{"id":306505,"date":"2024-12-03T07:45:34","date_gmt":"2024-12-03T00:45:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=306505"},"modified":"2024-12-14T13:24:32","modified_gmt":"2024-12-14T06:24:32","slug":"jember-daerah-yang-cocok-untuk-slow-living-di-jawa-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jember-daerah-yang-cocok-untuk-slow-living-di-jawa-timur\/","title":{"rendered":"Unpopular Opinion: Jember Daerah yang Cocok untuk Slow Living di Jawa Timur"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin saya orang pertama yang menganggap Jember tempat yang cocok untuk slow living. Iya, daerah dengan julukan Kota Tembakau itu cocok untuk mereka yang menginginkan kehidupan yang tidak terburu-buru demi mencapai kepuasan hidup. Banyak orang salah kaprah menyamakan slow living dengan pemalas. Itu keliru. Slow living berarti lebih memberi fokus pada rutinitas dan hal-hal atau detail-detail kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, menurut saya, Jember adalah daerah yang cocok untuk menopang gaya hidup itu. Di bawah ini beberapa alasannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Lokasi Jember yang strategis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jember adalah salah satu kabupaten strategis di Jawa Timur. Jember terletak di antara kota-kota yang menjadi pilar industri dan wisata di Jawa Timur, yaitu Surabaya, Malang, dan Banyuwangi. Lokasi yang strategis ini memudahkan kalian untuk bepergian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat, slow living<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">bukan berarti hidup bermalas-malasan dan mendekam di satu tempat. Demi mencapai kualitas hidup yang paripurna, sesekali bepergian untuk healing juga boleh kok.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Transportasi Jember memadai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jember mudah dijangkau dengan berbagai transportasi. Mau ke Jember lewat darat, kalian bisa menggunakan bus maupun kereta api. Kebetulan kabupaten ini terhubung oleh jaringan kereta api yang ada di Pulau Jawa. Naik bus juga bukan perkara sulit, jalanan menuju Kota Tembakau ini sudah mulus.\u00a0 Mengakses Kota Tembakau lewat udara juga tidak mustahil. Di Jember ada Bandara Notohadinegoro. Bandara ini melayani penerbangan domestik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mobilitas di dalam kota, Jember punya Terminal Tawang Alun yang bisa diandalkan. Ada bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), bus AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi), bus Trans Jember, dan angkot (angkutan kota). Kalian ingin berkendara dengan jasa kendaraan online? Di Jember sudah ada Gojek dan Grab juga, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Biaya hidup murah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Slow living bukan berarti seseorang menjalani frugal living. Namun, apapun gaya hidup kalian, tidak ada salahnya untuk memilih daerah dengan biaya hidup yang ramah di kantong. Nah, Jember adalah salah satu daerah yang masuk dalam daftar itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, selain transportasi yang murah, makanan di jember juga murah meriah. Dengan uang Rp5.000 sudah dapat nasi pecel\/nasi jagung\/nasi kuning\/nasi campur. Bahkan, dengan uang Rp3.000 sudah bisa menikmati segarnya soto bening. Beneran? Bener Mat<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Coba browsing<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Warung Soto Bening Mbah Kromo, semangkuk soto harganya mulai dari Rp3.000-an.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara soal kuliner, Jember tidak kalah dibanding daerah lain. Mulai dari yang otentik seperti Pecel Lumintu dan berbagai makanan legendaris lain hingga kafe-kafe estetik juga banyak. Bukankah slow living<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">makin nikmat jika makanannya enak?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Wisata jangan ditanya!\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jember punya keindahan alam yang memukau dan asri. Menurut saya inilah yang paling membuat saya bilang \u201cJember tempat yang cocok untuk <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">slow living<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d. Alam yang hijau dan udara yang segar menciptakan suasana yang tenang dan damai, lingkungan ini saya temui di kawasan Kebun Teh Gunung Gambir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau pengen yang hijau-hijau dan ada airnya bisa ke Air Terjun Tancak. Terus kalau saya ingin mendinginkan pikiran dan menikmati waktu yang berkualitas saya pergi ke tepi laut. Alternatifnya banyak banget, bisa ke Teluk Love, Pantai Pancer, Pantai Payangan, Pantai Watu Ulo, dan Pantai Papuma. Bohhhh<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">senja di Pantai Papuma ini nih yang indahnya kayak apotek tutup, nggak ada obat. Konon Pantai Papuma dijuluki Raja Ampatnya Jember.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Jember yang masih kental akan budaya\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jember menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang paling getol menyelenggarakan kegiatan budaya. Kalian pernah dengar <\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jember_Fashion_Carnaval\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jember Fashion Carnaval <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">(JFC)? Agenda ikonik ini menggabungkan antara fesyen dengan kegiatan seni budaya lain. Bahkan, JFC masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara 2024, dilansir dari laman resmi Kemenparekraf (<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/kemenparekraf.go.id\/<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">)<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain JFC, ada pula Festival Parade Pegon yang dirayakan di Pantai Watu Ulo. Masih banyak banget festival-festival seru yang bisa dihadiri untuk mengenal budaya sambil hidup <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slow living.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal budaya, sebenarnya Kota Tembakau ini sangat kaya dan menarik untuk dikulik. Misal, budaya Pandhalungan yang merupakan percampuran antara Jawa dan Madura. Meskipun kaya akan akulturasi budaya, interaksi sosial masyarakat setempat sangat hangat dan menarik untuk dikulik. Lama-lama bikin betah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa\u00a0 poin ini sudah cukup menjelaskan Jember tempat yang cocok untuk slow living. Segelintir orang di luar sana saya rasa juga merasakan apa yang saya rasakan. Saya pun yakin banyak warlok (warga lokal) yang sekarang sedang merantau di dalam hatinya tetap rindu Jember dan ingin kembali untuk <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">slow living <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di usia senjanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mulia Annisa Rahma<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-papuma-indah-tapi-orang-jember-malas-ke-sana\/\">Pantai Papuma Memang Indah, tapi Orang Jember Malas Berwisata ke Sana<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jember daerah di Jawa Timur yang cocok untuk slow living. Aksesnya mudah, biaya hidup murah, serta banyak wisata dan kebudayaan dikulik. <\/p>\n","protected":false},"author":2808,"featured_media":306507,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2501,8794,23282,20024],"class_list":["post-306505","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa-timur","tag-jember","tag-slow-living","tag-wisata-jember"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2808"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=306505"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306505\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/306507"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=306505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=306505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=306505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}