{"id":307072,"date":"2024-12-07T14:09:18","date_gmt":"2024-12-07T07:09:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=307072"},"modified":"2024-12-07T14:09:18","modified_gmt":"2024-12-07T07:09:18","slug":"soju-101-segala-hal-tentang-minuman-keras-ala-korea-yang-harus-kamu-ketahui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soju-101-segala-hal-tentang-minuman-keras-ala-korea-yang-harus-kamu-ketahui\/","title":{"rendered":"Soju 101: Segala Hal tentang Minuman Keras Ala Korea yang Harus Kamu Ketahui  \u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam drama, variety shows, maupun video dari artis Korea Selatan, ada sebuah minuman dalam kemasan botol hijau nggak pernah absen. Minuman keras yang selalu sukses bikin mabuk peminumnya ini dikenal dengan nama soju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gara-gara kelewat sering wara-wiri di berbagai konten Korea, popularitas minuman ini sudah nggak terbendung lagi. Para penggemar yang memuja Korea dapat dipastikan pengin mencicipi minuman ini. Entah itu dengan beli langsung di negaranya, melalui jasa titip, maupun mencoba versi KW-nya, semua dilakukan demi bisa menjajal pengalaman baru meminum minuman kerasa ala Korea.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sebotol miras yang selalu kita saksikan lewat layar itu punya banyak sisi yang mungkin belum kita ketahui. Semua hal tentang soju yang ingin kamu pahami, mulai dari yang ecek-ecek sampai detail, sudah terangkum di bawah ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Macam-macam soju dan komposisinya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soju berbotol hijau yang sering kita lihat itu adalah versi yang sudah diencerkan. Soju jenis ini umumnya mengandung alkohol yang diekstrak dari ubi jalar, molase (terbuat dari beras dan barley), serta tapioka. Ada pula yang disuling, yang umumnya dikemas dalam bentuk berbeda, entah itu botolnya nggak transparan maupun warnanya berbeda. Soju yang disuling dibuat dari bahan yang mirip, hanya saja memiliki rasa yang lebih jernih, rasa pahitnya lebih samar, dan tanpa aroma.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Merek soju paling terkenal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiap provinsi di Korea Selatan memiliki<\/span><a href=\"https:\/\/www.korea.net\/NewsFocus\/Business\/view?articleId=128865\"> <span style=\"font-weight: 400;\">merek soju<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> kebanggaan masing-masing. Sebagian besar sudah mulai memproduksi minuman ini sejak puluhan tahun lalu. Simak daftar berikut sebagai referensi dalam mencari soju berdasarkan provinsi dan kotanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Chamisul, populer di Gyeonggi-do (Seoul)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Chum-Churum, Gangwon-do<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; 02Linn, Chungcheongnam-do (Daejeon)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Cool Cheongpung, Chungcheongbuk-do<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Hite, Jeollabuk-do<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Yipsejoo, A Hop Si Vahn, Jeollanam-do (Gwangju)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Goodday, White, Gyeongsangnam-do (Ulsan)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; C1, Ye, Gyeongsangnam-do (Busan)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Charm, Gyeongsangbuk-do (Daegu)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Olle, Jeju<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kebijakan \u201csatu provinsi, satu merek soju\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada alasan mengapa tiap provinsi memiliki merek kecintaannya masing-masing. Ini karena pada 1990-an, sempat ada<\/span><a href=\"https:\/\/www.korea.net\/NewsFocus\/FoodTravel\/view?articleId=218975\"> <span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> bahwa industri soju lokal hanya boleh diproduksi oleh satu pabrik di setiap kota atau provinsi. Setengah dari total produksi soju dari setiap pabrik harus dikonsumsi di kota atau provinsi tersebut. Kebijakan tersebut sudah berakhir pada 1996, tapi citra soju \u201cdaerah\u201d masih tetap mentereng di wilayah masing-masing.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Soju yang terpercaya adalah yang mampu meng-hire artis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara menentukan suatu merek soju terbukti terkenal enak atau nggak adalah dari artis yang mengiklankannya. Biasanya merek-merek hanya bekerja sama dengan artis yang sedang naik daun, seperti IU, Jennie, Suzy, dan Cha Eun Woo. Lebih baik mencoba soju yang diiklankan artis-artis terkenal karena nggak mungkin dong artis-artis tersebut memilih merek abal-abal.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Lebih disukai dibandingkan miras jenis lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soju lebih populer daripada miras lain, bahkan pantas untuk disebut sebagai representatif arak dari Korea karena masyarakat memang lebih menyukainya. Di tahun 2022, harga minuman ini hanya KRW 2.000 yang mana sangat terjangkau di kantong masyarakat sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soju juga mampu membuat peminumnya cepat mabuk tanpa menimbulkan pengar yang berat. Miras ini pun cocok diminum bersama makanan-makanan khas Korea dan bisa dikombinasikan dengan bir hingga soda.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Tercipta karena penjajahan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada zaman Tiga Kerajaan (tahun 57 SM-668 M), orang Korea meminum arak beras yang difermentasi dengan ragi. Ketika Mongolia menginvasi Korea pada era Kerajaan Goryeo (918-1392 M), masyarakat Korea belajar cara membuat soju. Di daerah-daerah tempat barak tentara Mongolia, seperti Andong, Kaesong, dan Jeju berkembanglah metode unik dalam membuat minuman satu ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Soju sempat dilarang pemerintah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Korea Selatan pernah mengalami krisis pangan pada 1964. Pada masa itu, pemerintah\u00a0 mengetok palu Undang-undang Pengelolaan Pangan yang membuat produksi minuman ini yang dulunya berasal dari seratus persen beras dilarang untuk dilakukan. Hal itu membuat para produsen menggunakan bahan alternatif, seperti kentang, gandum, dan tapioka. Bahkan sampai undang-undang tersebut selesai diterapkan pun masyarakat sudah terbiasa dengan rasa soju yang terbuat dari bahan-bahan substitusi tersebut.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Gelas seloki wajib ada<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan gelas untuk minum wine dan bir, gelas soju ukurannya jauh lebih kecil.<\/span><a href=\"https:\/\/biroso.net\/blogs\/%EB%89%B4%EC%8A%A4\/soju-the-spirit-of-korean-nightlife?srsltid=AfmBOoqDcqLnp5cpj2Ze7ZnL9L60BCHcRzjZ3BkeC2WDkrt3MkML7hgA\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Gelas soju<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, atau yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan seloki, memiliki kapasitas 50 ml saja. Ukuran botol minuman ini umumnya 360 ml. Dengan menggunakan seloki, satu botol bisa untuk mengisi 7,5 gelas.<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Jadi bukti perjuangan ekonomi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan gelas seloki ini bukan tanpa alasan. Selain memang diciptakan untuk dinikmati bersama-sama, berbagi soju dan membaginya ke dalam gelas seloki juga merupakan bukti bahwa orang Korea pernah memikul beban ekonomi bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada era krisis ekonomi, soju adalah barang mewah yang nggak bisa dinikmati oleh semua orang. Berbagi melalui seloki adalah solusi praktis agar setiap tetes soju yang mahal itu bisa dinikmati oleh semua orang.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#10 Ada KW-nya<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking populernya di Korea Selatan maupun internasional, banyak orang yang berusaha menciptakan<\/span><a href=\"https:\/\/www.korea.net\/Events\/Overseas\/view?articleId=18748\"> <span style=\"font-weight: 400;\">soju palsu<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Di Indonesia beberapa tahun belakangan ini pun banyak beredar minuman yang kemasannya pakai botol hijau tapi waktu dicicipi rasanya nggak jauh beda sama soda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Produk imitasi ini bukan hanya membohongi pembeli, melainkan juga bikin orang Korea murka. Sebab sebagian produk palsu ini pakai merek yang sudah terkenal, seperti Hite.<\/span><\/p>\n<h2><b>#11 Konsumsi soju di Korea Selatan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Korea Selatan punya banyak opsi miras. Pada 1970-an, sebanyak 80 persen dari total konsumsi alkohol di negara tersebut disumbang oleh miras yang berasal dari beras murni, seperti makgeolli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sejak 1980, persentase tersebut menurun drastis gara-gara soju yang mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Studi tahun 2015 menunjukkan bahwa konsumsi soju mencapai 40 persen dari keseluruhan konsumsi alkohol di Korea Selatan. Sampai saat ini soju masih menjadi miras paling populer di sana.<\/span><\/p>\n<h2><b>#12 Miras nomor satu dengan pangsa pasar terbesar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buku Tahunan Statistik Pajak Nasional pada 2021 menyatakan bahwa penjualan domestik soju, khususnya yang diencerkan, mencapai KRW 3,7 triliun. Angka ini menjadikan soju sebagai minuman beralkohol nomor satu di Korea Selatan dengan pangsa pasar sebesar 42,1 persen.<\/span><\/p>\n<h2><b>#13 Kandungan alkohol yang terus menurun<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, kandungan alkohol di minuman ini bisa mencapai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan bir. Namun karena permintaan pasar yang mulai menyukai soju yang lebih manis, kandungan alkohol mulai berkurang sedikit demi sedikit. Pada 1965, kandungan alkohol mencapai 30 persen. Lalu menurun menjadi 23 persen pada 1999 and 20 persen di tahun 2006. Kini rata-rata total alkohol hanya 15-17,5 persen.<\/span><\/p>\n<h2><b>#14 Minum soju ada etikanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di budaya Korea, minum soju nggak bisa sembarangan. Ada etika ketat yang harus kita patuhi. Saat minum bersama-sama, tuangkan dulu untuk orang lain dan jangan sekali pun menuangkan untuk diri sendiri. Saat menerima tuangan soju dari orang lain, pegang gelas dengan kedua tangan. Selain itu, kalau kamu minum di depan orang yang lebih tua, tolehkan dulu kepala ke samping, baru minum punyamu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#15 Alasan botol soju berwarna hijau<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Botol soju dibuat<\/span><a href=\"https:\/\/88bamboo.co\/blogs\/features\/why-is-soju-always-in-green-bottles-the-backstory-behind-the-liquor-s-green-glow?srsltid=AfmBOopvxAuMJI5UAwhHzNCYMNPE6yNtcXMbTPF7ANYWq_TyZYOxfGhK\"> <span style=\"font-weight: 400;\">berwarna hijau<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pun ada latar belakangnya. Desain hijau ini sudah terstandardisasi agar tiap pabrik bisa saling menggunakan metode reuse dan recycle secara silang. Cara ini membuat masa sorting jadi lebih singkat dan efektif karena yang beda hanya stiker mereknya. Contohnya, pabrik Hite bisa menggunakan botol dari Chamisul untuk mengisi ulang botol kosong dengan minuman yang baru, begitu pula sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itulah serba-serbi minuman yang bikin kalian penasaran saat nonton drama dan film Korea. Tertarik? Boleh. Kalau mau minum, inget dosa ditanggung sendiri.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cheers-menelusuri-budaya-minum-alkohol-di-korea-selatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cheers! Menelusuri Budaya Minum Alkohol di Korea Selatan<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semua hal tentang soju yang ingin kamu pahami, mulai dari yang ecek-ecek sampai detail, sudah terangkum di bawah ini.<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":307074,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[959,1357,11324],"class_list":["post-307072","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-korea-selatan","tag-minuman-keras","tag-soju"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=307072"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307072\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307074"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=307072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=307072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=307072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}