{"id":306309,"date":"2024-11-30T13:51:13","date_gmt":"2024-11-30T06:51:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=306309"},"modified":"2024-11-30T13:51:13","modified_gmt":"2024-11-30T06:51:13","slug":"panduan-a-z-sederhana-memahami-apa-itu-ppn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-a-z-sederhana-memahami-apa-itu-ppn\/","title":{"rendered":"Panduan A-Z Sederhana Memahami Apa itu PPN dan Dampak Kenaikannya bagi Rakyat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">PPN, tiga huruf yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan, ada yang pro dan ada yang kontra. Meski ada juga yang diam saja, karena mungkin lebih sibuk menghitung sisa saldo di rekening. Kalau PPN ini orang, mungkin sudah menerima endorse sana-sini, tapi persoalannya dia kan bukan manusia. Dia adalah kebijakan pajak yang akan diberlakukan oleh Pemerintah terhitung mulai Januari tahun 2025.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah persoalannya, Kenaikan PPN ini meski ramai dibicarakan, tapi hanya terbatas oleh kalangan yang terdidik dan kalangan kelas menengah. Sementara itu, mereka yang grass root, banyak yang nggak peduli, acuh tak acuh, dan mungkin malah nggak paham soal PPN. Padahal pemberlakuan PPN punya efek pengganda yang bisa memengaruhi kenaikan harga-harga barang dan jasa, baik secara spontan maupun gradual. Maka dari itu, perihal PPN ini tidak boleh hanya terbatas dipahami oleh kalangan terdidik atau kelas menengah, tapi harus seluruh kalangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah mari kita bedah PPN ini secara lebih sederhana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa itu PPN?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan terhadap setiap aktivitas konsumsi barang atau jasa di sebuah negara. Jadi setiap kita belanja, ada penambahan pajak yang dihitung dari sekian persen atas harga barang atau jasanya. Nah kalau konteksnya di Indonesia, PPN-nya akan jadi 12 persen. Jadi misal kalau kita beli kopi americano di caf\u00e9 seharga Rp20 ribu, akan dikenakan pajak sebesar 12 persen, artinya Rp20 ribu + 12 persen = Rp22 ribuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas, kenaikan PPN dari 11 persen ke 12 persen ini terlihat kecil. Ah cuma nambah bayar Rp2 ribuan untuk americano mah sepele lah. Tapi kalau beli mobil atau motor bagaimana? PPN ini amat sangat terasa bagi konsumen. Motor yang harganya Rp20 juta, yang dibayar jadinya Rp22,2 juta. Ada tambahan 2 jutaan. Kalau mobil yang harganya ratusan juta, PPN-nya menyentuh puluhan juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">PPN ini memang jadi pajak yang umum diberlakukan di banyak negara. Perbedaannya hanya dari segi persentase yang dikenakan dari tiap barang atau jasa yang dikonsumsi masyarakat. Indonesia sendiri jadi negara dengan tarif PPN tertinggi di ASEAN bersamaan dengan Filipina. Sementara yang terendah adalah Brunei Darussalam yang PPN-nya 0 persen. Negara yang PPN-nya tinggi biasanya negara yang pertumbuhan ekonominya bergantung dengan konsumsi masyarakatnya. Makin banyak konsumsi terjadi, pertumbuhan ekonomi makin tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa saja Barang atau Jasa yang Terkena PPN?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mengacu UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, kemudian telah beberapa kali diubah, terakhir menjadi UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), PPN dikenakan untuk barang dan jasa tertentu yang disebut Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP). Namun, tidak semua barang atau jasa dikenakan PPN, karena ada barang\/jasa yang dikecualikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama Barang Kena Pajak (BKP), yaitu barang berwujud atau tidak berwujud yang dikonsumsi di dalam negeri. Contoh barang yang terkena PPN adalah:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Barang Berwujud:<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Barang kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan minuman kemasan (misalnya, air mineral botol, makanan ringan, dll)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Barang elektronik (seperti TV, kulkas, mesin cuci, smartphone).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kendaraan bermotor (motor, mobil).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pakaian jadi (termasuk impor pakaian dari luar negeri).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Perabotan rumah tangga (seperti sofa, meja, kursi).<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Barang Tidak Berwujud:<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Hak atas kekayaan intelektual (misalnya, lisensi perangkat lunak).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Penyewaan barang tidak berwujud (seperti hak siar).<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua adalah Jasa Kena Pajak (JKP). Contoh JKP meliputi:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa Umum:<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa periklanan (baik online maupun konvensional)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa persewaan (seperti sewa gedung, kendaraan, atau peralatan)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa pengiriman (seperti kurir atau ekspedisi)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa konstruksi (seperti pembangunan gedung atau infrastruktur)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa telekomunikasi (seperti langganan internet dan telepon)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa Profesional:<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa konsultan (seperti konsultan hukum, pajak, atau bisnis)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa akuntansi<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa arsitektur dan desain interior<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa Hiburan dan Teknologi:<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa aplikasi digital (seperti langganan streaming musik dan video)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa pengembangan perangkat lunak<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><b>Ada nggak sih barang atau jasa yang nggak kena PPN? Ada kok!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, ada beberapa jenis barang dan jasa yang dikecualikan dari pengenaan PPN untuk melindungi masyarakat umum atau kepentingan strategis nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barang yang Tidak Dikenakan PPN:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Barang kebutuhan pokok (beras, jagung, sagu, susu, telur, garam, daging segar, dll)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Barang hasil pertambangan atau pengeboran yang belum diolah (minyak mentah, gas bumi, batu bara sebelum diolah, dll)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Emas batangan<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Surat berharga, termasuk uang dan dokumen berharga lainnya<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa yang Tidak Dikenakan PPN:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa kesehatan (pelayanan medis oleh dokter, rumah sakit, puskesmas, dll.)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa pendidikan (sekolah, kursus, pelatihan resmi)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa keuangan (layanan perbankan, asuransi, pasar modal)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa transportasi umum darat, laut, dan udara dalam negeri<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa tenaga kerja (outsourcing, perekrutan tenaga kerja)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa keagamaan (misalnya, ibadah haji, pemakaman)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada barang atau jasa yang dibebaskan dari pajak PPN yaitu barang strategis seperti pupuk, bibit tanaman, pakan ternak, dan alat-alat pertanian. Kemudian ada barang ekspor (untuk mendorong daya saing internasional), dan jasa ekspor.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa PPN Harus Naik?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenaikan PPN memang ini telah tertuang dalam <a href=\"https:\/\/jdih.kemenkeu.go.id\/in\/dokumen\/peraturan\/1261ff41-c359-4b2c-7596-08d99eb1213d\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP)<\/a>. Kenapa ada UU ini, tentu pemerintah punya alasannya, meski yah alasannya ini menurut banyak yang kontra kurang partisipatif karena tanpa kajian mendalam, baik terutama tentang ekonomi-sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalih pemerintah pertama tentu untuk meningkatkan penerimaan negara. Negara Indonesia ini kebanyakan utang, jadi daripada hutangnya naik terus, karena peninggalan utang pemerintah sebelumnya kan cukup tinggi tuh, jadi ya berdikari dengan malak uang rakyat aja. Kedua mendorong perluasan rasio penerimaan pajak. Meski ini agak aneh, karena harusnya yang dibenahi itu birokrasi pajaknya, bukan malah dinaikan tarif pajaknya. Ketiga, pemulihan pasca pandemi yang menelan APBN cukup banyak, terutama untuk program ekonomi nasional.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa dampaknya ke masyarakat?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana yang saya sebut di awal, kenaikan PPN ini punya efek pengganda bagi harga-harga barang dan jasa secara agregat. Mungkin di sektor informal, barang dan jasanya tidak terkena PPN, tapi secara tidak langsung, efeknya akan tetap terasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin di pasar tradisional atau warkop-warkop sederhana, kita tidak dikenakan PPN, tapi makanan (kemasan) yang mereka beli dari produsen besar, sudah pasti terkena PPN, sehingga mereka akan menyesuaikan harga jual mereka ke konsumen. Belum lagi dihitung bahan baku pembuatannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ilustrasinya kita lihat ke penjual gorengan. Memang ketika kita membeli gorengan, struknya nggak ada penambahan biaya PPN. Tapi, harga minyak gorengan dan tepung terigu yang dipakai oleh si penjual gorengan kena PPN. Kedua barang tersebut bukan termasuk kategori barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan masyarakat menurut Pasal 4A ayat (2) UU PPN. Otomatis penjual gorengan bisa jadi menyesuaikan harganya, ukurannya diperkecil, atau minyaknya bisa jadi dipakai berkali-kali biar biaya produksinya tidak makin melebar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelas menengah bawah akan makin sulit menjangkau barang yang berkualitas bagus. Lah wong harga normal saja nggak bisa mereka jangkau. Akhirnya mereka terus-terusan rela memperoleh barang dengan kualitas rendah. Misalnya minyak goreng. Mereka nyari yang curah lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelas menengah, akan makin selektif dalam berbelanja. Kelas menengah yang jadi tenaga buruh di pabrik-pabrik yang produksi barangnya terkena PPN berpotensi terkena PHK karena pabriknya harus menghemat biaya produksi karena bahan bakunya naik semua.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Apakah setimpal?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di media sosial, terutama di X, bagi mereka yang pro dengan kenaikan PPN ini, menganggap bahwa hal ini wajar toh akan kembali ke masyarakat dalam bentuk peningkatan fasilitas publik. Sama halnya yang diberlakukan di negara nordik, seperti Swedia, Norwegia, dan Finlandia. Di sana pemberlakukan PPN bisa lebih dari 20 persen, bahkan pajak pendapatan saja bisa 60 persen. Tapi semuanya setimpal dengan segala fasilitas publik yang hampir semuanya gratis dan mudah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan di Indonesia sendiri, korupsi aja masih sering terjadi, birokrasi yang ruwet dan serba ada pelicin, jasa konsultan pajak untuk memanipulasi setoran pajak masih menjamur, kemudian pemerintah aja takut-takut memajaki orang kaya. Selama di Indonesia masih menganggap orang jujur sebagai sosok mulia dan bukan sebuah standar dasar moral manusia, ya keknya sulit deh berharap punya gambaran fasilitas publik gratis kayak di negara-negara Nordik dari hasil pajak rakyat.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-motor-terbaik-yang-pernah-honda-produksi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Motor Terbaik yang Pernah Honda Produksi, yang Jelas Nggak Ada Vario 160!<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nah mari kita bedah PPN ini secara lebih sederhana. Biar tak hanya kelas menengah dan atas saja yang paham, grass root juga wajib paham!<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":304717,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[26782,7427,17625,11870],"class_list":["post-306309","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-nordik","tag-pajak","tag-penjelasan","tag-ppn"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306309","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=306309"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306309\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/304717"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=306309"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=306309"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=306309"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}