{"id":306520,"date":"2024-12-03T11:00:34","date_gmt":"2024-12-03T04:00:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=306520"},"modified":"2024-12-03T10:19:42","modified_gmt":"2024-12-03T03:19:42","slug":"orang-indonesia-memang-dipaksa-nggak-suka-jalan-kaki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-indonesia-memang-dipaksa-nggak-suka-jalan-kaki\/","title":{"rendered":"Bukannya Malas, Orang Indonesia Memang \u201cDipaksa\u201d Nggak Suka Jalan Kaki"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di media sosial berseliweran hasil riset yang menunjukkan orang Indonesia malas jalan kaki. Menurut data <a href=\"https:\/\/rri.co.id\/kesehatan\/670786\/riset-menunjukan-orang-indonesia-malas-jalan-kaki\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penelitian Universitas Stanford<\/a>, Indonesia menjadi negara dengan aktivitas berjalan kaki terendah. Penelitian itu melibatkan 717.000 orang dari 111 negara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasar catatan tersebut, rata-rata orang Indonesia berjalan kaki hanya melangkah 3.513 langkah per hari. Catatan itu jauh dari rata-rata global yang mencapai 5.000 langkah. Angka ini menjadikan Indonesia berada di posisi paling bawah setelah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malaysia-hampir-lepas-dari-middle-income-trap\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malaysia<\/a> (3.963 langkah) dan Saudi Arabia (3.807).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika membaca hasil riset yang berseliweran di medsos itu, saya sontak menengok smartband yang saya gunakan. Benar saja, sehari-hari saya tidak sampai menyentuh 3.000 langkah. Satu-satunya capaian langkah saya melampau rata-rata global adalah ketika nonton konser. Di momen itu, catatan langkah kaki bisa mencapai belasan ribu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Trotoar bukan milik pejalan kaki<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut hasil riset itu, ada beberapa alasan yang membuat rata-rata berjalan kaki orang Indonesia bisa begitu rendah. Salah satunya, fasilitas trotoar yang kurang memadai dan buruknya infrastruktur transportasi umum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sepenuhnya setuju dengan alasan itu. Saya pernah merantau di Jakarta. Mobilitas saya sehari-sehari memang terbantu oleh transportasi umum yang lumayan lengkap dan terintegrasi. Namun, mengakses transportasi umum itu tidaklah mudah. Ambil contoh saya ingin ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stasiun-krl-jakarta-paling-ikonik-bisa-jadi-sarana-rekreasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">stasiun KRL<\/a> dari kosan, saya tetap akan memilih menggunakan ojek daripada jalan kaki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, bisa saja saya naik angkot atau jalan kaki menuju stasiun KRL itu. Namun, saya enggan melakukannya setiap kali melihat jalanan dan trotoar menuju stasiun KRL. Kadang saya bingung harus jalan di mana karena trotoar penuh dengan pedagang kaki lima dan motor terparkir. Saya tekankan, penuh di sini benar-benar penuh sehingga satu-satunya ruang bagi pejalan kaki hanyalah satu petak trotoar sempit. Itu pun harus berbagi dengan pejalan kaki lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Ketika pindah ke Jogja, catatan rata-rata jalan kaki saya juga tidak mengalami peningkatan. Saya lebih sering menggunakan kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari. Alasannya sederhana saja, tempat-tempat yang saya tuju sulit dijangkau oleh transportasi umum. Sudah jadi rahasia umum, transportasi publik di berbagai daerah tidak lebih\u00a0 memadai dan terintegrasi daripada Jakarta. Memang sih ada TransJogja yang sudah menjangkau jalan-jalan besar di Yogyakarta. Hanya saja, transportasi publik itu tidak memiliki bus atau kendaraan pengumpan yang memungkinkan mengjangkau area yang lebih pelosok. Intinya, menggunakan transportasi umum di Jogja bakal menguras energi dan waktu.<\/p>\n<h2><b>Jalan kaki tidak lebih aman daripada mengendarai kendaraan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang menganggap, jalan kaki jauh lebih aman daripada mengendarai kendaraan. Saya jelas tidak setuju dengan pernyataan itu. Apalagi kondisi kebanyakan trotoar di Indonesia yang bobrok. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sangat jarang ada trotoar yang mulus, kebanyakan berlubang dan tidak rata. Bahkan, kalian juga harus berhati-hati terhadap kendaraan yang melintas. Bukan tidak mungkin kalian diseruduk oleh motor ugal-ugalan yang berupaya menghindari jalan macet.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sudah capek, masih harus menghadapi catcalling<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin pengalaman mendapat catcalling ini lebih dekat kepada perempuan\u00a0 yang jalan kaki. <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-6398170\/catcalling-artinya-apa-ini-pengertian-jenis-dan-dampaknya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Catcalling<\/a> bisa terjadi di mana saja, bahkan di tengah situasi ramai dan siang terang benderang, perempuan pejalan kaki bisa mendapat perlakuan kurang menyenangkan ini. Benar-benar bikin nggak nyaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, kalian harus berebut ruang di trotoar, menghadapi pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan, masih harus menghadapi catcalling. Ya wajar saja sih kalau angka pejalan kaki di Indonesia begitu rendah. Saya sih ya mending menggunakan kendaraan pribadi atau jasa kendaraan online, nggak capek, lebih cepat, dan terkadang jauh lebih aman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Kenia Intan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-pejalan-kaki-di-jogja-begitu-menyedihkan\/\"><b>Nasib Pejalan Kaki di Jogja Begitu Menyedihkan, Dipaksa Bertarung Melawan para Perampok Trotoar<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukannya malas, orang Indonesia memang &#8220;dipaksa&#8221; nggak suka jalan kaki karena fasilitas trotoar yang buruk dan keamanan yang tidak terjamin.<\/p>\n","protected":false},"author":2401,"featured_media":306524,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[31,15868,1457,1458],"class_list":["post-306520","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-indonesia","tag-jalan-kaki","tag-pejalan-kaki","tag-trotoar"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306520","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2401"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=306520"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306520\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/306524"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=306520"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=306520"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=306520"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}