflik, warga Ketajek masih diberi ruang untuk tetap tinggal di Ketajek itu sudah bersyukur. Walaupun legalitas kepemilikan tanah diklaim berstatus Hak Guna Usaha (HGU) milik PDP Jember, tapi hingga kini, mereka masih bermukim dan melangsungkan hidup di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di hari itu, selesai salat zuhur tepatnya mau pamit pulang ke rumah kami masing-masing. Tidak banyak yang kami berikan, justru sebaliknya warga Ketajek telah banyak memberikan pelajaran dan pengalaman. Bahwa tidak semua orang sanggup bertahan di wilayah konflik. Tidak semua bisa kuat berjuang, meskipun kekalahan niscaya datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami hanya bisa memberi kenang-kenangan Al-Qur\u2019an di masjid sana sebagai bentuk terima kasih kepada warga Ketajek. Cukup atau tidak, saya tak pikir panjang. Yang jelas, saya berterima kasih, dan berpikir keras sepulangnya dari sana.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M Nur Fadli<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jember-begitu-unik-cuma-butuh-sounding\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jember Begitu Unik: Warganya Poliglot, Daerahnya \u201cMetropolitan\u201d, Cuma Butuh Sounding dan Lebih Optimis<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketajek Jember adalah tempat di mana sejarah konflik perebutan tanah yang tak kunjung selesai. Hingga kini, perjuangan belum usai.<\/p>\n","protected":false},"author":2820,"featured_media":307500,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[26865,2104,6509,26866],"class_list":["post-307122","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ketajek-jember","tag-konflik","tag-konflik-agraria","tag-perebutan-tanah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307122","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2820"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=307122"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307122\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307500"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=307122"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=307122"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=307122"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}