{"id":30702,"date":"2020-03-19T13:23:46","date_gmt":"2020-03-19T06:23:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=30702"},"modified":"2020-03-19T13:23:46","modified_gmt":"2020-03-19T06:23:46","slug":"menyampaikan-ide-progresif-dengan-sederhana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyampaikan-ide-progresif-dengan-sederhana\/","title":{"rendered":"Menyampaikan Ide Progresif yang Ndakik-Ndakik dengan Sederhana"},"content":{"rendered":"<blockquote><p>\u201cJika Anda tidak dapat menjelaskannya ke anak berumur enam tahun, Anda sendiri belum memahaminya\u201d -Albert Einstein-<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagai orang yang sudah cukup lama aktif di gerakan progresif&#8212;alias gerakan kiri, alias gerakan yang ada marxis-marxisnya, alias SJW yang anti kapital-kapital klub&#8212;saya selalu merasa bahwa ide-ide progresif yang dibawa oleh gerakan ini butuh strategi pemasaran yang lebih baik.<\/p>\n<p>Jangankan untuk bisa dipahami oleh orang awam, sama mahasiswa yang di kelas belajar ideologi aja, orang-orang progresif ini selalu dianggap sebagai orang yang terlalu &#8220;berat&#8221; kok. Boro-boro ide progresifnya didengar, kadang, orang yang ngomongnya malah sering dijauhi dari pergaulan hanya karena mereka melihat betapa berat-beratnya buku bacaan yang sering orang progresif bawa. <em>Pancen ramashoook<\/em>.<\/p>\n<p>Halo-halo rekan-rekan sesama gerakan kiri, Anda harus resah juga ya, jangan saya saja. Soalnya, kalau gini terus, gimana coba bisa <a href=\"https:\/\/indoprogress.com\/2014\/03\/ideologi-dan-imajinasi-cita-cita-gerakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">membawa masyarakat lebih kritis dan sejahtera<\/a> kalau teman terdekat saja nggak mau dekat-dekat karena kita kalau ngomong super <em>njelimet<\/em> dan <em>ndakik-ndakik<\/em>.<\/p>\n<p>Mana kita malah bangga lagi bisa ngomong ndakik-ndakik kayak gitu. Ya emang kayak keren sih di depan umum ngomonginnya, capital flow, dependensi, hegemoni, relasi kuasa, kapitalisme, sosialisme, anarkisme, dan isme-isme lainnya. Tapi ya <em>uopo luur<\/em>, tidak memberikan dampak apa-apa buat bikin masyarakat kritis sama hidup mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Saya sendiri paham kalau kebiasaan ngomong <em>njelimet<\/em> dan <em>ndakik-ndakik <\/em>ini gara-gara kultur akademik yang kita punya. Dan kita tentu susah buat lari dari terma-terma itu karena mereka menjelaskan keadaan spesifik yang belum ada padanan katanya. Tapi sebenarnya, kita bisa juga lho menyampaikan apa yang kita pahami ini dengan bahasa yang biasa saja. Ndak usah dibikin sok keren pakai bahasa akademik. Ketidakadilan sudah di depan mata, tidak usah diperumit lagi.<\/p>\n<p>Kemarin, ketika saya diajak ke Pasar Maliing di Surabaya yang bukanya cuma malam hari itu, saya merasa ibu saya ngasih contoh gimana menyampaikan ide-ide progresif secara sederhana.\u00a0Btw itu nama pasarnya beneran Pasar Maling. Katanya disebut begitu soalnya ada banyak barang yang dijual adalah barang hasil curian. Tapi nggak semua pedagangnya jugalan yang kayak gitu sih.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Gimana kondisi pasarnya? Oh jauh dari kenyamanan. Genangan air, lumpur, kadang ada kecoa dan tikus selokan juga yang lalu lalang. Di beberapa tempat malah kita bisa mengendus langsung bau selokan. Nggak usah dibandinin sama puluhan mall megah di Surabaya yang punya penjaga 24 jam, pendingin ruangan, eskalator, lift, barang-barang bermerk terkenal dan spot-spot instagramable lah. Tapi pasar maling ini selalu ramai karena banyak barang bekas berkualitas dijual di sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di sela-sela berbelanja, ibu saya ngomong gini ke saya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cKy kalau kamu ada rejeki, mendingan kamu datang ke sini biar roda ekonomi orang-orang di sini juga berputar. Barang-barangnya juga nggak jelek dan sesuai dengan kebutuhan kita. Ngapain main ke tempat mewah, beli barang di sana dan membuat yang kaya makin kaya? Toh sudah banyak yang beli tapi pegawainya nggak sejahtera, malah yang punya toko aja yang hidup enak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Saya yang baru saja lulus ini kaget mendengarnya. Ibu saya mengerti bahwa saya lebih memahami tentang kritik terhadap kapitalisme ketimbang beliau. Tapi, dia nggak melepaskan tanggung jawabnya sebagai orang tua, mendidik saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Saya kaget, karena saya baru sadar bahwa nilai tentang keberpihakan dapat disampaikan secara sederhana. Kesadaran untuk mengerti kesejahteraan pekerja juga dapat disampaikan secara sederhana. Serta, upaya untuk memperkecil jurang ketimpangan dapat dilakukan dengan bersolidaritas.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Tidak ada kata-kata seperti <em>surplus value<\/em>, eksploitasi, ketimpangan, konsumersime, solidaritas kelas tertindas yang diucapkan oleh Ibu saya secara langsung. Akan tetapi, nilai-nilai dari semua hal tersebut sampai kepada saya. Di malam itu, saya yang \u201cterdidik\u201d ini malah berpikir keras<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cOh ternyata bisa disampaikan seperti itu ya\u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cIya juga, emang saya butuh barang-barang mahal?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cSurabaya kota terkaya di Jawa Timur, tapi masih ada orang-orang yang hidup seperti ini?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ya saya paham bahwa saya memiliki tanggung jawab moral untuk menelurkan gagasan pemberdayaan yang dapat diterapkan. Tetapi poin saya adalah, gerakan progresif memiliki pekerjaan rumah yang belum selesai: menumbuhkan empati.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Berapa orang sih yang menyalurkan dukungannya pada pada korban penggusuran, perampasan tanah petani, dan penindasan yang setiap hari dialami oleh buruh? Empati merupakan syarat utama guna menumbuhkan rasa keberpihakan dan solidaritas. Jika kita masih sering menggunakan bahasa-bahasa yang <em>ndakik-ndakik<\/em>, biar dapat predikat \u201ckeren, pinter, progresif,\u201d maka tanggalkan saja cita-cita revolusi itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/marxisme-nggak-laku-tapi-kita-harus-berharap-padanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Marxisme Nggak Laku, Tapi Kita Harus Berharap Padanya<\/a><\/strong> <strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rizky-adhyaksa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rizky Adhyaksa<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika kita masih sering menggunakan bahasa-bahasa yang ndakik-ndakik, biar dapat predikat \u201ckeren, pinter, progresif,\u201d maka tanggalkan saja cita-cita revolusi itu.<\/p>\n","protected":false},"author":514,"featured_media":30710,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5721,5722],"class_list":["post-30702","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gerakan-kiri","tag-ide-progresif"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30702","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/514"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30702"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30702\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30710"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30702"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30702"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30702"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}