{"id":307033,"date":"2024-12-07T07:50:57","date_gmt":"2024-12-07T00:50:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=307033"},"modified":"2024-12-07T07:51:51","modified_gmt":"2024-12-07T00:51:51","slug":"haters-pemerintah-jember-nggak-paham-prioritas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/haters-pemerintah-jember-nggak-paham-prioritas\/","title":{"rendered":"Cuma Haters yang Bilang Pemerintah Jember Nggak Paham Prioritas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jember, kota ini punya cara sendiri buat bikin kita tersenyum dan menghela napas di saat yang bersamaan. Jember itu semacam paket all-in-one: hiburan, drama, dan tantangan hidup dalam satu tempat. Mungkin itulah daya tarik Jember, kita nggak pernah tahu apa yang bakal terjadi di tikungan selanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah catatan di buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Asal Usul<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Mahbub Djunaidi menulis, \u201csemua makhluk hidup mencintai kotanya. Rasanya bersedia berkelahi hingga mati kalau saja ada orang yang meremehkannya. Bukan saja kotanya yang kusenangi, melainkan administratornya.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila Mahbub mencintai kota dan administratornya, saya mencintai kota ini karena pemerintah daerahnya sangat mengenal kondisi sosial-kebudayaan warganya. Kamu tahu kan bunyi konstitusi negara kita bilang kalau negara berkewajiban memenuhi hak warganya mendapat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ujian-nasional-dikembalikan-kualitas-pendidikan-bakal-meningkat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pendidikan layak<\/a>. Namun, pemerintah daerah Jember lebih paham warganya, sehingga tidak memprioritaskan hal itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Fasilitas pendidikan buruk adalah metode belajar lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan temuan Radar Jember, ada lebih dari 3.000 sekolah negeri dan swasta yang ada di Jember. Sebanyak 400 sekolah di antaranya dalam kondisi yang membutuhkan perbaikan. Ini dari segi infrastruktur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 11 Agustus 2024, saya menulis opini berjudul <a href=\"https:\/\/teliti.id\/petak-56-dan-komitmen-pendidikan-di-jember\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Petak 56 dan Komitmen Pendidikan di Jember<\/em> <\/a>yang terbit di media Teliti.id. Di situ saya sampaikan, ada kawasan terpencil di tengah hutan yang berada di Dusun Sepuran, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Namanya saja\u00a0 Petak 56, namun kawasan itu dihuni oleh sekitar 80-an orang dewasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah dua kali ke sana. Saya berhasil memotret kenyataan tentang anak-anak SD yang setiap pagi harus berangkat lebih awal dibanding teman-teman yang lainnya. Mereka juga harus rela tidak ke sekolah ketika tak ada yang mengantar dan ketika cuaca buruk. Belum lagi ketika beberapa tahun lalu pandemi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/cerita-dari-orang-orang-yang-kena-covid-19-lebih-dari-sekali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Covid-19<\/a> meneror setiap sektor kehidupan, kegiatan belajar anak-anak di Petak 56 lumpuh total.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Potret di atas menggambarkan pemerintah Jember punya metode ampuh untuk menggembleng warganya sedari dini. Dengan tembok sekolah yang bolong, atap yang nyaris ambruk, atau meja belajar yang sudah berumur lebih tua dari gurunya anak-anak SD bisa belajar hal baru. Iya, belajar tabah dan ikhlas dari alam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin saya sempat ngobrol dengan seorang guru honorer di pelosok Jember. Kami duduk di kursi plastik yang mirip kursi pernikahan hajatan tetangga. Guru ini bercerita tentang betapa susahnya kondisi sekolah mereka. Saat hujan turun, anak-anak lebih sibuk menghindari bocoran air dari atap ketimbang mendengarkan pelajaran matematika. Tapi tenang, katanya, anak-anak tetap punya semangat belajar tinggi! Masalah kecil seperti ruang kelas yang tergenang air saat hujan bukanlah penghalang. Malah, mungkin ini adalah bagian dari pelajaran praktek tentang &#8220;fisika kehidupan.&#8221;<\/span><\/p>\n<h2><b>Pemda Jember jelas paham prioritas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sama sekali nggak setuju dengan anggapan infrastruktur pendidikan yang belum layak adalah potret gagalnya pemerintah daerah.\u00a0 Dikira pemerintah Jember tidak serius mengurus warganya ya? Sekarang coba tengok prioritas pemda yang mulia dan penuh kreativitas itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah daerah lebih memilih menghamburkan uang rakyat untuk <a href=\"https:\/\/jemberfashioncarnaval.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jember Fashion Carnival<\/a> daripada memperbaiki sekolah. Saya kira pemikiran mereka begini, &#8220;Buat apa sibuk membangun SD kalau kita bisa membangun SDM?&#8221; Oh, bukan, bukan SDM yang itu\u2014maksudnya, warga yang super duper mumpuni dalam urusan fashion yang mendatangkan pundi-pundi rupiah yang banyak. Lebih prestisius, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak berhenti di situ, coba deh tengok anggaran daerah yang dialokasikan untuk hal-hal esensial. Eh ternyata malah lebih banyak dihabiskan buat subsidi bagi kegiatan &#8220;sosial&#8221; seperti konser dadakan di alun-alun kota atau renovasi jembatan semanggi yang entah mengapa sering terlihat lebih gemerlap daripada lampu jalan di kawasan permukiman. Bahkan, kabarnya biaya renovasi memakan angka yang fantastis demi sudut-sudut Jember yang lebih indah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih briliannya lagi, program Jember Siaga Bencana bukan bertujuan untuk mengatasi banjir, tapi lebih ke persiapan warga agar lebih tangguh menghadapi genangan air. Jadi kalau di Jakarta ada normalisasi sungai, di Jember ada normalisasi warga\u2014agar terbiasa dengan kondisi alam yang serba penuh kejutan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi soal transportasi. Kita boleh bangga dengan keberadaan bandara Notohadinegoro, tapi seberapa sering sih dipakai? Paling sepi seperti kuburan. Tapi tenang, pemerintah punya ide cemerlang lagi. &#8220;Kita bikin lebih banyak spot foto,&#8221; kata mereka. Tujuannya jelas, biar orang-orang bisa foto di sana, upload di Instagram, dan bilang, &#8220;Jember punya bandara modern.&#8221; Padahal, ya cuma buat foto-foto. Transportasi antar kota dan antar kecamatan? Ah, itu kan cuma butuh naik ojek atau nunggu angkot yang tak pernah datang tepat waktu. Romantis sekali, bukan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Pemerintah ingin warganya tidak bosan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian mungkin akan berpikir, kenapa pemerintah daerah seperti itu? Kenapa tidak fokus pada hal yang esensial? Jawabannya simpel saja, kalau semuanya sudah beres, hidup di Jember bakal terlalu membosankan. Tanpa sekolah yang hampir roboh, tanpa banjir musiman, Jember akan kehilangan ciri khasnya. Tidak ada lagi drama-drama kehidupan yang bisa dibagikan di media sosial, tidak ada lagi obrolan seru tentang &#8220;betapa absurdnya kota kita ini.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, mari kita berterima kasih pada pemerintah daerah yang begitu kreatif dan penuh inovasi dalam menghadirkan realita kehidupan. Berkat mereka, kita bisa belajar ilmu hidup di bangku sekolah yang sudah reyot. Kita juga tidak akan pernah bosan karena sehari-hari akan selalu menyiasati jalanan macet hingga banjir. Dijamin hidup penuh warna, di mana kita bisa tertawa dan menghela napas panjang, semuanya di waktu yang bersamaan. Jadi, kalau ada yang bilang pemerintah Jember tidak paham prioritas, mereka cuma haters yang nggak pernah hidup di Jember.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ahmad Deni Rofiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jember-daerah-yang-cocok-untuk-slow-living-di-jawa-timur\/\"><b>Unpopular Opinion: Jember Daerah yang Cocok untuk Slow Living di Jawa Timur<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah Jember jelas paham prioritas dan sengaja membuat hidup warganya kurang nyaman agar punya pengalaman hidup dan tidak cepat bosan. <\/p>\n","protected":false},"author":2812,"featured_media":307036,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1039,8794,26833,26832],"class_list":["post-307033","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-haters","tag-jember","tag-pemda-jember","tag-pemerintah-jember"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307033","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2812"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=307033"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/307033\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307036"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=307033"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=307033"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=307033"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}